kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Antropolog: “Pahlawan Nasional Oputa Yikoo Sisa Menunggu Stempel Istana”



BUTONMAGZ---Usulan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi Oputa Yikoo alias La Karambau sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Tenggara kian mendekati kenyataan, setelah diseminarkan secara nasional di Auditorium Mokodompit, Universitas Halu Oleo Kendari, universitas negeri dan terbesar di Sulawesi Tenggara, Senin kemarin 22 Juli 2019.

Antropolog Universitas Hasanuddin Makassar, Dr. Tasrifin Tahara, M.Si yang mendampingi pengusulan pahlawan nasional ‘Oputa Yikoo’ sangat optimis gelar pahlawan nasional itu akan tersemat pada tokoh anti penjajahan Belanda ini, dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Secara psikologis, gelar Pahlawan Nasional bagi Oputa Yikoo sisa menunggu stempel Istana Presiden,” kata Tasrifin optimis. Alasannya, pihak pihak berkompeten hadir langsung sebagai pemateri seminar nasional. Seperti Prof. Dr. Jimly Assiddiqi – Wakil Ketua Dewan Gelar, Tanda Kehormatan dan Tanda Jasa RI, Gubernur Sultra H. Ali Mazi, SH.,  Wali Kota Baubau Dr. H. AS. Tamrin, MH, Rektor UHO – Prof. Zamrun, Sejarawan UI Prof. Dr. Susanto Zuhdi, dipandu moderator Asrun Lio, Ph.D.

“Prof. Jimly tentu memiliki tanggung  jawab moral sebagai pihak pemberi pertimbangan terakhir kepada Presiden berkait usulan pahlawan nasional ini, sebab beliau mendengar langsung ‘suara hati’ masyarakat Sulawesi tenggara. Dan beliau tegas mengatakan bila Sultra adalah provinsi yang belum memiliki pahlawan nasional dari daerahnya,” kata Tasrifin.

Halnya dengan Gubernur Ali Mazi dan Wali Kota Baubau AS. Tamrin memiliki komitmen penuh untuk memberikan dukungan secara kelembagaan dan pribadi dengan usulan pahlawan nasional dimaksud, sementara Prof Zamrun dan Prof Susanto berkaitan dengan tinjauan akademik. “Intinya semuanya sepakat, dan kita patut bergembira,” tandas Tasrifin.

Kendati begitu, sebagai antropolog sekaligus putra daerah asal Buton tentu ia tak jumawa, sebab Prof. Jimly mengingatkan agar usulan ini dikawal secara maksimal, mengikuti prosedur perundang-undangan, sebab peluangnya sangat besar mengingat Sulawesi Tenggara belum memiliki pahlawan nasional dari daaerahnya. (ref).  

 

Posting Komentar

0 Komentar