kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Taman Batu Tanduna Binongko dan Gua Kulati Tomia, “Pintu Keramat” Kepulauan Tukang Besi yang terancam rusak

Taman Batu Taduna - Binongko, Wakatobi

BUTONMAGZ--Dua pulau di ‘pintu masuk’ Kepulauan Tukang Besi (kini Wakatobi) yakni Binongko dan Tomia menyisakan banyak cerita mistis di dalamnya, bahkan masyarakat di kedua wilayah tersebut menganggap lokasi-lokasi tertentu sebagai kawasan keramat.   

Di Bonongko misalnya, ada kawasan yang masyarakatnya menyebut sebagai ‘taman batu Taduna’ yakni sebuah kawasan yang terdiri dari hamparan batu karang berwarna hitam sepanjang 500 meter. Ada yang menyebutnya sebagai ‘batu angus’. Tetapi, batu-batu karang sebesar mobil itu seperti tertata di perbukitan yang berbatasan dengan pantai.

Di atas bukit juga ada benteng dari susunan karang berwarna hitam, laksana tembok yang melegam. Konon, tembok benteng setinggi 150 centimeter itu untuk melindungi masyarakat dari perompak. Namun, sejak 1960-an, permukiman tersebut ditinggalkan warga. ”Taman batu merupakan tempat keramat. Kami sedang mengusahakan untuk menjadi daerah perlindungan agar tetap terjaga,” kata Amursan, Ketua Forum Nelayan Binongko, di Taman Batu Taduna yang dilansir Butonmagz beberapa waktu lalu.

Di sekitar Taman Batu terdapat menara mercusuar serta ekosistem tanaman mangrove. Untuk menuju lokasi ini harus melewati hutan mangrove yang sangat rimbun. Lebar batang kayunya lebih dari 25 sentimeter.

Sayangnya, kekeramatan taman batu Taduna-Binongko, terancam eksistensinya sebab tergerus pertambangan/penggalian batu karang. Bongkahan karang hitam dipecah-pecah sebagai material urukan jalan dan untuk membangun rumah.  Ini menarik perhatian banyak stakeholder, agar kawasan itu tetap terjaga.

“Usulan warga agar taman batu itu menjadi kawasan lindung harus didukung. Tempat ini sangat unik dan memiliki sejarah serta peninggalan budaya yang sangat tinggi. Kalau dibiarkan bisa rusak,” ujar Shaleh Hanan dari The Nature Conservancy di Wakatobi.

Lain di Binongko, lain pula di Tomia. Di sana terdapat goa yang dikeramatkan warga setempat. Namanya Goa Kulati, karena terletak di Desa  Kulati, berada di sekitar Pantai Huntete. Goa ini dikeramatkan, sebab dulunya menjadi tempat pemujaan bagi para pelaut setempat sebelum berlayar. Uniknya, dinding-dinding goa berwarna kekuningan.

Pantai Huntete - Tomia, Wakatobi

Kawasan Goa Kulati dan Pantai Huntete merupakan kawasan perairan yang memiliki banyak terumbu karang yang sangat rapat. Di sini, terdapat larangan melakukan penangkapan ikan atau biota lain. Harapannya, lokasi tersebut mampu menyediakan sumber ikan bagi perairan di sekitar yang bisa dimanfaatkan warga.

Seibarat bank, kawasan perairan ini merupakan bank ikan yang menadi seperti deposito. Kami hanya makan bunganya. Tidak mengambil pokoknya,” kata Armin Sahal, Komunitas Nelayan Tomia. Lagi-lagi, ika tak mendapat pengawasan, kawasan ini pula terncam kerusakan, padahal usulan menjadi kawasan lindung, sebab kedua lokasi tersebut memiliki sejarah budaya, keunikan, serta karakteristik alam. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar