kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Teripang, Biota Laut Si Pencegah Kanker. Di perairan Buton banyak!


  • Kekayaan laut Indonesia menyediakan beragam kebutuhan pangan dan obat-obatan, salah satunya teripang untuk obat anti kanker
  • LIPI terus melaukan penelitian dan pengembangan bahan aktif dari organisme laut sebagai agen antikanker, serta pangan untuk mencegah penyakit kanker
  • Sejumlah organisme laut yang berpotensi untuk menjadi bahan antikanker dan pencegahan kanker, adalah spons laut, mikroba yang berasosiasi dengan spons laut dan mikroba laut dalam, teripang, ikan dan alga.
  • Selain berpotensi obat, teripang menjadi komoditas hasil laut untuk ekspor sehingga mengalami overfishing di Indonesia. Bahkan telah ditetapkan sebagai satwa terancam oleh IUCN. Oleh karena itu P2O LIPI mengembangkan budidaya teripang skala komersial

BUTONMAGZ--Kekayaan laut Indonesia sudah lama dikenal ke penjuru dunia sebagai salah satu yang terkaya di dunia. Tidak hanya menyediakan beragam kebutuhan pangan, laut Indonesia juga memiliki kekayaan berupa obat yang ada dalam tubuh biota laut. Salah satunya, adalah obat untuk penyakit kanker, penyakit yang ditakuti dunia karena keganasannya.

Kementerian Kesehatan pernah merilis hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) dan menjelaskan bahwa prevalensi kanker sudah mengalami peningkatan dari 1,4 persen pada 2013 menjadi 1,8 persen pada 2018. Angka itu menunjukkan, bahwa penyakit kanker menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia.

Tidak hanya itu, jumlah penderita kanker di seluruh dunia juga dari waktu ke waktu terus memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Dari laporan yan dirilis oleh International Agency for Research on Cancer dari organisasi kesehatan dunia (WHO) diperkirakan sebanyak 18,1 juta kasus kanker baru dan 9,6 juta kematian diakibatkan kanker terjadi sepanjang 2018.

Bagi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), fakta-fakta di atas menjadi bentuk keprihatinan yang harus dilawan dan dicarikan obatnya. Di antara upaya yang bisa dilakukan, adalah dengan memanfaatkan kekayaan biota laut untuk dijadikan obat kanker. Hal itu diungkapkan peneliti Pusat Penelitain Oseanografi (P2) LIPI Ratih Pangestuti di Jakarta, pekan lalu.

“Beragam obat anti kanker sebenarnya sudah tersedia sejak lama. Namun sejak akhir 1980-an, sekitar 80 persen obat anti kanker yang tersedia di pasar adalah produk alami atau sintesis dari produk alami,” ujarnya.

Menurut Ratih, dengan fakta tersebut, Indonesia bisa mengembangkan obat dengan menggunakan bahan baku dari biota laut. Terlebih, sebagai negara kepulauan, perairan Indonesia dikenal memiliki kekayaan biota laut yang sangat beragam. Sebut saja spons laut, kelinci laut, tunikata, karang lunak, rumput laut, sampai moluska.

“LIPI berkomitmen untuk meneliti dan mengembangkan bahan aktif dari organisme laut sebagai agen antikanker, serta pangan untuk mencegah penyakit kanker,” jelasnya.



  

Sumber Pangan

Ratih menuturkan, konsep pangan yang disebut di atas, adalah pangan atau komponen makanan yang berfungsi untuk meningkatkan kondisi ketahanan tubuh dan mengurangi resiko terjangkitnya berbagai macam penyakit, di antaranya adalah kanker. Untuk saat ini, pengembangan bahan baku obat dari organisme laut dilakukan dengan menggandeng perusahaan farmasi dari Spanyol, Pharma Mar.

Ratih mengungkapkan, sejumlah organisme laut yang berpotensi untuk menjadi bahan antikanker dan pencegahan kanker, adalah spons laut seperti jenis Melophlus sarassinorum yang berasal dari perairan Makassar (Sulawesi Selatan), mikroba yang berasosiasi dengan spons laut dan mikroba laut dalam, teripang– termasuk teripang pasir dan teripang emas, ikan dan alga.

“LIPI mengoleksi 50 jenis teripang untuk dilakukan identifikasi senyawa aktifnya dan aktivitas anti kanker,” jelasnya. (sumber mongabay)

Posting Komentar

0 Komentar