Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Nusa Ela, dusun wisata yang sejarahnya pertama kali dihuni oleh perantau Buton abad-17

Salah satu keindahan resort di Dusun Nusa Ela-Maluku Tengah

Bagi orang yang berasal dari Maluku Tengah nama Nusa Ela sangat dikenal, kendati disebut sebagai dusun, namun pesona Nusa Ela begitu kesohor sebagai objek wisata. Di sana sejumlah resort telah berdiri, menunggu berbagai wisatawan ke dasar lautnya yang indah itu. Tetapi tahukah Anda, jika Dusun Nusa Ela yang pesolek itu ternyata pertama kali dihuni dan dibangun oleh perantau asal Buton. 

Catatan kecil dari Akbar, seorang alumni mahasiswa IAIN Ambon menuliskan bila Dusun Nusa Ela telah tercatat dalam sensus kependudukan yang merupakan salah satu dusun dengan negeri petuanan pada Desa Ureng Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.

Di dalam sejarahnya, cikal bakal terjadinya Dusun Nusa Ela sebagai salah satu perkampungan telah dirintis oleh mereka para pendahulu pulau ini yang terdiri satu orang, kemudian menjelma menjadi tiga orang yang berasal dari Pulau Buton, konon perantau Buton ini mendapat misi khusus dari pihak kesultanan/kerajaan Buton, yakni membawa misi agama. Tujuannya adalah untuk membawa serta menyebarluaskan agama Islam di Maluku dan sekitarnya yang diperkirakan pada akhir abad ke 17 yang lalu.

Tokoh yang dimaksud sebagai perantau tersebut adalah La Salebo dan istrinya Ratna. Dialah yang dianggap warga setempat sebagai penghuni pertama kali pulau ini. sebagai orang yang pertama hadir di Nusa Ela, maka warga di sana menganggapnya sebagai tetua kampung. Mediang Ibu Ratna disapa akrab warga dengan panggilan Ibu Kaminta. Bapak La Salebo berasal dari Pulau Buton dan bersuku Buton, sementara istrinya -  Ratna juga berasal dari Buton tetapi bersuku Jawa.

Keduanya, merantau ke Maluku Tengah untuk mencari suasana kehidupan yang baru dan menetap di Dusun Nusa Ela pada akhir abad 17 dan awal abad ke 18 silam. Keluarga La Salebo-Ratna memiliki putra pertama bernama La Tapu, yang makamnya masih di temukan di dusun ini. cerita ini masih terpelihara dengan baik di masyarakat Nusa Ela, termasuk dari cucu keturunannya yang masih tersisa hingga sekarang.

Pemberian nama La Tapu dimaknai sebagai ‘yang menetap’, konon menadi petanda menetapnya mereka di pulau kecil ini. Berselang waktu pasangan La Salebo-Ratna, memiliki anak kedua yang diberinya nama  La Ambo. Hingga sekarang, generasi La Salebo-Ratna, merupakan generasi lapis kelima yang mendiami dusun Nusa Ela.

Nusa Ela kini sangat kesohor, kawasan ini pula skarang dijuluki sebagai Dusun pulau tiga. Pemberian julukan ini oleh masyarakat sekitar pesisir Kecamatan Leihitu berdasarkan letak dan keberadaan pulau-pulau ini yang mana terdapat tiga kepulauan yang saling berdekatan antara jarak pulau yang satu dengan pulau-pulau yang yang lainnya. Yakni Pulau Nusa Hatala dan Nusa Lain.

Jarak antara ketiga pulau yang berstatus dusun ini sepantaran 1 Km. saja, Nusa Ela endiri menadi kawasan pemukimana dan wisata, sementara Nusa Hatala dan Nusa Lain dijadikan warga setempat sebagai tempat perkebunan dengan ditanami oleh beberapa tanaman diantaranya adalah cengkih, pala, kelapa, mangga dan lain-lain.

Secara umum letak geografis Dusun Nusa Ela sebelah timur berbatasan dengan pulau Ambon, sebelah barat berbatasan dengan selat Manipa, sebelah utara berbatasan dengan pulau Seram dan sebelah selatan berbatasan dengan lautan bebas. Letak keberadaan Dusun Nusa Ela ini merupakan keberadaan suatu wilayah yang terbilang sangat strategis bagi masyarakat pesisir yang berada pada daratan Kecamatan Leihitu maupun masyarakat lainnya.

Seringkali wilayah ini dijadikan tempat persinggahan sementara bagi para nelayan yang berasal dari wilayah lain, misalnya dari Pulau Seram dan pesisir Jazirah Leihitu dan dari tempat lainnya untuk sejenak berteduh dan berlabuh dalam waktu sementara keadaan cuaca yang buruk, maupun adanya tujuan-tujuan tertentu serta aktifitas lainnya di Dusun Nusa Ela tersebut. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar