kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297


Bissu, gender kelima dari tanah Bugis

Bissu Acce hingga sekarang setia menjaga bola ridie (rumah kuning) yang berisi banyak pusaka peninggalan kerajaan Soppeng | Hariandi Hafid /Beritagar.id

BUTONMAGZ---Tulisan ini disadur langsung dari portal Beritagar.Id yang berkisah tentang keberadaan Bissu. ,Di zaman kerajaan, Bissu punya peran penting. Kini keberadaan mereka terancam.

Suatu pagi di pertengahan Januari 2017, ratusan orang dengan aneka dandanan tumpah ruah di Lapangan Gasis Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Mereka bersiap menggelar parade busana dan berlomba mengikuti beragam cabang olahraga.

Sebagian besar dari orang-orang itu adalah transgender yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Bahkan ada pula yang khusus datang jauh dari Papua, Nusa Tenggara Barat, hingga Batulicin, Kalimantan Selatan.

"Ada juga yang datang dari Malaysia. Total ada 600 orang yang hadir," kata Ria Askari saat Beritagar.id menyambangi kediamannya di Dusun Sewo, Kecamatan Lalabata (22/6/2017).

Ria merupakan Ketua Kerukunan Waria Soppeng yang kala itu dinobatkan sebagai ketua panitia pelaksana Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) waria dan bissu. Acara ini diinisiasi oleh Kerukunan Waria Sulawesi Selatan.

Porseni yang rencananya berlangsung 19-22 Januari 2017 kenyataannya tidak pernah terlaksana. Ria alias Askar Mampo menceritakan ihwal batalnya semua agenda kala itu. Dengan berapi-api ia menegaskan bahwa Forum Umat Islam (FUI) Soppeng adalah dalang pembatalan tersebut.

FUI sejak awal kukuh menentang pelaksanaan Porseni waria dan bissu. Padahal kata Ria, bukan kali pertama acara serupa digelar di kabupaten berjuluk "Tanah Kalong" tersebut. "Ini sudah yang keempat kalinya, sejak dilaksanakan pertama kali tahun 1993."

Pemerintah Daerah Soppeng bahkan sudah mengeluarkan rekomendasi. Pun dengan Kepolisian Resor Soppeng. Semua persiapan acara juga sudah rampung. Hanya saja, sejak mediasi dan dengar pendapat di DPRD Soppeng, acara ini terus mendapat rintangan. Mediasi ini diinisiasi oleh FUI yang tidak setuju beberapa item lomba dalam Porseni.

Mereka menentang lomba azan, mengaji, dan lomba busana pakaian ihram yang ikut dalam agenda. Panitia akhirnya setuju lomba itu ditiadakan. Tapi acara tetap tak jadi dilaksanakan. Mereka bahkan dibubarkan paksa oleh polisi. Sejumlah orang juga sempat mendengar suara tembakan.

Sejak saat itu, hubungan pemuka agama dengan kelompok transgender di Soppeng tak seharmonis dulu lagi. Ria bahkan pernah berperkara hukum lantaran dihasut oleh salah seorang pemuka agama Al Wahdah. Ia dianggap sebagai titisan dajjal dan dilarang merias pengantin.

"Alasannya karena itu bukan muhrim kami. Bahkan ia menuduh waria itu menular," kata Ria tak habis pikir.

Walaupun tak menampik berada di balik pembubaran paksa Porseni waria dan bissu kala itu, Koordinator FUI Soppeng K. M. Sulaiman yang ditemui di Pasar Sentral Cabange, Pajalesang, menolak disalahkan. Ia menegaskan hanya memberi rekomendasi. Polisi yang punya kewenangan mengeksekusi.

FUI Soppeng tidak ada kaitannya dengan FUI yang di Jakarta dan Makassar. Forum ini dibuat khusus menentang pergelaran seni waria. Unsur-unsur yang ada di dalamnya termasuk Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Wahdah, HTI, MUI, dan Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Soppeng. Pada organisasi yang disebutkan terakhir, Sulaiman menjadi ketuanya.

FUI mempersilakan Porseni dilaksanakan asal jangan berpakaian laiknya perempuan. Apalagi ada unsur agamanya.

Sejak penolakan Porseni waria dan bissu di Soppeng, banyak masyarakat menyamaratakan kelompok orientasi seks yang berbeda ini. Sulaiman bahkan dengan tegas mengatakan, ia tak peduli apa itu waria dan bissu. Menurutnya, hanya ada dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Waria dan bissu sama saja.

Mengenal bissu dan waria

Dua orang pria paruh baya berjalan memasuki salon di Pasar Sigeri, Kabupaten Pangkep, saat Beritagar.id menunggu di depannya. Keduanya mengenakan peci dan bersarung sedikit di atas mata kaki. Nampak jelas mereka tokoh masyarakat yang terpandang di kawasan itu. Tak lama kemudian seseorang yang mengenakan rok pendek keluar.

Ia menyapa kedua pria tersebut dengan sebutan Pak Haji. Mereka diminta menunggu karena pelanggan sedang ramai. Di dalam ruangan kecil itu memang penuh orang. Ada pria dan wanita. Bahkan beberapa anak-anak yang didampingi orang tuanya datang untuk sekadar mencukur rambut.

Keduanya pun menunggu hingga akhirnya seseorang berbaju merah datang. Dari jauh ia tampak berbeda dengan pegawai salon yang didatangi kedua pria tadi. Perawakannya sederhana, rambutnya tidak panjang namun diikat baik. Suaranya pun tegas, meski tetap menunjukkan sisi feminin. Namanya Bissu Eka.

Setelah menyapa, Beritagar.id diajak ke gudang penyimpanan peralatan pernikahan miliknya, tepat di seberang jalan. Sejak delapan tahun lalu Bissu Eka banting setir jadi indo' botting (perias pengantin). Ia terbilang sukses di bisnis tersebut. Rumahnya bahkan ada di tiga lokasi.

Ia menegaskan bahwa bissu adalah calabai, tapi tidak semua calabai adalah bissu. Berdasarkan tradisi dan kepercayaan Bugis kuno, ada lima gender dalam kehidupan sosial.

Bissu merupakan gender kelima selain perempuan (makunrai), laki-laki (uroane), perempuan berpenampilan laki-laki (calalai), dan laki-laki berpenampilan perempuan (calabai).

Pemilik nama asli Kahar ini dapat julukan adat Sanro Lolo (Bissu Lolo) atau generasi bissu muda. Ia miris melihat penyamarataan persepsi antara bissu dan waria.

"Menjadi bissu itu tidak mudah. Itu panggilan jiwa dan petunjuk dari dewata. Ada syarat dan ciri khusus," kata Bissu Eka yang mengajak pindah ke rumah ketiganya di Jalan Poros Trans Sulawesi.

Salah satu ciri utama bissu harus mellebbi (tidak genit). Juga siap melakukan apa saja demi melayani raja. Karena saat ini sudah tak ada raja untuk dilayani, mereka harus merawat semua benda pusaka peninggalan kerajaan. Mereka juga punya peran penting dalam setiap upacara adat.

Sharyn Graham, seorang peneliti dari University of Western Australia dalam makalahnya, Sulawesi's Fifth Gender (2007), dengan gamblang menjelaskan bahwa bissu tidak bisa disamakan dengan banci atau waria.

Hal serupa ditegaskan pula oleh Prof. A. Halilintar Lathief dalam buku berjudul Tari Bissu di Sulawesi Selatan: Kajian Antropologi Tari Ekstase Bugis.

Banyak kelompok memang tidak mau melihat akar sejarah tersebut. Pada era 1950-an misalnya. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar menggelar Operasi Tobat yang membuat banyak bissu ketakutan. Saat itu banyak bissu yang dibantai dan dibunuh.

Beberapa yang lain lari bersembunyi. Di Pangkep, ada satu gua yang mereka jadikan tempat persembunyian. Tempatnya pun masih ada. Jaraknya sekitar dua-tiga jam jalan kaki dari Kecamatan Sigeri.

Setelah api pemberontakan DI/TII dipadamkan pemerintah, muncul rintangan lain bernama Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski tidak melakukan pembantaian massal, namun bissu diminta kembali jadi laki-laki sebagaimana harusnya. Mereka juga dianggap sebagai kaum tak bertuhan karena masih meyakini ajaran dewa dan animisme.


Bissu Nisa, satu-satunya bissu dari jenis kelamin perempuan (calalai), yang juga mendapat julukan sebagai sanro alias tabib | Hariandi Hafid /Beritagar.id

Generasi terakhir

Peristiwa di Soppeng bagaimana pun berdampak luas bagi bissu. Meski di Pangkep hal ini tidak begitu nampak. Namun sentimen negatif kepada mereka sering kali dilontarkan masyarakat. Bahkan Bissu Eka, sebelum didaulat jadi Sanro Lolo pada tahun 2002, harus mengalami masa getir.

Ia pernah minggat dari rumah dan keluar provinsi. Bekerja serabutan dan tak beda dengan transgender kebanyakan. Keluarganya menolak jalan hidup yang ia pilih. Namun akhirnya mendapat wangsit lalu pulang membangun bisnis. Saat ini, ia kembali diterima. Malahan telah banyak orang yang dihidupinya dengan layak.

Salah satunya Ilham Dhany. Pemuda asal Nanggroe Aceh Darussalam yang telah ikut dengannya kurang lebih empat tahun. Ilham bertugas mengerjakan hal-hal berat jika ada pesta pernikahan yang menggunakan jasa Salon Eka.

Meski telah berkecukupan. Bissu Eka tetap miris melihat tidak adanya regenerasi bissu. Bahkan ia juga prihatin dengan banyaknya orang mengaku bissu dan menjadikan gelar adat ini sebagai bisnis. Misalnya meminta uang jasa yang banyak kepada seseorang atau kelompok lain yang hendak melihat tradisi bissu.

Salah satu tarian yang paling sering dipertontonkan adalah ritual manggiri'. Ritual ini memperlihatkan kehebatan bissu yang tak mempan ditusuk senjata tajam, seperti badik dan keris. Di Pangkep, ritual ini dilakukan setahun sekali pada saat memasuki musim tanam.

"Bissu bicara pengabdian, bukan tontonan apalagi cara mencari uang," ucap Bissu Eka lirih.

Pada masa kerajaan sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, bissu selalu mendapat bagian paling penting dalam satu ritual adat.

Mereka dipercaya sebagai sosok suci yang mampu berkomunikasi dengan dewa-dewa di langit. Bahasa yang digunakan pun hanya mereka yang paham, yakni bahasa to rilangi atau orang di langit.

Para bissu kemudian ditempatkan di istana dengan segala fasilitas mewah yang diberikan raja. Saat ini, meski istana kerajaan-kerajaan Bugis masih ada, kehidupan mereka tidak lagi menentu.

Beritagar.id diajak menemui Bissu Nisa, seorang bissu pance' (bissu perempuan). Ia adalah satu-satunya bissu berjenis kelamin perempuan (calalai). Butuh 20 menit menggunakan kendaraan dari Pasar Sigeri untuk mencapai rumahnya yang sangat sederhana.

Rumah itu dikelilingi sawah dan hanya terdapat satu kamar tidur. Di kamar tersebut sejumlah peralatan kebissuan tersimpan.

Bissu Nisa tidak bekerja layaknya bissu pada umumnya. Satu-satunya sumber penghasilannya dari belas kasih orang-orang yang datang berkunjung. Gelar sanro yang juga melekat padanya berarti sebagai tabib.

Saat berkunjung ke rumahnya, Beritagar.id diminta menyiapkan dua buah amplop berisi uang dengan nominal tak ditentukan.

Amplop itu diserahkan kepadanya bersama daun sirih dan buah pinang yang kemudian dibacakan mantra di dalam kamar berisi pusaka dewata. Hal ini disebut lissu ata, semacam penghantar untuk berkomunikasi.

