kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Ki Hadjar Dewantara, Pendulum Sejarah Hari Pendidikan Nasional. Melawan dengan tulisan ‘Als Ik Eens nederlander Was’



BUTONMAGZ--Setiap tanggal 2 Mei seluruh masyarakat Indonesia merayakan sebuah hari istimewa, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir dari Ki Hadjar Dewantara. Ia pahlawan yang berjasa besar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara lahir di Pakualaman, Yogyakarta tepatnya pada tanggal 2 Mei 1889. Atas jasa-jasanya dalam perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Beliau dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional pada tahun 1959.

Sebelumnya  Ki Hajar Dewantara bernama lengkap Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara) beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun;

Ia adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Perjuangan Ki Hadjar Dewantara bermula dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa, merupakan sebuah tempat yang memberikan kesempatan bagi penduduk pribumi untuk menikmati pendidikan yang setara dengan mereka yang bekasta lebih tinggi. Maklum di zaman itu, pendidikan hanya khusus mereka yang berasal dari warga Belanda, kaum ningrat dan kaya terpandang.

Ki Hadjar Dewantara tak hanya getol memperjuangkan warga pribumu untuk bersekolah, tetapi tulisan-tulisannya kerap menohok tajam pemerintahan Belanda kala itu. Salah satu tulisan yang terkenal adalah “Als Ik Eens nederlander Was”, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Seandainya Saya Seorang Belanda”, karena tulisan tersebut Beliau akhirnya dibuang ke pulau Bangka oleh pihak Belanda.

Atas bantuan Deouwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo yang meminta agar beliau dipindahkan ke Belanda. Sekembalinya kembali ke tanah air, Beliau mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922, dimana lembaga tersebut menjadi tolak ukur dari awal konsep pendidikan nasional Indonesia.

Jejak dan Pencapaian Ki Hadjar Dewantara

Pendidikan pertama yang beliau terima adalah Sekolah Dasar ELS, kemudian melanjutkan pendidikan ke STOVIA atau yang umum disebut juga sebagai Sekolah Dokter Bumiputera yang merupakan sekolah milik Belanda. Sayangnya Beliau terlanjur jatuh sakit sehingga tidak sempat untuk menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut.

Ki Hadjar dikenal pula sebagai wartawan pada beberapa media seperti Oetoesan Hindia, De Express, Midden Java, Sedyotomo, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Ia kemudian diangkat sebagai Menteri Pendidikan pada saat Kabinet pertama Republik Indonesia terbentuk. Beliau juga sempat mendapatkan gelar Doktor kehormatan yaitu Doctor Honoris Cause, Dr.H.C. yang diberikan oleh UGM atau Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada tahun 1957.

Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia pada usia 70 tahun. Tepatnya pada tanggal 26 April 1959. Beliau ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia pada tanggal 28 November 1959 atas Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 tahun 1959. Sejak saat itu Hardiknas juga ditetapkan menggunakan tanggal lahir beliau yaitu tanggal 2 Mei.

Semboyan Terkenal Ki Hadjar Dewantara

Untuk mengerti sejarah Hardiknas dan makna Hari Pendidikan Nasional lebih jauh, ada semboyan terkenal milik Beliau yang hingga kini masih digunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Semboyan tersebut adalah “Ing Ngarsa Sung Tulada (dari depan, seorang pendidik harus memberikan teladan yang baik). Ing Madya Mangun Karsa (dari tengah, seorang pendidik harus dapat menciptakan prakarsa atau ide). Serta Tut Wuri Handayani (dari belakang, seorang pendidik harus bisa memberi arahan).

Makna dari “Ing Ngarsi Sun Tulodo” diartikan bahwa sebagai seorang pemimpin, harus memiliki sikap serta perilaku yang patut untuk menjadi di contoh oleh pengikutnya. Sedangkan “Ing Madyo Mbangun Karso” diartikan bahwa seorang pemimpin juga harus bisa berada di tengah-tengah untuk dapat membangkitkan atau membentuk niat para pengikutnya untuk terus maju dan  melakukan inovasi. Kalimat terakhir adalah “Tut Wuri Handayani” yang berarti bahwa seorang pemimpin jika berada di belakang. Kalimat terakhir ini pun dapat diartikan harus dapat memberikan motivasi serta dorongan untuk semangat kerja bagi para pengikutnya. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar