kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Syekh Yusuf: Pejuang Dua Negeri Asia Afrika

lukisan foto : Syekh Yusuf Al-Makassari

BUTONMAGZ--Konferensi Asia Afrika merupakan salah satu onferensi penting bagi  negara-negara  tertindas saat  itu.  Konferensi  yang  diadakan  di Bandung pada tanggal 14-26 Agustus 1955  dan  menghasilkan  kesepakatan Dasasila Bandung/Bandung Spirit telah   menginspirasi   Bangsa-bangsa Asia Afrika untuk merdeka, lepas dari penjajahan. Namun, Tiga abad sebelum itu telah ada  seorang  pejuang  asal  Indonesia yang berjuang untuk melepaskan bangsa di Asia maupun di Afrika untuk merdeka. Ia adalah Syekh Yusuf al-Taj Khalwati al-Makassari yang dikenal dengan nama ‘Syekh Yusuf Makasar’. 

Butonmagz, memperoleh data ini dari Majalah Arsip Nasional RI (ANRI) edisi Desember 2014 seri nilai-nilai kepahlawanan. Berikut jalan kisahnya.


SEKILAS SYEKH YUSUF
Beliau lahir dari pasangan Abdullah dan Aminah  putri  Gallarang Moncong Loe. Saat lahir ia diberi nama  Muhammad  Yusuf  oleh  Sultan Alaudin Raja Gowa, yang juga kerabat ibunya. Sejak  muda  ia sudah  haus ilmu, awalnya   beliau   berguru   pada Daeng  ri  Tasammang  hingga  khatam al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan  Sayyid  Ba’Alwy bin Abdullah al-Allamah  Thahir  di  Bontoala  yang saat   itu   menjadi   pusat   pendidikan islam  tahun  1634.  

Setelah  itu,  beliau kemudian  belajar  pada  ulama  Aceh yang datang ke Makassar, yaitu Syekh Jalaluddin al-Aidit. Walaupun hidup di lingkungan istana,  namun semangat ntuk menuntut ilmu sangatlah  tinggi. Beliau kemudian  menuntut  ilmu  ke Timur  Tengah.  Namun,  sebelum  ke Mekkah, beliau sempat singgah di Banten  .  

Disini dia berkenalan dan bersahabat dengan Pangeran Surya anak dari Sultan Mufahir Mahmud Abdul Kadir (1598-1650). Dari Banten, ia kemudian berangkat ke Aceh dan  berguru pada  Syekh  Nuruddin Ar-Raniri dan  mendapatkan  ijazah tarekat Qadiriyah. Lalu  melanjutkan perjalanannya ke Timur Tengah untuk berguru dengan ulama disana.

Tercatat beberapa    ulama    pernah    menjadi gurunya,   yaitu   daerah   yang   beliau datangi,   antara   lain   Sayed   Syekh Abi  Abdullah  Muhammad  Abdul  Baqi bin  Syekh  al-Kabir  Mazjaji  al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandy di Yaman, untuk tarekat   Naqsayabandiyah, Syekh Maulana  Sayed  Ali  al-Baalawiyah  di kota Zubaid untuk tarekat Baalawiyah, Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi  al-Kaurani di  Madinah  untuk tarekat Syattariyah, dan Syekh Abu al-Barakat  Ayyub  bin  Ahmad  bin  Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi di Damaskus disini beliau diberi gelar  Tajul Khalwati Hadiyatullah.

Selain tarekat-tarekat tersebut di atas, beliau juga mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syaziliyah, Hasytiah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah,  Madariyah, Makhduniyah. 

Patung Syekh Yusuf Di Afrika Selatan

PERJUANGAN SYEKH YUSUF
Setelah pencaian  ilmunya dianggap selesai, maka beliau memutuskan untuk kembali ke Makassar,   pada usia  38  tahun. Namun  beliau  tidak menyangka, ternyata  kerajaan Gowa sudah hancur pasca kalah dari Belanda. Bahkan  usaha  menasehati pihak   kesultanan   pun   tak   berhasil.  Syekh Yusuf akhirnya  hijrah ke Banten yang   memang  sejak dari Mekkah Sultan Banten telah memintanya untuk datang kesana.

Di Banten
Di Banten ia diangkat sebagai mufti Kesultanan  Banten  oleh  sahabatnya Pangeran  Surya  yang  saat  ini  telah menjadi  Sultan  Banten  dengan  nama Sultan   Abdul   Fattah   yang   dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa.

Ia kemudian dinikahkan dengan Putri Sultan  Ageng Tirtayasa   yang bernama  Siti  Syarifah.  Hal  tersebut memudahkan   Syekh   Yusuf   dalam berdakwah.    Murid    beliau    banyak tersebar  sampai  pelosok-pelosok  luar Banten. Beliau juga menjadi pengayom bagi  masyarakat  Makassar  yang  lari karena   kecewa   terhadap   perjanjian Bongaya.

Pada awal tahun 1682 saat Sultan Haji  datang,  Banten  pun  bergejolak. Hal ini terjadi karena Sultan Haji adalah  putra    mahkota yang    dipengaruhi Belanda. Belanda   melakukan   aksi  devide et   impera   karena   selama ini,  serangan  milter  Belanda  selalu digagalkan oleh Pangeran Purbaya.

Sultan  Haji  selalu  mendapat  bantuan   Belanda dari Batavia.   Hingga akhirnya pada Desember  1682 Keraton Tirtayasa  tidak  dapat  terselamatkan dan  ditinggalkan.  Pasukan  Tirtayasa menggunakan taktik  perang  gerilya. Namun,  pada  14  Maret  1683  Sultan Ageng   Tirtayasa   menyerahkan   diri ke  keraton  Surosowan  dan  ditangkap Belanda kemudian dibawa ke Batavia dan wafat disana.

Perang   Gerilya   pun   dilanjutkan Syekh    Yusuf,    Pangeran    Purbaya dan  Pangeran  Kidul  yang  memimpin 5000  pasukan  termasuk  1000  laskar Makassar,  Bugis dan Melayu. Syekh Yusuf  bergerak  ke  arah  timur  sampai Padalarang   lalu   berbelok   ke   arah pesisir  selatan,  sampai  daerah  desa Karang,  di  sana  beliau  bertemu  dan dibantu   oleh   Syekh   Abdul   Muhyi (Hadjee   Karang)   Pamijahan dan laskarnya.

Setelah melakukan perang gerilya selama dua  tahun   lamanya akhirnya    Syekh    Yusuf    ditangkap dengan    kondisi    seluruh    pengikut-pengikutnya dipulangkan ke kampung halamannya   masing-masing kecuali 49 orang yang harus turut serta, yaitu 2 orang istri, 2 abdi istri, 12 santri dan putra-putri,   sahabat   dan   para   abdi dalem.

Di Sri Lanka
Belanda     kemudian     membawa rombongan  Syekh  Yusuf  ke  Batavia.  Namun,  melihat  besarnya  kharisma Syekh  Yusuf  maka  ada  kekhawatiran dari  pihak  Belanda,  dan  ditambahkan kerajaan Bone di bawah impinan Aru  Palaka  (Raja  Bone  ke-15  yang ada  hubungan  kekerabatan)  sedang melakukan perlawanan. Maka Belanda memutuskan    untuk    mengasingkan Syekh Yusuf beserta rombongan pada tanggal 12 September 1684 ke wilayah Sri Lanka.

Dalam  waktu  singkat  nama  beliau dikenal di sana. Selama disana beliau gunakan   untuk   beramal,   mengajar dan  menulis  risalah,  banyak  murid-muridnya yang berasal dari Hindustan (India)   dan   Srilanka   sendiri.   Dan membawa   namanya   termasyhur   di India.    



 

Raja    Hindustan    Aurangzeb Alamgir (1659-1707) pernah menyurati wakil pemerintah Belanda di Srilanka, supaya    kehormatan    pribadi    Tuan Syekh  itu  dipelihara,  karena  jika  tuan itu   diganggu   akan   menggelisahkan umat Islam Hindustan.

Strategi perjuangannya pun  berubah  dari  perang  fisik menjadi semangat keagamaan    dan semangat   perjuangan.   Jemaah   haji dari    Indonesia    sekembalinya    dari Mekah  biasanya  singgah  di Ceylon (Sri  Lanka)  untuk  menunggu  musim barat  selama  satu  sampai  tiga  bulan.

Dalam kesempatan inilah jemaah haji belajar kepada Syekh Yusuf. Selain itu juga  disisipkan  pesan-pesan  Politik, agar  tetap  mengadakan  perlawanan terhadap  Belanda  dan  juga  pesan-pesan agama supaya tetap bepegang teguh pada jalan Allah.

Di Afrika Selatan
Surat-surat   kepada   raja   Banten dan  Makassar  ternyata  tercium  oleh pemerintah     Belanda     di     Batavia. Risalah   tersebut   dianggap   pemicu pemberontakan  rakyat  di  Banten  dan raja  Gowa  ke-19.  Surat  atau  risalah yang  menggunakan  nama  samaran tersebut, di Makassar dikenal dengan nama “Kittakna Tuan LoEta (kitab tuan LoE ku) atau Pasanna Tuanta (pesan tuanku)”,  sedangkan    di    Banten disebut Ngelmu Aji Karang atau Tuan She.    

Akhirnya diputuskan  Syekh Yusuf  dan  49  rombongannya  untuk dipindahkan   dari   Ceylon   ke   Kaap (Afrika Selatan). Pemindahan tersebut dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 1693 dengan   menaiki   kapal   “Voetboeg”.

Syekh  Yusuf  dan  rombongan  sampai di  pantai  Afrika  pada  tanggal  2  April 1694,  selama  delapan  bulan  23  hari perjalanan. Namun demikian, semangat perjuangannya  tidak  pernah  padam oleh  ruang  dan  waktu  beliau  tetap mengobarkan semangat warga Afrika  Selatan   untuk   merdeka   dan membentuk komunitas muslim disana yang memang menjadi daerah buangan  politik.  Tempat  itu  sekarang dikenal dengan Macassar Faure.

Syekh    Yusuf    meninggal    pada tanggal  23  Mei  1699  pada  usia  73 tahun setelah 5 tahun di Afrika Selatan dimakamkan   di   daerah   Faure   dan pada  tanggal  5  April  1705  kerangka dan keluarga Syekh Yusuf dipulangkan dan tiba di Makassar.

Ia dimakamkan di Lakiung pada hari Selasa tanggal 6 April 1705 / 12 Zulhidjah 1116 H. Negosiasi   pemulangan   jenazah Syekh Yusuf yang dilakukan oleh Raja Gowa,   Sultan   Abdul   Jalil,   berhasil enam tahun kemudian, tepatnya tahun 1705.

Hal itu pun terdapat syarat yang harus  dipenuhi:  yang  bisa  kembali  ke Nusantara adalah anak-anaknya yang berusia lima tahun ke bawah. Dalam   perjalanan pulang   itulah, jenazah Syekh Yusuf sempat disinggahkan   di beberapa tempat, seperti  Sri  Lanka,  Banten,  Sumenep (Madura),     terakhir di  Makassar.

Oleh  sebab  itu,  banyak  orang  yang mengatakan   bahwa   makam   Syekh Yusuf  ada  dimana  mana. Makam  Syekh  Yusuf,  saat ini   lebih   dikenal   dengan nama     Ko’bang,     berada di    Jalan    Syekh Yusuf, perbatasan Gowa dan Makassar.

GELAR PAHLAWAN
Setelah tiga abad Syekh  Yusuf  tiada,  akhirnya beliau  mendapat  dua  gelar pahlawan nasional dari dua  Negara  yaitu  Indonesia pada 9  November    1996 dan   dari   pemerintah  Afrika Selatan  pada  23  September 2005.

Daerah tempat tinggal  Syekh  Yusuf  di  Cape Town diberi   nama   sebagai kawasan    ‘Macassar’  untuk menghormati  tempat  asalnya. Bahkan, Nelson  Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.    

Bagi warga Cape Town, Syekh  Yusuf  dikenal  sebagai sosok  yang  membangun komunitas Muslim  di  negara  itu.  Dia  tidak  hanya diakui sebagai ulama,   namun   juga pejuang   bagi   rakyat  Afrika   Selatan karena  menentang  penindasan  dan perbedaan warna kulit (apartheid). Hingga  akhir  hayatnya,  menurut Nabilah   Lubis  dalam   buku   Syekh Yusuf   al-Taj   Khalwati   al-Makassari menemukan    sedikitnya    25    kitab karangannya  yang  di  tulis  pada  era Banten  dan Ceylon.  

Ia  juga  dikenal sebagai pendiri ajaran tarekat khalwatiyah. Kemudian, Di  tengah  arus  globalisasi  yang melanda  bangsa     ini, semangat-semangat kearifan, keteladanan kepahlawanan   dan   karakter   Syekh Yusuf yang haus ilmu, pantang menyerah dan berjuang  hingga titik darahenghabisan     sangat  diperlukan   terutama   bagi   generasi muda  mendatang.  Semoga  kita  yang ditinggalkan  dapat  mewarisi  karakter beliau sebagai pejuang tanpa pamrih. (agg)

Posting Komentar

0 Komentar