kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Sangia I Ntera – Raja Moronene yang Visioner, Sultan Buton memberinya gelar Pauno Rumbia (Payungnya Rumbia). (Bagian Pertama)

 moronene

BUTONMAGZ---Sangia I Ntera yang bergelar Pauno Rumbia adalah Raja Moronene Rumbia ke-3 yang memerintah mulai sekitar tahun 1880-an hingga tahun 1940. Beliau adalah putra dari Sangia Kinale (Raja Moronene Rumbia ke-2) dan Sangia Kinale adalah putra dari Sangia Niwehi (Raja Moronene Rumbia ke-1).
-------------------------------
Oleh : H. Kasra J. Munara
-------------------------------
Semasa pemerintahannya, Sangia I Ntera lebih banyak dikenal dengan nama Pauno Rumbia. Tapi setelah wafat,  beliau lebih banyak disebut dengan nama Sangia Rahawatu karena orang pertama yang memiliki rumah batu dan banyak juga yang menyebutnya dengan Apua Sangia Pesoe. Digelar Sangia Pesoe karena mata beliau yang hanya bisa melihat dengan jelas kalau mendongak.

Perlu diketahui bahwa untuk Kerajaan Moronene Rumbia, penamaan gelar Raja Pertama bermula sejak terjadinya pengalihan kekuasaan dari dari trah bangsawan Moronene Rumbia yang berkedudukan di Lakomea ke trah bangsawan Moronene Rumbia yang berkedudukan di Tisarahi. Namun secara keseluruhan semua raja-raja yang pernah berkuasa baik sebelum maupun sesudah peralihan kekuasaan berada dalam satu wadah yang dikenal dengan nama Kerajaan Moronene Keuwia. 

 

Doumen H. Kasra J. Munara


Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Moronene Keuwia atau Rumbia berasal dari garis keturunan Kerajaan Moronene tua yang berpusat di Tangkeno Wawolesea yang dipimpin oleh Sangia Dendeangi. Kisah pembagian Kerajaan Moronene menjadi tiga kerajaan Keuwia (Rumbia) – Lembompari (Polea) – Wita Carambau (Kotu’a) akan ditulis terpisah.

Keuwia berasal dari kata “keu” yang berarti kayu dan “wia” adalah nama tumbuhan yang bahan kayunya lazim dipakai sebagai bahan membuat rumah. Sementara nama Rumbia dipopulerkan oleh Belanda ketika mereka melihat banyak pohon rumbia yang tumbuh di wilayah Kerajaan Keuwia.

Rumbia sebenarnya adalah nama untuk pohon sagu bagi orang Makassar atau Melayu (ada nama desa di Bantaeng bernama Desa Rumbia). Tidak diketahui pasti sejak kapan nama Rumbia mulai dipakai tapi sebuah peta yang dibuat oleh A. Ligtvoet tahun 1878 sudah mencantumkan nama Roembia.

Sangia I Ntera adalah sosok yang dicintai oleh rakyatnya. Dia dikenal sebagai pemimpin yang cerdas, jujur dan berwibawa. Dia juga berhasil membina hubungan baik dengan kerajaan sekitarnya. Dalam menyelesaikan setiap masalah selalu diselesaikan secara arif dan bijaksana melalui musyawarah. Dia juga memiliki semboyan hidup “tade kototo lako konianto’u” yang berarti tegakkan kebenaran hidup beradat”. Sultan Buton memberinya gelar Pauno Rumbia (Payungnya Rumbia).

Walaupun Sangia I Ntera dikenal sebagai sosok yang berwibawa namun kadangkala suka bergurau dan selalu ada senyum yang tulus di wajahnya. H. van der Klift yang pernah bertemu langsung menjelaskan sosok Sangia I Ntera dalam bukunya “Onderzoekingsrei naar Roembia, Polea en Boeton, 1923” sebagai berikut:


“Senyum yang tulus tidak pernah hilang dari wajahnya. Dia juga bukan orang gampang dibodohi. Dia tahu apa yang dia lakukan dan dia bisa mengecohmu bila dia melihat kesempatan tapi bukan secara licik; akan nampak dari wajahnya, dia tersenyum kalau dia tidak berhasil mengecohmu”.

Pada awal pemerintahannya, sebelum pindah ke Istana Rahawatu, Sangia I Ntera masih tinggal di rumah pribadinya yang terletak di sebelah utara bukit Tampoa yang berada di tengah sebuah taman/kebun seperti yang nampak dalam 2 foto berikut. Foto pertama diabadikan oleh Johannes Elbert dalam bukunya “Sunda Expedition, 1911” dan foto kedua oleh H. van der Klift dalam bukunya “Onderzoekingsrei naar Roembia, Polea en Boeton, 1923”.

Gerrad C. Storm juga menjelaskan dalam catatannya bahwa rumah Sangia I Ntera terletak di dalam taman/kebun serta memiliki bentuk bumbungan atap yang indah seperti bulan sabit (sebenarnya bentuk atau  simbol perahu – nanti akan saya ulas terpisah) dengan ukuran rumah yang lebih besar dari rumah penduduk di sekitarnya. Bagian interior rumah terdapat ruang keluarga dan beberapa kamar tidur untuk “anamea” (putra mahkota) dan putri-putrinya.

Di dalam rumahnya terdapat mesin jahit berpedal dan sebuah kursi goyang asli buatan Belanda terletak di serambi. Dinding ruang keluarga dihias dengan gambar peta dan hiasan gambar dari majalah Perancis. Yang lebih unik lagi adalah rumah tersebut memiliki saluran air terbuat dari bambu yang tidak dimiliki oleh orang pada masa itu.

Selama masa pemerintahan Sangia I Ntera, beliau selalu berupaya memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang ada untuk kemakmuran rakyatnya. Ketika Pemerintah Kolonial Belanda memperkenalkan “community development program” yang mencakup modernisasi pertanian, pengelolaan pemukiman dan pendidikan, Sangia I Ntera melihat peluang untuk memajukan daerahnya. Kehadiran misionaris Belanda G.C. Storm pada saat itu menjadi salah satu penasehatnya.

Beberapa orang kemudian dipilih untuk belajar ilmu pertanian, pertukangan, dan pendidikan ke Jawa. Pemukiman penduduk juga mulai ditata. Mereka yang tadinya hidup di gunung diminta utk masuk ke area perkampungan dan pertanian yang sdh disiapkan. Persawahan semi-modern (irigasi) mulai diperkenalkan dan pola bertani nomaden juga sudah mulai berkurang. (bersambung)
---------
*) Tulisan ini dihimpun dari berbagai sumber. Salah satunya adalah buku “Nieuwe hoofden, nieuwe goden”, Dr. Christian de Jong, 2017 dan buku “Sejarah Peradaban Moronene”, Rekson dkk, 2015.

Posting Komentar

0 Komentar