kop

Iklan Halaman Depan

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan.

Peranan Politik Sultan Mardan Ali di Kesultanan Buton (Bagian 3)

Pulau Sagori (kini wilayah Bombana) yang banyak menyimpan cerita zaman Kesultanan Buton

BUTONMAGZ---Tulisan ini disadur dari Jurnal Ilmiah berjudul ‘Peranan Sultan Mardan Ali di Kesultanan Buton: 1647-1657M, yang ditulis Asniati, Syahrun, La Ode Marhini dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari. Pada bagian ke-3 ini, mengisahkan peran politik dari sosok Sultan Mardan Ali. Berikut kisahnya;

Hubungan Buton dengan Belanda kurang baik sejak Sultan Mardan Ali menjabat sebagai Kapitalau panglima wilayah Timur Kesultanan Buton. Hal itu disebabkan karena kapal-kapal Belanda sering mengunjungi Buton sehingga Buton berada dalam cengkraman politik Belanda.

Menurut La Niampe (2019), Belanda tidak dapat diberi hati oleh Buton yang menyebabkan keretakan hubungan Buton-VOC yaitu peristiwa penyerangan kapal VOC bernama “Batavia” pada 30 Maret 1634. Peristiwa penyerangan itu dilakukan oleh dua ratus sampai tiga ratus orang Makassar di pelabuhan Baubau.

Kemudian perampokan dan pembunuhan awak perahu (fluit) Velzean pada Januari 1635 yang terdampar di Pulau Wawonii (dibagian utara pulau Buton) dalam Tahun 1636 sebuah kapal Belanda bernama (jacht) Sasker Douwensen milik VOC dirampok dan dibakar di pelabuhan Buton.

Pemilik kapal beserta 6 orang dan penduduk lainnya dibunuh berdasarkan perintah Sultan. Hal tersebut menyebabkan keretakan hubungan Buton dengan VOC.

Pada awal Januari, Van Diemen menjadi Gubernur jenderal berusaha secara pribadi memecahkan masalah-masalah yang dialami VOC di Maluku dan Makassar.

Dalam perjalanannya dari Maluku-Makassar, pada bulan Juni 1637 Van Diemen mampir di Buton. Kedua belah pihak bersikap berhati-hati sehingga tidak terjadi pertemuan pribadi antara Van Diemen dan Sultan.

Melalui para utusannya, Sultan mendapat pemberitahuan bahwa utusan Belanda ingin mengadakan perdamaian, asal masalah-masalah yang lalu tidak dibicarakan lagi. Namun Van Diemen minta agar semua barang yang dirampok dan dirusak sewaktu penyerangan, juga barang warga sipil yang telah dibunuh, diberi ganti rugi serta senjata-senjata yang dirampok.

Gubernur Jenderal Van Diemen mengunjungi Buton dengan angkatan lautnya dan menyatakan pada Sultan untuk menghentikan pembajakan kapa-kapal Belanda, karena kapal yang dibajak itu adalah kapal-kapal dagang yang harus dilindunggi.

VOC menemui sekutunya Sultan Mandarsyah (Sultan Ternate) untuk menjadi penengah dalam penyelesaian permasalahannya dengan Buton, maka Sultan Mandarsyah mengusulkan agar penyelesaian permasalahan ini ditempuh secara damai. Usul ini pun akhirnya diterima oleh kedua pihak (Buton dan VOC. (La Niampe, wawancara 5 Februari 2019).

Pada pertengahan tahun 1646, Mardan Ali datang ke Ternate memohon kepada Sultan Hamzia agar mau menjadi perantara dengan VOC untuk mengadakan perdamaian. VOC memberitahu untuk hal itu kami bersedia, asal saja untuk barang-barang warga kami dan meriam-meriam yang telah dirampok, diberi ganti kerugian.

Menurut Zahari, Maran Ali atau La Cila telah mengadakan persetujuan baru dengan VOC yang dikenal Buton sebagai persekutuan Ketiga Janji taluanguna dan keempat Janji pataanguna.

Isi perjanjian tersebut yaitu perjanjian La Cila Kapitaraja dari Buton dengan Kompeni Belanda di Amboina setelah Kompeni memenangkan perangnya dengan Inggris, Spanyol dan Protugis.

Penandatanganan yang tiga antara Buton dengan Kompeni Belanda berlangsung yang dilakukan oleh La Cila saat menjabat sebagai Kapitaraja Komandan Tentara Buton dengan Kompeni Belanda sesudah Kompeni mengalakan lawan-lawannya di Amboina (Ambon). Perjanjian ini turut pula disaksikan oleh La Balawa Saudara La Cila yang diperkirakan peristiwa ini terjadi dalam tahun 1643-1644 di masa pemerintahan Sultan Buton ke-6 (Zuhdi, 2010: 201)

Pada bulan Maret 1650, 3 tahun setelah menjalankan pemerintahan Sultan Mardan Ali mendapat berita bahwa telah terjadi peristiwa terdamparnya kapal VOC yang sementara dalam pelayaran menuju Ternate karam di Sagori dekat kabaena. Armada Kapal yang mengalami musibah tersebut terdiri dari 5 buah kapal masing-masing yaitu:

• De ijger (Kapal jelajah berat tipe retourschip kapsitas 1.000 ton)
• De Joffer (Kapal jelajah menenga tipe fluyt kapasitas 480 ton)
• Luijpaert (Kapal jelajah ringan tipe yachta kapasitas 320 ton)
• Bergen Op Zoom (Kapal jelajah ringan yacht kapasitas 300 ton)
• Aechtekercke (Kapal jelajah cepat tipe yacht kapasitas 100 ton)

Kelima kapal yang kandas itu memuat serdadu, perbekalan dan perlengkapan (senapan, meriam). Barang-barang dan penumpang kapal yang berjumlah 581 orang dapat tertolong.

Sebagian dari barang-barang itu dimuat kembali dalam kapal “Concordia” yang menyusul dari belakang dengan tujuan ke Ternate, sedang sisa barang beserta awak dan penumpang yang berjumlah 581 orang ditinggalkan untuk sementara di Buton (Kabaena).

Para pejabat tinggi Kesultanan menganjurkan kepada Sultan Mardan Ali agar orang-orang Belanda itu dibunuh saja dan barang-barangnya diambil sebagai hasil “Rampe”, akan tetapi Sultan tidak menuruti nasehat mereka, dan sebaliknya memberikan pertolongan kepada pelaut VOC yang karam itu sebab mengingat adanya suatu perjanjian untuk menolong siapa saja yang mendapat kecelakaan dilaut. Peristiwa itu dikenal dalam sejarah Buton sebagai “Kapala Yi Sagori”. (zah)

Baca sebelumnya:
Mengenal Pribadi Sultan Mardan Ali. Sultan Buton yang dihukum Mati (Bagian 1)
Mengenal Pribadi Sultan Mardan Ali. Sultan Buton yang dihukum Mati (Bagian 2)

Posting Komentar

0 Komentar


Memuat...