kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297


Syeikh Idrus Buton dan Kitab Dliya’ al-Anwar wa Tashfiya’ al-Akdar

Masjid Quba di Baubau-Buton dibangun thn 1833 M pada masa Sultan ke-29 Sultan Muhammad Aydrus Kaimudin

Sultan Muhammad Idrus bin Sultan Badruddin adalah nama lengkap dari penulis kitab ini. Sedangkan julukan atau gelarnya adalah Sultan Qaim al-Din. Dilahirkan di Wolio, sebuah nama yang konon diambilkan dari term “Wali Allah”, karena di daerah ini tidak sedikit ulama-ulama yang sudah mencapai tingkat kewalian. Tidak diketahui secara pasti tahun kelahirannya, namun kemungkinan beliau terlahir sekitar akhir abad 18. Dengan indikasi, pada tahun 1824 beliau menggantikan ayahnya menjadi sultan, yakni di saat umur beliau menginjak usia 40 tahun.

Ditulis oleh  Idris Masudi, seorang pengiat Islam Nusantara menyebutkan bahwa Idrus Kaimuddin sebagai seorang keturunan sultan, beliau mendapatkan pendidikan yang cukup matang semenjak dini. Dari belajar langsung dengan kakeknya, Sultan Buton ke 24, yang terkenal dengan kealimannya dan penganut ajaran tarekat Qadiriyah dan Khalwatiyyah, hingga “talaqqi” kepada Syaikh Muhammad Syayisy Sunbul al-Makki. Dari ulama yang disebut terakhir ini beliau belajar berbagai disiplin ilmu, khususnya tentang tasawuf ala tarekat Khalwatiyyah Samaniyyah, hingga menjadi pemuda cerdas.

Pada tahun 1824, beliau menggantikan ayahnya menjadi sultan Buton. Era kepemimpinannya ditandai dengan penetapan-penetapan hukum Agama (Islam) dan kebijakan-kebijakannya yang pro terhadap kemaslahatan rakyat. Kedatangan pedagang-pedagan Belanda disikapinya dengan mengadakan kontrak perjanjian yang multi waspada dan hati-hati.

Setelah memimpin kesultanan Buton sekitar 27 tahun, pada tahun 1851 M beliau wafat dan meninggalkan beberapa putra di antaranya; Sultan Muhammad ‘Isa (penerus beliau), Haji Abdul Hadi, Sultan Muhammad Shalih, dll. –Allahu Yarhamuhum, semoga Allah merahmati mereka semua.

Dliya’ al-Anwar wa Tashfiya’ al-Akdar adalah nama judul karya bergenre tasawuf yang ditulis oleh seorang Raja Buton, Syeikh Muhammad Idrus, sekitar tiga abad yang lalu. Karya yang relatif tipis ini tidak menipiskan bobot isi dari kitab ini. Nama judul kitab tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Muhaqqiq (editor manuskrip)nya adalah nama judul yang tertera di cover manuskrip.

Beberapa data, mengukuh-kokohkan penisbatan kitab ini sebagai karya original dari Syeikh Muhammad Idrus Buton. Di antaranya;
  1. Kolofon yang terdapat dalam naskah manuskrip bagian akhir
  2. Komentar seorang peneliti, Abdurrahim Yunus tentang sufi-sufi dan karya-karyanya. Komentar penulis terkenal, Muhammad ‘Ishom tentang biografi ulama-ulama pesantren yang menyebut karya ini sebagai salah satu dari karya Syeikh Muhammad Idrus
Konten Kitab dan Sistematika Penulisan Kitab
Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa kitab ini adalah sebuah karya tentang tasawuf. Sebuah karya yang padat berisi seperti Ihya’ dan Bidayah Hidayahnya al-Ghazali. Tema besar dari kitab ini adalah tentang sifat-sifat terpuji dan tercela seperti Zuhud, Sabar, Ridho, Syukur, dll. Yang paling membedakan dengan dua karya al-Ghazali di atas adalah tentang ajaran Tarekat Khalwatiyah yang merupakan ajaran tasawuf yang dilakoni oleh Muhammad Idrus Buton.

Sistematika penulisan kitab ini tidak sebagaimana karya-karya lain pada umumnya yang membagi pembahasan dengan bab-bab dan sub-bab, melainkan dengan model Tanbihun-Tanbihun (peringatan-peringatan)

Sekilas tentang Tarekat Khalwatiyah
Tarekat Khalwatiyyah secara umum terbagi menjadi dua; Khalwatiyah Yusuf dan Khalwatiyyah Samman. Kedua tarekat ini, menurut Martin v Bruinessen dalam bukunya, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (1997) adalah dua tarekat yang di Sulawesi dan Indonesia bagian Timur, dan daerah-daerah yang dihuni oleh komunitas Bugis dan Makassar seperti Riau, Malaysia, Kalimantan Timur, Ambon, dan Irian Barat. 

Penisbatan “Yusuf” dalam salah satu tarekat Khalwatiyyah diambil dari seorang ulama/sufi Makassar abad ke-17 yang amat popular, Syeikh Yusuf Makassar. Sementara “samman” untuk penisbatan Tarekat Khalwatiyyah yang kedua diambil dari seorang sufi Madinah abad ke-18, Muhammad al-Samman.

Ajaran kedua Tarekat ini berbeda antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana dituturkan oleh Martin, dalam Tarekat Khalwatiyyah Yusuf, dzikir dan pembacaan nama-nama Tuhan dan kalimat-kalimat singkat lainnya, dibaca di dalam hati.

Sementara Tarekat Khalwatiyyah Samman, dibaca dengan keras dan ekstatik. Muhammad Samman (1718-1775) memiliki murid yang konon merupakan penyebar pertama Tarekat Khalwatiyyah di Indonesia, yaitu Syaikh Abdushamad al-Falimbani. Murid-murid lain yang pernah berguru langsung kepadanya adalah; Syaikh Muhammad Arsyad Banjar, Abdurrahman Masri Betawi (seorang ulama Arab-Betawi) dan Syaikhh Abd Wahab Bugis.

Dalam karya ini, Syaikh Muhammad Idrus Buton juga mengeksplorasi tentang ajaran Tarekat Khalwatiyyah, di antaranya pada halaman 35, beliau menjelaskan tentang pembagian Khalwat;Khalwat Salik, Khalwat ‘Arif, dan Khalwat Muhaqqiq.

Metode Penyucian Jiwa dari Kotoran-Kotoran Hati
Syaikh Muhammad Idrus Buton memberikan beberapa langkah untuk pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran hati, diantara langkahnya adalah istikamah melakukan mujahadah dan riyadhah (tirakat), memperbanyak dzikir kalimat thayyibah; La ilaha illaallah, Khalwat.

Ikhtitam
Demikian sekelumit catatan ringkas saya tentang kitab Dliya’ al-Anwar wa Tashfiya’ al-Akdar,semoga kita semua tercerahkan dan hatinya terjernihkan sekaligus terbersihkan dari kotoran-kotoran. Amin. Bi Fadhlillah wa Syafa’ati Rasulillah wa ila Ruhi Muallif Hadza al-Kitab, al-Fatihah. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019