kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Hubungan Kerajaan Makassar dengan Kerajaan Buton Abad ke-17 : Bermula dari Kabaena? (Bagian I)

 

BUTONMAGZ—Membicarakan kesejarahan antara Makassar (Gowa) dan Buton di masa silam tentu banyak cerita rakyat yang mengiringinya. Sebuah jurnal ilmiah oleh Syahrir Kila dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, menulis hal ini secara runtut. Mengingat panjangnya tulisan jurnal ini, Butonmagz menyajikan secara bertahap dalam beberapa bagian.  

Disebutkan, hubungan awal antara Kerajaan Makassar  dengan Kerajaan Buton, rupanya agak sulit untuk ditelusuri sebab data dan keterangan menyangkut  masalah itu hampir tidak ditemukan. Meskipun  demikian, petunjuk lain yang dapat memberikan  kita gambaran ke arah itu  hanyalah  berupa mithos  melalui suatu perkawinan antara putra  bangsawan Pulau Kabaena dengan seorang  putri bangsawan dari Kerajaan Makassar.

Dari berbagai literatur pendukung yang ditemukan, memang sangat sedikit di antaranya yang dapat menjelaskan hal itu. Dengan demikian, hubungan yang akan lebih banyak mendominasi pembahasan ini nanti adalah hubungan di bidang politik pada masa kekuasaan VOC sebab pada  masa inilah terjadi konflik antara keduanya.

Tidak diketahui dengan  pasti kapan  terjadinya  perkawinan antara seorang putra  bangsawan  Kabaena  dengan seorang putri  bangsawan Makassar. Hal  senada juga diungkapkan  Almujazi

”Bahwa hanya diduga perkawinan itu telah terjadi setelah Kerajaan Makassar sudah berkembang dengan baik dan pesat.  Putra raja Kabaena itu diberitakan pernah tinggal di istana Kerajaan Makassar, lalu kemudian kembali ke Pulau Kabaena.  Sebenarnya tidak jelas kapan kepulangan putra raja Kabaena itu, juga tidak ditemukan penjelasannya. Juga tidak ada data yang rinci menjelaskan bahwa apakah kepulangannya  itu dilakukan setelah terjadi perkawinan dengan putri bangsawan Makassar tersebut atau tidak” (Wawancara:Almujazi di Baubau, 14 Mei 2016).

Bukan hanya itu persoalannya, tetapi juga tidak diketahui dengan pasti anak  siapa putri bangsawan Makassar yang dimaksud itu dan apakah ada keturunannya atau tidak.

Ceritra ini  diakui kebenarannya oleh masyarakat setempat. Perkawinan itu terjadi pada abad ke-16 atau awal abad ke-17 sebab di situ waktu mulainya Kerajaan Makassar melakukan perluasan pengaruh wilayah kekuasaannya (Zuhdi, 2010:142). Dan hal seperti itu memungkinkan terjadi pada kerajaan-kerajaan kecil seperti Pulau Kabaena. Mungkin perkawinan itu dimaksudkan bertujuan politik dimana Kerajaan  Kabaena berharap untuk mendapatkan perlindungan dari Kerajaan Makassar.  

Besar kemungkinan bahwa perkawinan yang dilakukan tersebut, adalah sebagai upaya Pulau Kabaena untuk memperkuat kedudukannya dalam menghadapi serangan dari  Kerajaan  Buton. Kenapa Kerajaan  Buton yang dikhawatirkan akan melakukan serangan terhadap  Kabaena?  

Kerajaan  Buton-lah yang memberikan nama kabaena, yang berarti “gudang berasnya kesultanan”.

Menurut La Ode Syaifuddin  bahwa  ” Dalam  versi ceritra  rakyat tersebut tidak ditemukan data dan keterangan yang menjelaskan raja (sultan) Buton ke berapa yang memberikan penamaan seperti itu.

Hanya dijelaskan bahwa Kabaena juga harus menyerahkan upeti kepada  Kerajaan  Buton dengan istilah Sapoikiana humbuna Kabaena.  Upeti itu biasanya dikirim melalui Pelabuhan Baubau”  (Wawancara:  La  Ode  Syaifuddin  di Baubau,15 Mei 2016).

Dikemudian hari, Kabaena terlihat ada indikasi akan melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan  Kerajaan  Buton ke Kerajaan Makassar. Hal ini tentu saja membuat gusar  Kerajaan  Buton mengingat bagaimana  kebesaran Kerajaan Makassar ketika itu. Hampir semua kerajaan lokal menyadari kalau Kerajaan Makassar tak ada yang dapat mengalahkannya  pada saat itu.

