kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Benteng Keraton Liya, Sisa Kebesaran Kesultanan Buton di Wakatobi



Mendengar kata benteng, yang ada dalam ingatan kita tentu tembok-tembok pertahanan milik pemerintah era kolonial. Namun, apa jadinya jika ada benteng bersejarah yang dibuat oleh kerajaan lokal? Benteng menarik buatan Nusantara ini ada di Wakatobi.

Wakatobi merupakan wilayah yang akrab dengan wisata baharinya. Namun bila sudah bosan dengan wisata laut maka cagar budaya Benteng Keraton Liya dapat menjadi opsi baru. Terletak di Pulau Wangi-wangi, keberadaannya cukup sulit ditemukan karena tidak dilalui jalan utama.

Benteng kokoh yang terletak kurang lebih 8 km dari pusat Kabupaten ini merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Buton. Dulunya benteng Keraton Liya difungsikan sebagai tempat untuk memantau pergerakan kapal-kapal asing yang melintas di Perairan Wakatobi, sekaligus menjaga kontrol Kerajaan Buton atas Laut Banda yang berada di timur pulau.


 

Bangunannya sendiri berupa susunan batu-batu yang direkatkan dengan putih telur. Setiap penjuru benteng memiliki pintu masuk yang di atasnya terdapat panggung tempat penjaga. Beberapa meriam kuno nampak menghiasi sudut-sudut benteng.

Selain kokoh, benteng ini memiliki lapangan yang luas dan rindang. Ada juga sebuah masjid tua peninggalan Kesultanan Buton yang bernama Masjid Mubarok. Konon masjid ini telah berdiri selama beratus-ratus tahun yang lalu, dan sekarang menjadi salah satu ikon wisata selain benteng.

Bentuk benteng Keraton Liya berbeda dengan mayoritas benteng buatan kolonial, seperti Benteng Vredeburg di Yogyakarta atau Benteng Marlborough di Bengkulu. Susunan batu-batu yang tertata rapi hampir menyerupai bentuk Benteng Kalamata di Tidore. Namun uniknya, Benteng Keraton Liya menggunakan jenis batu karang putih yang cantik saat terkena sinar matahari. Pohon kamboja yang tumbuh di berbagai sisi memberikan kesan rindang juga sensasi harum bagi indera penciuman.



 

Jika sudah puas dengan jalan-jalan mengelilingi benteng Keraton Liya, kita bisa berburu oleh-oleh khas Pulau Wangi-Wangi, yakni kain tenun khas yang disebut homoru. Sobat Pesona bisa berjalan di perkampungan warga untuk menyaksikan langsung pembuatan tenun. Persis di bawah rumah panggung, pada siang hari ibu-ibu asyik menenun kain secara tradisional. Motif garis-garis lurus dipadukan dengan kotak-kotak menjadi kekhasan tersendiri kain homoru. Untuk membawa pulang kain ini, harus merogoh kocek kisaran Rp500.000 hingga Rp800.000.


 

Apabila tertarik untuk mengunjungi Benteng Keraton Liya via laut, sebaiknya telah direncanakan jauh-jauh hari. Sebab jika musim pasang air laut tiba jarang ada kapal yang berlabuh di Pulau Wangi-Wangi. Namun, jika memiliki budget lebih, kita bisa melakukan reservasi pesawat untuk langsung sampai di Pulau Wangi-wangi.

Segala lelah di perjalanan akan terbayar lunas saat menikmati pemandangan Benteng Keraton Liya yang menawan. (Foto: Reiza Maspaitella : sumber : pesona.travel)

Posting Komentar

0 Komentar