kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Jan Pieterszoon Coen tentang Pelabuhan Baubau; “Hier is een zeer schooner reede en de baye”

Baoebaoe, koleksi Troppenmuseum

BUTONMAGZ--artikel masih berkaitan dengan penamaan Wolio memberi banyak pengetahuan pada generasi Buton masa kini. Artikel ini dinukil dari jurnal berjudul “Wolio, Buton, atau Baubau Sebagai Wacana Nama Kota Baubau (Identitas dan Transformasi Nilai Budaya Kesultanan Buton)” yang ditulis Tasrifin Tahara (Antropolog Unhas) dan Syamsul Bahri Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. pada bagian ini, dibahas banyak hal berkaitan Baubau sebagai kota maritim, seperti nukilannya berikut ini;
--------------------------------

Buton diklasifikasi sebagai wilayah kepulauan (perairan) dengan Pelabuhan Baubau merupakan tempat yang indah. Hal ini seperti diungkapkan oleh J.P. Coen dalam suratnya kepada Bewindhebber di Banten pada 1614 perihal komentarnya mengenai pelabuhan alam Baubau, ketika ia berkunjung ke Baubau pada 1613. Dalam suratnya Coen menulis “Hier is een zeer schooner reede en de baye” (disini terdapat suatu teluk yang sangat indah). 

Posisi pelabuhan ini sangat memadai bagi persinggahan perahu dan kapal layar dari barat ke timur dan sebaliknya. Pelabuhan Baubau terletak di bagian barat Pulau Buton serta menghadap ke Pulau Muna, dengan kelebihan terlindung dari hempasan angin musim barat maupun timur. Baubau merupakan pelabuhan (kota pantai) yang paling dekat dengan ibu kota kerajaan. Kota ini berada di tepian sungai Buton yang berfungsi untuk menghubungkan ke wilayah pedalaman (Syakir Mahid dkk, 2012).

Wilayah Kota Baubau pada masa kesultanan merupakan salah satu dari dua kadie inunca (bagian dalam) selain Sorawolio. Wilayah ini dipimpin oleh Lakina Baubau yang letaknya sepanjang wilayah pesisir dari Kokalukuna hingga Kotamara.  Secara etimologi kata “Baubau” berasal dari dua perspektif. Pertama, berdasarkan konsepsi lokal (orang Buton) yang berasal dari kata “bhaau” yang berarti baru. Hal ini didasari atas sebuah wilayah baru yang cukup ramai setelah wilayah Wolio (Keraton). Kedua, berdasarkan konsepsi orang luar yang berasal dari Bahasa Melayu yakni bau yang berarti aroma hasil penciuman. Kondisi ini didasari karena wilayah pelabuhan, jembatan batu, dan pasar sungguh menghasilkan bau yang kurang sedap.

Baubau saat itu menjadi pusat perdagangan disamping pusat sejarah dan kebudayaan Buton. Posisi pelabuhan Baubau sebagai pusat pengumpul (collecting center) yang memperoleh pasokan komoditas tertentu dari pelabuhan-pelabuhan berukuran kecil. Kondisi ini dicirikan oleh, (1) pelabuhan alam yang baik, (2) tempat pesinggahan yang dilengkapi dengan bahan pangan dan sebagai pasar lokal, (3) tempat yang baik dan memiliki pedalaman yang kaya, dan (4) menjadi emporia besar dikawasannya dan merupakan tempat perakitan barang-barang yang berasal dari pelabuhan-pelabuhan berukurang kecil. 

Pelabuhan-pelabuhan kecil bagi Baubau adalah pulau-pulau sekitar Muna yang menghasilkan jati, Kabaena yang meproduksi beras, Kaledupa yang memproduksi alat-alat dari besi, dan dari pedalaman Pulau Buton menghasilkan jagung dan ubi-ubian, serta wilayah pantai di Sulawesi Tenggara yang memiliki kekayaan laut.