Dalam tradisi lisan masyarakat  setempat menyatakan bahwa ketika Kabaena diserang oleh Kerajaan Buton, ia menggunakan senjata pemungkasnya yang bernama meriam La Tondu (badili La Tondu). Salah satu gunung yang terdapat di Kabaena yang bernama Sabanpolulu,  dan salah satu cekungan dari gunung itu terjadi karena terkena badili La Tondu (Zuhdi, 2010:143).

Jika dicermati tradisi lisan tersebut, dapat diperkirakan bahwa hubungan awal  Kerajaan Makassar dan Kerajaan Buton pada versi ceritra tersebut di atas, terjadi pada masa Arung Palakka melarikan diri ke Buton ataukah setelah Arung Palakka berkuasa di Sulawesi Selatan. Senjata pamungkas yang bernama La Tondu yang dimaksud, adalah nama lain yang diberikan kepada Arung Palakka oleh masyarakat Buton ketika yang bersangkutan berada di Buton untuk minta suaka politik atau perlindungan dari Sultan Buton.

Versi  tradisi lisan  yang kedua adalah  berdasarkan epos I La Galigo yang ternyata juga dikenal di Sulawesi Tenggara, dan juga dalam lingkungan budaya masyarakat Makassar, demikian pula dengan Sawerigading. Menurut  penuturan seorang sejarahwan lokal bahwa mithos yang berhubungan dengan Sawerigading ini menarik juga untuk dijelaskan sebab ternyata pada daerah lain, ia muncul dengan versi yang berbeda-beda, yaitu:

“Bagi masyarakat Tolaki, Konawe di Sulawesi Tenggara, Sawerigading disebutkan berasal dari  Malili.  Ia  bersaudara  kandung  dengan We Koila, seorang ratu Cina di  Konawe, lalu  kembali  ke  negeri  asalnya.  Sedang  di masyarakat Tolaki, Kerajaan Mekongga, Sawerigading dikenal dengan nama  Larumbalangi  yang  datang  dari  langit.

Ia  berhubungan  dengan  raja  setempat.  Setelah  itu,  ia  lalu  kembali  lagi  ke  langit. Hal ini juga dikenal oleh masyarakat Muna mengenai Sawerigading yang disebutnya sebagai  Baizulzaman  yang  konon  muncul dari    sebatang pohon  bambu. Keturunannya kemudian kawin dengan keturunan raja-raja setempat. Setelah itu, ia menghilang dan tidak diketahui  kemana  perginya.  

Sementara  di Buton sendiri yang menjadi objek kajian ini,  Sawerigading dikenal dengan nama Sinoya yang  datang  dari  laut.  Keturunannya  kawin dengan anak raja-raja Buton dan tinggal di  Buton” (Zuhdi, 2010:143).

Kalau dicermati versi-versi dari tradisi lokal tersebut di atas, lalu dihubungkan mithos- mithos  yang berkembang di masyarakat,  barulah kita temukan benang merah adanya hubungan kedua kerajaan yang dimaksud.

Benang merah itu menurut Rasyinuddin bahwa  ”Yaitu adanya ungkapan orang Tolaki yang melihat Sawerigading laksana burung. Dimana burung itu lalu dibagi menjadi tujuh bagian yang disimbolkan kepada tujuh  wilayah pula. Untuk bagian kepalanya disimbolkan sebagai Kerajaan Makassar (uluno o Makassar);  lehernya disimbolkan sebagai Kerajaan  Bone (worokone o Bone); tubuhnya disimbolkan sebagai Kerajaan Konawe (wotoluno Konawe);  paruhnya disimbolkan sebagai Kerajaan Mandar (ponduno Mandara);  hatinya disimbolkan  sebagai Kerajaan Wolio (wuleno  Wolio); sayapnya disimbolkan sebagai Kerajaan  Luwu (panino o Luwu); sedangkan kakinya disimbolkan sebagai Kerajaan Ternate (karino o Ternate)" (Wawancara: La Ode Rasyinuddin di Baubau, 13 Mei 2016).

Berdasarkan pembagian tersebut di atas, sebenarnya hanya bertujuan untuk melegitimasi kekuatan dan kekuasaan Kerajaan Makassar yang tak tertandingi ketika itu. Meski secara tidak langsung pengakuan itu diberikan kepada Makassar.

Lebih jauh dijelaskan oleh Imran Kudus bahwa “Perumpamaan tersebut muncul ketika Sawerigading memotong seekor ayam dan membagi-bagikan setiap bagian kepada tujuh orang anaknya. Anak tertuanya kemudian menjadi raja di Makassar, anak keduanya menjadi raja di Bone, anak ketiganya menjadi raja di Konawe, anak yang keempat  menjadi raja Ternate, anak kelima menjadi raja di Mandar, anak keenam menjadi raja di  Luwu, dan anak bungsunya menjadi raja di Wolio” (Wawancara: Irman Kudus di Baubau, 16 Mei 2016). (Bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar