kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Jejak Bisnis Sultan Brunei di Indonesia

Sultan Haasnal Bolkiah - Brunai Darussalam (Antara)

BUTONMAGZ---Direproduksi dari tulisan Ringkan Gumiwang dari Tirto.ID menyebutkan beberapa hari ini, jagat maya dihebohkan dengan seruan untuk memboikot hotel-hotel mewah milik Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, setelah diberlakukannya aturan hukuman mati bagi kaum LGBT di Brunei Darussalam mulai April 2019.

Seruan boikot itu datang dari selebritas dunia seperti George Clooney dan Ellen DeGeneres. Mereka protes terhadap aturan tersebut, dan mendorong publik untuk bersama-sama memboikot hotel-hotel mewah milik sultan yang berada di Eropa dan AS.

“Brunei mulai merajam LGBT sampai mati. Kita perlu melakukan sesuatu sekarang. Tolong boikot hotel-hotel yang dimiliki Sultan Brunei. Angkat suara Anda sekarang. Sebarkan berita. Bangkit,” ujar Ellen di akun Twitter @TheEllenShow.

Dalam cuitannya, Ellen menyebutkan sedikitnya sembilan nama hotel mewah yang diyakini milik Sultan Brunei yang ada di AS dan Eropa, di antaranya seperti The Dorchester (Inggris), 45 Park Lane (Inggris), Coworth Park (Inggris). Kemudian, The Beverly Hilton Hotel (Amerika Serikat), Hotel Bel-Air (Amerika Serikat), Le Meurice (Prancis), Hotel Plaza Athénée (Prancis), Hotel Principe di Savoia (Italia), dan Hotel Eden (Italia).

Sembilan hotel mewah tersebut saat ini dikelola oleh Dorchester Collection, yang merupakan milik Brunei Investment Agency (BIA), sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan Brunei yang bertanggung jawab mengurus investasi di luar negeri. Istilahnya adalah Sovereign Wealth Fund, semacam Temasek di Singapura.

Meski ada seruan boikot, Sultan Brunei tentu tidak akan ambil pusing. Bila ada penurunan okupansi hotel, tentunya tidak menjadi masalah, mengingat ia adalah salah satu orang terkaya di dunia.

“Kekayaan Hassanal Bolkiah mencapai lebih dari US$20 miliar, tentu dapat dengan mudah menyerap setiap penurunan pemesanan [kamar hotel],” kata pengamat bisnis perhotelan dan wisata Jane Mulkerrins dikutip dari Telegraph.

Selain itu juga, aksi boikot ini bukanlah yang pertama kali. Pada 2014, hotel yang sama mendapat seruan sejumlah publik figur dan organisasi untuk diboikot. Namun pelan-pelan seruan itu lenyap, dan semuanya berjalan seperti biasa.

Terlepas dari isu boikot tersebut, Sultan Brunei memang punya pundi-pundi pendapatan dari luar negeri. Selain Eropa dan AS, Brunei melalui BIA juga berinvestasi di negara-negara lainnya, seperti Australia dan Malaysia. Tahun lalu, BIA kembali berinvestasi di luar negeri. Kali ini, perusahaan ventura asal Inggris, yakni Draper Esprit PLC mendapatkan suntikan dana senilai 20 juta poundsterling dari BIA.

Dari suntikan dana itu, sebanyak 6,6 persen saham Draper Esprit dipegang BIA. BIA fokus mencari peluang investasi di luar negeri bukan tanpa sebab. Pundi-pundi pendapatan Brunei selama ini sangat bergantung dari minyak dan gas (migas), pada waktunya pasti akan habis. Menurut British Petroleum (BP), cadangan minyak Brunei diprediksi akan habis pada 2035 atau kurang lebih tinggal 16 tahun lagi. Keterbatasan sumber daya alam inilah yang menjadi salah satu alasan didirikannya BIA. Selain itu, harga minyak juga rentan turun.

Bagi Brunei ini adalah berita buruk. Saat tren harga minyak pada 2014-2016 sedang menurun, penerimaan negara Brunei anjlok 70 persen. Nilai PDB Brunei juga anjlok 33 persen menjadi US$11,4 miliar. Alasan lainnya, potensi sumbangan pendapatan luar negeri dari BIA tidaklah kecil. Apabila investasi yang ditanam di suatu negara tepat sasaran, bukan hal yang mustahil uang miliaran dolar mengalir deras ke Brunei.

Mengutip buku berjudul “Historical Dictionary of Brunei Darussalam” (2016) yang ditulis Jatswan S. Sidhu, pendapatan BIA dari luar negeri pada 1998 saja ditaksir mencapai US$2,32 miliar. Aset BIA ditaksir menembus US$40 miliar.
 
Bisnis Hotel Brunei di Bali 
 
Brunei juga berinvestasi di Indonesia melalui PT Sejahtera Indoco, BIA menjalankan sebuah hotel berbintang lima di Indonesia bernama Nusa Dua Hotel Beach & Spa. Dalam akta perusahaan yang tercatat di Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia per 24 Oktober 2018, BIA merupakan pemegang saham mayoritas di PT Sejahtera Indoco, sebanyak 95 persen.

Sementara itu, sisanya 5 persen dipegang oleh PT Citra Lamtoro Gung Persada. Perusahaan yang berlokasi di Jakarta Pusat ini juga diketahui milik Siti Hardijanti Hastuti, putri pertama dari Presiden kedua Soeharto.

Tirto mencoba mengkonfirmasi terkait porsi kepemilikan saham BIA di PT Sejahtera Indoco, General Manager Nusa Dua Hotel Beach & Spa Jamal Hussain belum menjawab atau memberikan keterangan, sampai artikel ini dirilis.

Nusa Dua Hotel Beach & Spa berdiri pada Mei 1983, dan diresmikan langsung oleh Soeharto. Kala itu, hotel bintang lima ini dimiliki PT Aerowisata, anak usaha dari PT Garuda Indonesia Tbk. Selang tujuh tahun beroperasi, PT Aerowisata menjual hotel tersebut kepada PT Sejahtera Indoco.

Setelah diambilalih, hotel sempat tidak beroperasi selama dua tahun mulai Desember 1993 karena direnovasi. Biaya yang dihabiskan untuk renovasi saat itu mencapai US$22 juta. Hotel baru beroperasi kembali pada Januari 1996. Ketika resmi dibuka, hadir Menteri Keuangan Marie Muhammad, dan Menteri Pembangunan Brunei Ismail Damit.

Saat ini, Nusa Dua Beach Hotel & Spa menjadi salah satu hotel bintang lima di Bali yang ramah bagi Muslim karena sudah menyediakan restoran yang mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). (**)

Posting Komentar

0 Komentar