Letak Baubau sebagai kota pesisir berkembang seiring dengan perkembangan dan tuntutan pasar yang menghendaki adanya movilitas tinggi. Perluasan infrastruktur kota pada 1900-an sampai akhir perkembangan masa pemerintahan Hindia Belanda di Buton ke daerah-daerah yang memiliki sumber-sumber ekonomi tinggi di pasar internasional seperti aspal di Pasarwajo dan Banabungi, sedangkan di Muna eksploitasi jati digunakan untuk kepentingan ekonominya.

Posisi strategis Baubau menarik minat suku-suku perantau dan pedagang yang berasal dari Buton dan Makassar yang sangat mendukung pertumbuhan kota. Diaspora dan kebutuhan akan tempat tinggal dalam kota serta pertukaran barang dan jasa menjadikan Baubau cepat berkembang karena mereka intensif berinteraksi di pasar. Pemukiman mereka tersebar dalam kota seperti Kampung Bone, Wajo, Wolio, Tomba, dan Wale. 

Pemukiman tersebut tidak jauh dari pasar Kota Baubau yang saat itu dikenal dengan jembatan batu. Pasar ini adalah pasar pertama yang ramai di Kota Baubau. Kemudian pada masa Hindia Belanda dibangun pasar yang saat ini menjadi Gedung Bank Negara Indonesia 46 Cabang Baubau dekat Jembatan Gantung.

Infrastuktur dalam kota yang merupakan peninggalan kolonial  dan sekolah Cina (arsitektur kolonial)  hingga saat ini masih terlihat.  Perumahan yang diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Buton, yang rumah dinas bupati/walikota dan beberapa rumah dinas lainnya. Kemudian pada tahun 1920-an Pemerintah Hindia Belanda mendirikan berbagai fasilitas kota seperti gudang, rumah sakit umum, rumah sakit lepra, sekolah dan penjara. Selain sekolah Cina  yang bangunannya dijadikan sebagai kantor pelayanan pajak dinas pendapatan Kota Baubau dan beberapa sekolah lainnya.

Dinamika politik yang dominan sangat mempengaruhi perkembangan dan perluasan Kota Baubau. Kota ini sangat berkembang ketika masih berada dalam kontrol kekuasaan Belanda. Seiring masuk pemerintahan Indonesia pasca kemerdekaan, maka Kota Baubau mengalami kemunduran. 

Lemahnya kontrol dan kekuasaan sultan waktu itu, serta banyaknya konflik internal sangat berpengaruh terhadap lajunya pertumbuhan kota. Hanya saja di sisi politik, kota menjadi lebih hidup dan bergairah  demokrasi. Tokoh-tokoh lokal muncul untuk merespon perubahan situasi yang diwarnai dengan kebebasan termasuk mempertanyakan kelangsungan dan pergantian kekuasaan untuk mengontrol masyarakatnya pada tingkat lokal.

Sebelum pemilu 1955 Baubau adalah ibu kota Kabupaten Sulawesi Tenggara berdasarkan Peraturan Pemerintah No.34 tahun 1952. Adapun beberapa kewenangan yang dimiliki adalah mengurus hal-hal, sebagai berikut: (1) urusan umum (tata usaha) sendiri, (2) urusan pemerintahan umum, (3) urusan pertanian, perikanan, dan kehutanan, (4) urusan pengairan, jalan, dan jembatan, (5) urusan ekonomi dan lainnya seperti kehewanan, (6) urusan pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan, serta (7) urusan kesehatan masyarakat.  

Sedangkan partai politik yang tercatat dalam pemilu tahun 1955 adalah Masyumi, PNI, PSII, PSI, Parkindo, Partai Katolik, Partai Kedaulatan Rakyat, Partai Buruh, dan Permai. Anggota partai politik kebanyakan dari pegawai negeri, pegawai daerah, jawatan buruh, guru sekolah rakyat, kepala distrik dan kepala kampung. Partai yang banyak diminati adalah Masyumi dan PNI karena tokoh-tokohnya tidak ada yang buta huruf. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar