kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Sejarah Pindahnya "Ibu Kota" VOC dari Ambon ke Batavia. Makassar Pernah Diincar.



BUTONMAGZ-- Direproduksi dari berti Tirto.Id, menyebutkan perpindahan pusat pemerintahan pernah dilakukan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) alias Kompeni Belanda dalam sejarah pendudukannya di Nusantara atau Indonesia. Semula, kegiatan VOC dipusatkan di Ambon, Maluku. Namun, "ibu kota" kompeni ini kemudian dipindah jauh ke barat, yakni Jayakarta atau yang nantinya berganti nama menjadi Batavia.

Didirikan pada 20 Maret 1602, VOC semula merupakan perkumpulan dagang. Menurut A. Kardiyat Wiharyanto dalam Sejarah Indonesia Madya Abad XVI-XIX (2006), VOC dibentuk untuk menghindari persaingan antara sesama pedagang Belanda di Asia.

Selain itu, VOC bertujuan menyaingi kongsi dagang dari Inggris, Portugis, maupun Spanyol. Pada 1603, VOC membangun kantor perwakilannya di Banten. Penguasa Kesultanan Banten saat itu, Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulqadir (1596-1647) mengizinkan VOC melabuhkan kapal serta membangun dermaga, kantor administrasi, benteng kecil, dan gudang di wilayahnya.

Pos dagang di Banten ini merupakan kantor perwakilan VOC pertama, juga bisa disebut sebagai pusat kegiatan kongsi yang menyatukan kaum saudagar Belanda di Nusantara. Namun, Banten juga memberikan hak yang sama kepada saingan VOC, yakni East India Company (EIC) dari Inggris. Bahkan, perwakilan EIC di Banten mendapat lokasi yang jauh lebih baik ketimbang yang ditempati VOC. Hal ini membuat VOC mulai berpikir untuk memindahkan pusat aktivitas dagangnya.

Bermarkas di Timur: Maluku

VOC sempat mengincar Makassar karena letaknya yang sangat strategis. Disebutkan dalam The Indonesian City: Studies in Urban Development and Planning (1986) suntingan Peter J. Nas, Makassar kala itu merupakan pusat perdagangan yang menghubungkan wilayah timur dan barat Nusantara.

Pada 1603, VOC mengirimkan surat kepada Sultan Alauddin I (1593-1639) agar diperkenankan berdagang di bandar niaga Makassar. Sultan Gowa mengabulkan permintaan itu dengan syarat, VOC hanya semata-mata berdagang di wilayah kerajaan itu.

Situasi ini berjalan selama beberapa tahun. VOC, tulis M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia (1993), akhirnya memperoleh izin mendirikan kantor dagang pertama di Sulawesi Selatan pada 1609. Tetapi, VOC ternyata berambisi memonopoli dan bakal menjadikan Makassar sebagai pusatnya.

Tindakan antisipasi pun dilakukan pihak Gowa dengan mengizinkan Portugis, Spanyol, Perancis, dan Inggris, untuk turut berdagang di Makassar. Alhasil, relasi antara VOC dengan Gowa pun retak.

Gagal di Makassar, VOC melirik agak ke timur lagi, yakni Kepulauan Maluku dengan kota tersibuknya: Ambon. Sebelumnya pada 1605, seperti yang ditulis John Pattikayhatu dalam Sejarah Daerah Maluku (1978), VOC atau Belanda telah merebut Ambon dari Portugis. Maka, sejak 1610, Ambon ditetapkan sebagai pusat aktivitas VOC dalam menjalankan bisnis dagangnya.

Alasan utama VOC bermarkas di Ambon adalah karena Maluku merupakan kepulauan penghasil rempah-rempah utama di Nusantara. Kala itu, Belanda memang hanya fokus berdagang hasil bumi, terutama rempah-rempah, yang sangat laku dan berharga mahal di Eropa.

Pembangunan langsung dilakukan di Ambon. Salah satunya, ungkap R.Z Leirissa dan Djuariah Latuconsina dalam buku Sejarah Kebudayaan Maluku (1999) adalah Benteng Victoria yang direbut dari Portugis pada 1605 dan rusak parah akibat diguncang gempa bumi direnovasi serta diperbesar. Benteng megah ini kemudian diberi nama Nieuw Victoria.

Pemimpin tertinggi atau gubernur Jenderal VOC pertama saat itu adalah Pieter Both yang menjabat hingga 1614. Selanjutnya, ada dua gubernur Jenderal lagi selama VOC beribukota di Ambon, yakni Gerard Reyns (1614-1615) kemudian Laurens Reael (1615-1619). 


 

Kembali ke Barat: Jayakarta

Jan Pieterszoon Coen menjadi gubernur Jenderal VOC ke-4 sekaligus yang terakhir di Ambon. Ia ditunjuk menggantikan Reael yang meletakkan jabatannya lebih cepat karena terlibat beberapa masalah. Coen memiliki visi membangun jaringan perdagangan inter-Asia.