Di Kabupaten Soppeng juga demikian. Bola ridie (rumah kuning) yang dijaga oleh Bissu Acce juga melakukan ritual lissu ata sebelum bicara panjang lebar terkait bissu.

Rumah yang dijaganya itu terdapat banyak pusaka peninggalan kerajaan Soppeng. Ketika Beritagar.id berkunjung ke tempat itu, masih banyak warga yang datang dan minta didoakan.

Beberapa ada yang membawa sejumlah beras. Jumlahnya berbeda-beda, tergantung berapa anggota keluarga.

Beras tersebut kemudian didoakan oleh Bissu Acce dengan membakar lilin dari rempah-rempah. Lilin itu mereka sebut lampu to lino, lampunya orang-orang di dunia.

Sebagai imbalan, orang-orang tersebut diperkenankan mengambil air dari guci tua di samping tempat tidur raja-raja. Air itu dipercaya mampu menyembuhkan banyak penyakit.

Tradisi demikian masih terjaga hingga detik ini. Meski jumlah bissu tidak lagi banyak. Namun generasi yang sekarang terus merawatnya dengan penuh suka cita.

Komunitas bissu juga terus berharap suatu saat akan datang sosok pengganti Bissu Puang Matoa Saidi yang berpulang pada 2007.

Sebenarnya komunitas bissu di Sulawesi Selatan telah menunjuk Bissu Julaiha sebagai pengganti sementara Puang Saidi. Tapi pengangkatannya tidak permanen, karena untuk mengangkat seseorang jadi kepala bissu harus atas keputusan pejabat dewan adat dengan beberapa tanda-tanda yang diyakini.

"Tanda-tanda itu belum nampak di Bissu Julaiha," ungkap Bissu Eka.

Beritagar.id mencoba menemui Bissu Julaiha di kediamannya, namun ia sedang ke Kalimantan. Begitu pula dengan Puang Lolo yang saat ini didapuk oleh Wa' Nani. Ia berkunjung ke keluarganya di Sorong, Papua. Puang Lolo dalam struktur kebissuan merupakan wakil ketua.

Tidak ada yang bisa memastikan, berapa jumlah bissu di Sulawesi Selatan hingga hari ini. Eman Memay Harundja, Ketua Komunitas Sehati Makassar, juga tak memiliki data. Namun ia yakin, eksistensi bissu di Pangkep, Sidrap, Bone, dan Soppeng terus hidup. Meski tragedi di Soppeng mencoreng wajah keberagaman.

"Secara adat, transgender bisa diterima dengan lapang. Mereka dihargai. Tapi dalam kehidupan sosial mereka hidup dalam ketakutan. Sebagian terdiskriminasi," ungkapnya saat berdiskusi di warung kopi tentang LGBT di Makassar.

Selain kelompok agamais yang tidak menerima keberadaan bissu di Sulawesi Selatan, pemerintah juga terkesan acuh tak acuh. Mereka biasanya dicari ketika ada acara adat saja. Atau ketika ada event yang hendak menampilkan bissu sebagai objek.

Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Soppeng Supriansa ketika ditemui di ruang kerjanya. Ia mengaku memang tak tahu banyak mengenai bissu. Tapi baginya, posisi bissu cukup berpengaruh pada prosesi adat.

"Semisal acara pernikahan anak bupati kemarin, mereka (bissu, red.) harus ada di sana," katanya.

Bupati Soppeng A. Kaswadi Razak memang berasal dari keluarga kerajaan. Jadi wajib hukumnya menggelar acara pernikahan dengan menampilkan tarian mabbissu. Sayangnya ketika acara tersebut diselenggarakan, pembubaran Porseni waria sudah terjadi. Alhasil beberapa bissu enggan hadir.

Imbasnya tarian yang seharusnya diikuti oleh 24 orang bissu hanya diikuti enam orang saja. Itupun tidak semuanya bissu. Ria Askari salah satunya. Bahkan ia dibenci oleh rekan-rekannya, lantaran ikut dalam acara adat tersebut. Kelompok waria dan bissu di Soppeng memang tidak mudah melupakan peristiwa 19 Januari. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019