kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Kaimana, dan Sejarah masuknya Orang Buton di Negeri Senja itu.


BUTONMAGZ---Kaimana, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat saat ini. Daerah ini membahana di telinga orang Indonesia dengan dirilisnya tmbang kenangan bertajuk ‘Senja di Kaiman’ yang diciptakan pada 1962. namun baru direkam tiga tahun kemudian pada 1965. Lagu ini digubah oleh Surni Warkiman, yang terisnpiasi dari keindahan Kaimana diperoleh saat Surni menyaksikan kegiatan latihan militer di Lapangan Banteng dan Gunung Mas pada tahun 1962. Lantas ia kemas dalam sebuah lagu.

Tetapi tahukah Anda bila Kaimana, adalah negeri yang dibentuk oleh para pendatang. Salah satunya perantau asal Buton. Kaimana  memang ditempati  oleh  beragam  suku  baik  orang  asli  Papua  maupun  pendatang.  Upton  (2009) menulis bahwa migrasi orang non-Papua ke Kaimana telah berlangsung sekitar seribu tahun yang lalu.

Tulisan Cahyo Pamungkas dari LIPI dalam jurnalnya bertajuk “Kontestasi antar orang asli Papua terhadap hak pertuanan di Kaimana” merekam kehadiran orang-orang Buton di negeri itu.

Klaim  atas  hak  pertuanan  oleh  suku-suku  orang  asli  Papua  mengusik  hubungan  antara  orang  asli Papua  dengan  kelompok  suku  pendatang  di  Kaimana  yang  nenekmoyangnya  sudah  menetap  di Kaimana  sejak  1900-an.  

Mereka  datang  ke  Kaimana  dengan  keluarga  mereka,  dan  membangun komunitas  yang  tinggal  dalam  lingkungan  tertentu.  Kemudian,  lahirlah  Kampung  Seram,  Kampung Cina, dan Kampung Buton.

Kedatangan  orang-orang Buton  di Kaimana  diduga sebelum  Belanda datang  ke Kaimana pada akhir abad  ke-19.  Pada  tahun  1942,  salah  seorang  tokoh  masyarakat  Buton,  La  Abudani,  menyaksikan bahwa  wilayah  yang  sekarang  ini  dinamakan  Krooy  masih  berupa  hutan  belantara  ketika  ia  masih anak-anak  (Wawancara  21  Desember  2008).  

Di  atas  tanah  itu  tinggal  keluarga  orang  Buton  yang menanam pohon kelapa bersama dengan Keluarga Lawai. Hubungan antara orang asli Papua dengan pendatang pada masa lalu ditandai dengan perdamaian dan toleransi antarkelompok etnik.

Pada tahun 1966,  dirinya  mulai  berdagang  di  Lobo  tempat  orang-orang  suku  Mairasi. Menurutnya,  orang-orang Mairasi adalah salah satu suku asli Papua yang memiliki hubungan baik dengan pendatang.

Pada hari raya  Idul  Fitri,  orang-orang  suku  Mairasi datang  bersilaturahmi  ke  rumah  para  pendatang,  namun sesudah  jatuhnya  Orde  Baru,  keberadaan  pendatang  seolah-olah  menjadi  musuh  bersama  orang  asli Papua.  Hal  tersebut  disebabkan  oleh  pembangunan  ekonomi  pada  masa  Orde  Baru  yang  telah memarjinalkan orang asli Papua (Widjojo, Satrio M, Amiruddin, Al Rahab, Pamungkas C & Dewi R  2008).

Selain itu, di Papua pada tahun 2000 muncul gerakan menuntut kemerdekaan Papua, terutama pembentukan Presidium Dewan Papua (PDP) sebagai protes terhadap pelanggaran HAM yang terjadi selama   masa   Orde   Baru.  Pendatang   dianggap   sebagai   pendukung   Pemerintah   Indonesia   yang merupakan musuh bersama aktivis Papua Merdeka.

Sumbangan   masyarakat  Buton  terhadap  perkembangan  Kaimana   melalui  profesi   nelayan   yang melayani  kebutuhan  ikan  masyarakat,  dan  bekerja  sebagai  petani  dan  pedagang. Orang  Buton menanami  kebun-kebun  di  sepanjang  Pantai  Kaimana  dengan  pisang  dan  kelapa.  

Pada  tahun  1966 diperkirakan  terdapat  40  KK  yang  bekerja  di  pesisir  Pantai  Kaimana.  Pada  tahun  1971  dirinya bertemu dengan Bupati Fak-fak, Sukamto, yang sedang berkunjung ke Kaimana dengan status sebagai Kepala Suku Sulawesi Tenggara.

La Abudani meminta Bupati Fak-fak agar Kaimana diberikan listrik karena masyarakatnya telah berjasa dalam perjuangan integrasi Papua ke Indonesia, namun baru pada tahun 1982 listrik masuk ke Kaimana. Perkumpulan orang Buton memiliki anggota sekitar 800 KK di mana  pada  tahun  1966  hanya  sekitar  40  KK. Tugas  perkumpulan  adalah  membina  kerukunan  hidup antar-orang Buton, dan antara orang Buton dengan suku-suku non-Buton. (zah)

Posting Komentar

0 Komentar