Menurut Coen, lokasi Ambon tidak cukup mendukung untuk mewujudkan ambisinya itu. Maluku memang penghasil utama rempah-rempah, namun letaknya kurang strategis dan jauh dari rute niaga Asia sehingga sulit atau jarang dijangkau oleh kapal-kapal dari berbagai wilayah lain.

Coen berpikir Ambon tampaknya sudah tidak ideal lagi untuk dijadikan pusat pemerintahan VOC. Nusantara bagian barat kini justru lebih menggiurkan dan potensial. Maka, Coen menetapkan Jayakarta akan menjadi ibu kota baru VOC.

Sebenarnya, sudah sejak lama Coen mengincar Jayakarta. Pada 1614, Coen mengatakan kepada The Heeren XVII (Dewan Direksi VOC) bahwa ada cara untuk memperkokoh kekuasaan mereka di Nusantara, yaitu menguasai Jayakarta. Lokasi Jayakarta dianggap amat strategis dan termasuk jalur perdagangan Asia.

Selain itu, Jayakarta dekat dengan Selat Malaka dan Selat Sunda, juga bisa terhubung relatif mudah dengan beberapa pelabuhan besar, seperti Banten, Cirebon, serta sejumlah bandar dagang di Sumatera, Aceh, dan kawasan Malaya.

Pamor Jayakarta yang terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan paling sibuk di Jawa bagian barat sudah terdengar sejak dulu. Wilayah ini sebelumnya bernama Sunda Kelapa dan menjadi bagian dari kekuasaan Pajajaran, kerajaan Sunda yang berpusat di Bogor dan eksis hingga 1579 Masehi.

Sanusi Pane dalam Sedjarah Indonesia (1955) menuliskan, Sunda Kelapa pada masa Pajajaran sudah dikenal sebagai kota pelabuhan internasional. Bandar dagang ini menjadi tempat bertemunya kaum saudagar dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Eropa dan Timur Tengah.

Selain itu, para peniaga lintas bangsa dari negeri-negeri Melayu, India, Jepang, serta Cina juga kerap singgah di Sunda Kelapa, selain para pedagang dan nelayan dari berbagai daerah di Nusantara. Tekad Coen semakin mantap untuk segera memindahkan pusat VOC ke Jayakarta.

Hanya saja, Jayakarta saat itu masih menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Banten. Coen pun menyusun kekuatan dalam rangka misi merebut tanah yang diidam-idamkan itu.

Dikutip dari Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010) karya Windoro Adi, Coen merekrut ribuan orang Ambon sebagai milisi untuk menyerbu Jayakarta, selain tentu saja pasukan berkebangsaan Belanda. Dengan berkekuatan 16 kapal perang, armada tempur VOC pun berlayar ke barat, hanya beberapa pekan setelah Coen diresmikan sebagai gubernur Jenderal.

Armada Coen memang sempat kalah dari pasukan Banten yang dibantu Inggris dalam pertempuran di pesisir Jayakarta. Namun, ia segera menyusun kekuatan kembali dan pada 30 Mei 1619, Coen memimpin 1.000 orang menyerbu pos-pos musuh mereka yang sedang lengah.

Tanggal 30 Mei 1619, Coen berhasil menduduki Jayakarta dan hanya kehilangan 1 orang prajuritnya yang tewas. Kota pelabuhan itu pun dibumihanguskan sebelum diduduki sepenuhnya oleh VOC. Selain itu, tulis Joko Darmawan dalam Sejarah Nasional: Ketika Nusantara Berbicara (2017), VOC juga berhasil mengusir orang-orang Inggris sekaligus menaklukkan Kesultanan Banten dengan kemenangan mutlak.

Di atas puing-puing Jayakarta, Coen memerintahkan pembangunan benteng baru yang lebih besar dan kuat. Selain itu, ia juga membangun kota kecil untuk tempat bermukim orang-orang yang telah turut bertempur bersamanya.

Nama Jayakarta pun diganti dengan Batavia yang nantinya digeser agak ke tengah sebagai pusat pemerintahan VOC. Dari kota inilah Belanda mampu menaklukkan hampir seluruh wilayah Nusantara dan menjajahnya hingga berabad-abad lamanya. Setelah Belanda kalah dari Jepang pada 1942 dalam Perang Dunia Kedua, nama Batavia diganti menjadi Jakarta. Dan, sejak proklamasi kemerdekaan dinyatakan pada 17 Agustus 1945, Jakarta ditetapkan sebagai ibu kota negara RI dan menjadi pusat pemerintahan hingga saat ini. (Iswara N. Raditya)

Posting Komentar

0 Komentar