kop

Iklan Halaman Depan

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan.

DI MAKAM OPUTA YI MUNARA



OPUTA YI MUNARA bernama sebenarnya La Ode Muhammad Salihi. Beliau adalah putera Sultan Muhammad Idrus Qaimuddin--La kabumbu--Mokobhaadiana, Sultan Buton ke-29.

Ia bersaudara dengan Oputa Yi Tanga La Ode Muhammad Isa, Sultan Buton ke-30 yang menjabat dalam tahun 1850--1871

Oputa Yi Munara menggantikan saudaranya Oputa Yi Tanga naik menjadi Sultan Buton ke-31, 1871--1886.

Oputa Yi Munara dikenal sebagai syeh atau mahaguru dari seni beladiri khas Buton yang dinamai Balaba, beliaulah yang paling mula mengembangkan dan mengajarkan seni beladiri itu

Anaknya dari penikahannya dengan Wa Ode Ogo puteri Raja Wuna La Ode Bulae Sangia Lagadha bin La Ode Saete kelak menjadi raja di Wuna.


La Ode Ahmad Maktubu adalah anak Oputa Yi Munara dengan Wa Ode Ogo itu, ketika masih menjabat Lakina Bola di Batauga telah ia disiapkan menjadi Raja Wuna.

1905, Sebuah pertemuan darurat kemudian diinisiasi oleh kedua pihak, dari Sarano Wuna dan Kesultanan Buton.

Bertemulah semua mereka di Gu-Lakudo. Sekalipun agak alot Pertemuan itu akhirnya mencapai mufakat dengan konklusi: mengangkat La Ode Ahmad Maktubu putra La Ode Muhammad Salihi Sultan Buton ke-31 sebagai raja Wuna ke-23.

Dari Gu- Lakudo, La Ode Ahmad Maktubu dengan dikawal Sarano Wuna dan beberapa pembesar dari Kesultanan Buton berangkat ke Wuna untuk ia dilantik dan diambil sumpah sebagai raja Wuna.

La Ode Ahmad Maktubu memangku jabatan raja Wuna dalam waktu tujuh tahun lamanya 1905--1912. Setelah wafatnya, ia digelar  sebagai Omputo Milano We Kaleleha.

Anaknya, La Ode Muhammad Syafiiul Anami menjadi suksesor yang meneruskan jabatannya sebagai raja di Wuna. Ia naik tahta 1912--1924.


Tahun 1922, Syafiiul Anami diangkat juga sebagai sultan di Buton dalam gelar Sultan Syafiiul Anaami Qaimuddin Khalifatul Khamis. Dengan begitu jabatan Raja Wuna dan Sultan Buton dirangkapnya sekaligus.

Sultan Syafiiul Anaami wafat di Waara dalam distrik Gu pada sebuah insiden penembakan dengan kepala Distrik Gu. Insiden itu terjadi pada 24 Agustus 1924. Dinamailah beliau sejak itu: Omputo Milano Se Waara. (La Yusrie)

Posting Komentar

0 Komentar


Memuat...