kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Macaca Brunnescens, Monyet Buton yang Terancam Punah Karena Kawin Silang

Ndoke - Macaca Brunnenscens

BUTONMAGZ--- Orang Buton dan Muna menyebut hewan ini dengan  nama ‘Ndoke’ – jenis monyet berwarna hitam dengan "sepatu bot" abu-abu dan warna kecoklatan pada bulu di punggungnya. Memiliki ekor yang lebih kecil dibading jenis kera lainnya di Sulawesi. Panjang ekornya dengan panjang hanya sekitar 35 mm. Panjang tubuhnya sekitar 475 – 495 mm. Memiliki nama latin Macaca Brunnences,. Keren kan?

Monyet Buton-Muna ini memakan buah-buahan selama lebih dari 60% makanannya, termasuk buah ara dan pandan . Ia juga memakan daun, serangga, bunga, dan kulit kayu. Ini adalah perampas tanaman yang sangat sukses, dan jika ada ladang pertanian di dekatnya, akan menghabiskan waktu hingga 2 jam sekaligus merampok tanaman petani, seperti ubi jalar, jagung, pepaya, dan pisang.

Kendati kerap dianggap sebagai biang bagi tanaman petani, namun Ndoke merupakan spesies monyet endemik langka di dunia. Ia merupakan satu dari sepertiga dari total spesies monyet di seluruh dunia ada di kawasan Wallacea, tepatnya di Sulawesi. Menurut Dosen Insitut Pertanian Bogor (IPB), Berry Juliandi, dari total 23 jenis monyet di dunia, ada tujuh monyet yang hanya ditemukan di wilayah Sulawesi.

Tujuh spesies monyet endemik yang tak akan dijumpai di daerah lain itu adalah Macaca nigra di Sulawesi Utara, Macaca nigrescens di Sulawesi Utara-Gorontalo, Macaca hecki di Gorontalo-Sulawesi Tengah, Macaca tonkeana di Sulawesi Tengah dan Kepulauan Togian, Macaca maura di Sulawesi Selatan, Macaca ochreatra di Sulawesi Tenggara dan Macaca brunnescens di Pulau Buton dan Muna.

Namun, Berry mengungkapkan adanya ancaman cukup serius yang bisa membuat monyet-monyet tersebut punah. Salah satunya adalah semakin banyak spesies monyet yang melakukan 'pernikahan terlarang' alias hybrid.

"Istilah saya adalah perkawinan terlarang (perkawinan silang) yang menyebabkan monyet hybrid. Jadi yang tadinya tidak bertemu dan tidak kawin karena beda spesies, jadi bisa kawin," kata Berry di  beberapa waktu lalu.

Menurut Berry, akibat adanya hybrid tersebut, produksi sperma hewan jenis primata itu menjadi rendah. Akibatnya, monyet endemik Sulawesi itu sulit berkembang biak karena mandul sehingga terancam punah.

Berry menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan adanya primata hybrid ini bisa terjadi di Sulawesi. Pertama, adalah faktor alam. Berry menduga kawin campur terjadi saat zaman pencairan es terjadi di bumi.



 

Kala itu, kepulauan Sulawesi yang masih menyatu sempat terpisah sehingga menyebabkan monyet endemik yang tadinya hidup sesama spesiesnya terpencar.

"Jadi Sulawesi terpisah jadi beberapa pulau, ada beberapa monyet yang terisolasi dengan bukan sesama spesiesnya karena air naik. Terus sesama spesies tidak bertemu sampai bertahun-tahun, nah pas ketemu lagi udah tidak saling kenal. karena berbagai desakan terjadilah kawin hybrid itu,"jelas Berry.

Keadaan itu, diperparah dengan aktivitas manusia, termasuk illegal logging atau pembabakan hutan yang menyebabkan habitat fauna monyet Sulawesi semakin tergeser, hingga mempertemukan dua spesies dan menyebabkan perkawinan 'terlarang' tadi.

Menurut Berry, jika tidak segera dilakukan konservasi serius, termasuk penegakan hukum terhadap illegal logging, maka hewan-hewan endemik Sulawesi dan juga kehidupan tumbuhan dan mikroba akan cepat punah.

Penelitian terhadap punahnya tujuh hewan endemik yang dilakukan Berry ini didukung oleh Newton Fund, dana dari pemerintah Inggris yang dikelola British Council di Indonesia. Penelitian terhadap seluruh flora dan fauna di Sulawesi dan kawasan Wallacea itu memang baru dimulai beberapa tahun terakhir.

Senior Programme Manager Science British Council Femmy Soemantri mengakui selama ini penelitian terhadap biodiversitas masih terpusat di Jawa dan Sumatera, atau di Indonesia Timur seperti Papua.

Untuk itu, sejak tahun 2017, Inggris lewat Newton Fund semakin serius untuk membantu peneliti Indonesia terhadap upaya konservasi warisan alam di kawasan Wallacea atau Indonesia Tengah (Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur).

Ditambah lagi, di kawasan Sulawesi banyak warisan naturalis Inggris Alfred Russel Wallace yang punya jasa besar mengenalkan flora fauna endemik pada dunia. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar