kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Tentang Abu Sayyaf, kelompok teroris di Filipina penyandera 2 Warga Wakatobi

Kelompok Abu Sayyaf di Filipina - foto aljazera.com

BUTONMAGZ--Abu Sayyaf, belakangan ini terus mencuat di informasi dunia sebagai gembong teroris internasional. Indonesia pun mulai dipusingkan dengan aksi-aksi mereka, setelah media pemberitaan mengabarkan 2 WNI asal Wakatobi-Sultra; Heriadin dan Heri – pria dari Dusun la Bante Kalimas – Kaledupa di sandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Mereka juga meminta tebusan sebesar Rp. 10 Milyar, jika hendak dibebaskan.

Lalu tahukah Anda tentang kelompok ini? kelompok Abu Sayyaf atau dibeberapa literatur disebut  Jamāʿat Abū Sayyāf, di Filipina disebut  Grupong Abu Sayyaf,  secara tidak resmi dikenal sebagai bagian dari ISIS di Filipina, juga dikenal sebagai Al Harakat Al Islamiyya. Mereka  adalah kelompok separatis yang terdiri dari milisi yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao.

Khadaffi Janjalani adalah nama pemimpin kelompok ini oleh Angkatan Bersenjata Filipina.

Dilaporkan bahwa akhir-akhir ini mereka sedang memperluaskan jaringannya ke Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Kelompok ini bertanggung jawab terhadap aksi-aksi pengeboman, pembunuhan, penculikan, dan pemerasan dalam upaya mendirikan negara Muslim di sebelah barat Mindanao dan Kepulauan Sulu, serta menciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya negara besar yang Pan-Islami di Semenanjung Melayu (Indonesia dan Malaysia) di Asia Tenggara.

Nama kelompok ini adalah bahasa Arab untuk Pemegang (Abu) Pedang (Sayyaf).

Abu Sayyaf dikenal sebagai kelompok separatis terkecil dan kemungkinan paling berbahaya di Mindanao. Beberapa anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan.

Janjalani membentuk pasukan bersenjata sendiri di luar kelompok Barisan Pembebasan Nasional Moro (MNLF).

Abu Sayyaf awalnya bernama Al-Harakatul Al Islamiyah atau 'Pergerakan Islam', tapi Janjalani menggantinya menjadi Abu Sayyaf sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Abdurrasul Sayyaf, pemimpin pemberontak di Afganistan.

Ketika pasukan Filipina membunuh Janjalani pada 1998 dalam baku tembak di Basilan, anak buah dia menggelar penculikan massal terhadap guru dan siswa di kawasan terpencil Tumahubong, Basilan.

Abu Sayaffa Group (ASG) kemudian pecah menjadi dua faksi: satu dipimpin oleh Khadafi Abubakar, adik Janjalani, dan satu lagi oleh Galib Andang.

Pada September 2006, Abubakar terbunuh oleh militer Filipina dan Andang ditangkap pada 2003 lalu dibunuh pada 2005 ketika mencoba kabur dari penjara. Sejak itu tidak jelas siapa yang memimpin kelompok yang kemudian terpecah-pecah ini.

Sejak mendirikan kelompoknya, Janjalani dan MNLF menginginkan terbentuknya negara Islam di Mindanao.

Meski secara ideologis mereka menganut paham jihadis, tapi kini mereka lebih dikenal sebagai kelompok penculik yang menuntut uang tebusan. Sejak 2007 mereka kian gencar menculik ketimbang melakukan penyerangan dengan bom.

Meski begitu mereka juga terlibat penyerangan, termasuk pengeboman dan pembunuhan dengan menargetkan militer, polisi, pelaku bisnis dan warga asing.

Data dari Global Terorism menyebut ASG di balik 340 serangan teroris sejak 1990 hingga 2014.

Pada Mei 2001, mereka menculik tiga warga AS dan menyandera 17 warga Filipina di Palawan. Sebagian tawanan dibunuh.

Februari 2014, mereka meledakkan sebuah kapal feri di Teluk Manila, menewaskan 16 orang.

Februari 2005, ASG dalang di balik sejumlah serangan bom di Manila, General Santos, dan Davao, sedikitnya delapan orang tewas dan melukai 150 lainnya.

November 2007, ASG diduga memasang bom di luar gedung parlemen, menewaskan satu anggota parlemen dan melukai tiga staf. Pada Januari 2009 mereka menculik tiga pekerja kemanusiaan internasional Red Cross di Sulu. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar