kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Balase Buton, Anyaman Daun Kelapa Pengganti Kantong Plastik

 

BUTONMAGZSetiap daerah punya kearifan lokal khas berkait kelestarian alam. Sampah plastik yang kini menghawatirkan sebenarnya bisa disiasati dengan mengganti bahan-bahan tersebut dengan benda ramah lingkungam, sekaligus dapat menopang industri kecil milik warga. Di Kepulauan Buton, terdapat kerajinan tangan yang terbuat dari anyaman daun kelapa yang sangat bermanfaat sebagai pengganti kantong plastik, namanya Balase.

Balase, anyaman daun kelapa ini banyak ditemukan di wilayah Buton Selatan memiliki beragam kegunaan, antara lain, wadah pengganti kantong plastik sekali pakai. Kelompok masyarakat di Buton Selatan, menganyam daun kelapa jadi balase ini, untuk pembungkus saat pembagian hewan kurban pada Idul Adha lalu, Tujuannya tentu dapat mengurangi penggunaan kantong plastik.

Situs lingkungan – Mongabai.co.id menulis tentang aktivitas Muhammad Yunan, penggerak Anyaman Balase, yang berfungsi mengurangi beban lingkungan di Buton. Dia melihat sampah plastik jadi masalah di Pulau Buton, seperti Kota Baubau, Buton, Buton Selatan, Buton Utara, Buton Tengah dan Wakatobi.

Warga terbiasa pakai kantong plastik. Perlahan-lahan, dia mencoba mengubah kebiasaan ini dan kembali ke budaya Buton yang mengajarkan masyarakat peduli lingkungan, salah satu pakai balase ini.


Balase, sudah jadi wadah warga sejak dulu. Sayangnya, karena memilik praktis pakai kantong plastik, balase pun mulai sulit dijumpai.

Kelapa, katanya, merupakan tanaman dengan beragam manfaat. Seluruh bagian tanaman bisa bermanfaat, mulai dari batang, buah, batok, daun sampai serabut.

“Dulu, menganyam ini bukan mata pencaharian, tetapi [bikin sendiri] jadi alat untuk gunakan sendiri atau sebagai hadiah. Sekarang kita hidupkan lagi, sumber daya manusia ada.”

Di Buton, orang-orang usia senja, terutama perempuan banyak memiliki pengetahuan menganyam balase. Yunan pun melihat peluang ini. Daun kelapa banyak, perajin pun ada. Kolaborasi bikin balase pun jalan.

Para perajin jadi punya pemasukan dari bikin balase, budaya Buton gunakan bungkus anyaman kelapa pun kembali hidup. Kampanye tinggalkan kantong plastik, kembali ke balase pun mereka gaungkan di Sulawesi Tenggara.

Balase dengan berbagai model pun mereka buat. Tak hanya untuk wadah makanan atau bahan makanan seperti daging kurban, ia bisa jadi tas belanjaan, dompet dan lain-lain.

“Beragam jenis balase kita bikin dari Busel, kemudian dijual dan jadi sumber penghasilan para perempuan. Ke depan kita akan distribusi ke seluruh Sultra. Untung dari penjualan kita berikan kepada ibu-ibu itu. Idul Adha tahun ini, kami mengkampanyekan penggunaan balase dalam distribusi daging kurban,” katanya via telepon.

Sampah Plastik di Buton

Sampah plastik kian menghawatirkan di Pulau Buton, mendorong banyak pihak peduli, antara Yunan cs. Ada juga Komunitas Buton Selatan Go Green, punya cara tersendiri mengedukasi masyarakat lebih peduli lingkungan.

Yamin, inisator Busel Go Green, mengatakan, sampah plastik di Buton Selatan, belum jadi perhatian serius masyarakat maupun pemerintah daerah. Pemerintah Busel, katanya, belum ada punya program khusus mengatasi sampah.

Yamin dalam wawancara dengan RRI beberapa bulan lalu, mencoba menginisasi program “Tukar Sampah dengan Rupiah” atau lebih dikenal dengan bank sampah.

“Tujuannya kita ingin mengurangi sampah plastik di Busel. Sampah plastik sangat masif. Kebiasaan warga [sampah] hanya kumpul lalu bakar atau buang ke laut.”

Dalam program ini, komunitas membeli sampah plastik dari masyarakat. Untuk botol plastik ukuran kecil dibayar Rp400-Rp600, botol ukuran besar Rp1.500. Mereka lakukan ini sementara di Kelurahan Katilombu, Kecamatan Sampolawa, Buton Selatan.

 

Yamin bilang, uang untuk membeli sampah itu dana swadaya dari anggota komunitas sendiri. Lalu, botol-botol ini akan dibuat jadi karya kreatif seperti pot bunga, meja kecil, tempat duduk, dan berbagai karya lain.

Sebelumnya, komunitas ini bersama organisasi pemerintah daerah pernah aksi clean up day dan berhasil mengangkut dua truk sampah plastik yang lama mengendap di sepanjang Sungai Laompo.

Baubau, salah satu kota di Buton, yang hadapi masalah sampah. Walikota Baubau, AS Tamrin mengingatkan, agar masyarakat patuh dalam pengendalian penggunaan sampah plastik demi penyelamatan lingkungan.

AS. Tamrin minta warga sadar lingkungan, antara lain mengurangi penggunaan sampah plastik.

“Sekarang ini galakkan pencegahan penggunaan sampah plastik. Kalau ada plastik di hadapan kita, mulai dari sekarang dipungut,” katanya.

Menyambut perayaan Kemerdekaan Indonesia tahun ini, AS. Tamrin ingin Baubau mengampanyekan kesadaran lingkungan.

“Kita harus ada kesadaran. Itu tanggung jawab semua. Termasuk di pasar-pasar. Karena penggunaan tempat-tempat yang terbuat dari plastik itu sekali pakai jadi sampah.” (**)

Keterangan : foto-foto oleh  sdr. Yunan

Posting Komentar

0 Komentar