kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Baubau, Berkembang di Tahun 1922 Oleh Van Hasselt. Ekologis Perkotaan Mencontoh Sibolga

Baoe Baoe, Boeton, 1920 (troppen)

BUTONMAGZ—Tak bisa disangkal Kota Baubau. memang kota tua Sulawesi Tenggara yang menyimpan banyak catatan sejarah. Di masa pemerintahan Hindia Belanda, kota ini telah menjadi perkotaan modern dengan dinamika politik yang dinamis. 

Sebuah catatan perjalanan Baubau terekam dalam Jurnal berjudul ‘The Politics and Economin Two Towns: Baubau and Kendari in 1950s-1960s’, yang ditulis La Ode Rabani, Bambang Purwanto, Sri Margana, dari Departemen Sejarah -Universitas Gadjah Mada – revisi tahun 2020. Berikut petikan  sejarahnya.

Periode  akhir  dari  Negara  Indonesia Timur  (NIT)  dan  Republik  Indonesia  Serikat  (RIS) ditandai dengan  integrasi  wilayahnya ke  dalam  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (NKRI). Integrasi  itu membawa beberapa perubahan, di antaranya pada penamaan daerah. Nama Afdeeling diganti dengan daerah, sehingga Afdeeling menjadi Pemerintah Daerah, seperti Sulawesi Selatan yang dikepalai oleh gubernur.

Perubahan  lain  yang  terjadi  adalah  tugas controleur di  bekas onderafdeeling digantikan  oleh Pamong  Praja  yang  saat  itu  disebut  dengan  Kepala  Pemerintahan  Negeri  (KPN).  Onderafdeeling selanjutnya  disebut  dengan  daerah  kawedanan.  

Untuk  Afdeeling  Boeton  en Laiwoei  menjadi Pemerintah  Daerah Buton dan Laiwui. Situasi itu terus berlanjut hingga masa-masa kemudian. Faktor  politik  sangat  dominan  memengaruhi  perkembangan  dan  perluasan  Kota  Baubau.  

Kota  itu mengalami  perkembangan  berarti  ketika  masih  dibawah  kekuasaan pemerintah Hindia  Belanda. Pada  tahun 1922,  kota  Baubau  mengalami  perluasan  dan  perbaikan  secara  ekologis. Saluran  air diperbaiki dan diperlancar dengan pembuatan gorong-gorong yang terhubung langsung dengan laut.

Perbaikan  ini  dilakukan  sebagai  upaya  pemberantasan  penyakit  Malaria  yang selalu mengancam kesehatan warga Kota Baubau. Perbaikan ekologi kota Baubau di lakukan pemerintah bersama warga kota  di  bawah  komando  van  Hasselt, seorang  warga  Sumatra  Utara (Staten-Generaal  1923,  Hofdstuck  J:16).

Van  Hasselt melakukan  perbaikan  ekologi dan lanskapkota  dengan  tujuan  utama  perbaikan tata kota dan lingkungan guna menurunkan penderita penyakit  malaria di Kota Baubau pada tahun 1922 dengan merujuk pada pola yang sama seperti yang dilakukan di Kota Sibolga di  Pantai Barat Sumatra yang dikomandoi Vogel  di tahun 1916.

Proyek perbaikan lingkungan  kota  ini  melibatkan  penduduk  Baubau  dan  sekitarnya  yang  didorong  oleh  lahirnya kesadaran masyarakat untuk memberantas malaria di Baubau dan sekitarnya. Dampak dari perbaikan ini  sangat  signifikan menurunkan  penderta  malaria,  dibanding  periode  yang  sama  dengan  tahun sebelumnya. Selain itu, tata kota menjadi teratur, jaringan jalan lebih baik, lingkungan kota tidak lagi menjadi sarang nyamuk malaria, dan lingkungan lebih bersih (Staten-Generaal 1924)

Kota  Baubau  mengalami  kemunduran  perkembangan  dan  pergeseran  ketika  kota  itu  diwarnai  oleh perubahan politik dan dikontrol kekuasaan yang  kuat oleh pemerintah Indonesia. Lemahnya kontrol dan  melemahnya  kekuasaan  sultan  pada  pascakemerdekaan  serta  banyaknya  konflik  yang  mewarnai dinamika internal kota telah menghambat laju perkembangan fisik kota.

Hanya saja di sisi lain, kota menjadi lebih hidup dan suasana kota makin terasa dengan munculnya gairah demokrasi dalam kota. Tokoh-tokoh  lokal  mulai  muncul  untuk  mencoba  merespons  perubahan  situasi  di  dalam  kota  yang diwarnai  oleh  arus  kebebasan  termasuk  mempertanyakan  kelangsungan  dan  pergantian  kekuasaan untuk mengontrol masyarakatnya pada tingkat lokal. (zah)

Posting Komentar

0 Komentar