Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Bonerate, Pulau kecil di Kepulauan Selayar yang ‘berdarah’ Buton

Pulau Bonerate - Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan

BUTONMAGZ---Banyak literatur menyebutkan bahwa orang-orang Bonerate atau mereka menyebut dirinya ‘suku Bonerate’ di Kepulauan Selayar – Sulawesi Selatan awalnya berdarah asli Buton, khususnya dari Wakatobi. Dari segi penggunaan bahasa saja mereka digolongkan ke dalam stok bahasa Buton-Muna dari kelompok bahasa Austronesia, namun dialegnya terbagi dua kelompok besar, yakni; Bonerate dan Karumpa.

Khusus dialeg Bonerate terdiri dari aneka ‘dialeg pecahan’ yang lahir karena beda kampung yang ada di pulau tersebut, namun dialegnya sangat khas Buton. Penduduk di sana mengenal sub dialeg bahasa Bonerate Brangka, Bonerate orang Limbo, Benteng, Onemalangka, dan juga orang Sambali.

Memang, menurut beberapa tokoh masyarakat di pulau Bonerate dan berdasarkan bahasa yang digunakan masyarakat pulau ini, maka bisa dikatakan bahwa penduduk pertama pulau ini berasal dari Buton (Kepulauan Tukang Besi; Wakatobi).

Pulau Bonerate adalah salah satu dari sederetan pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar terletak diantara 7° Lintang Selatan dan 121° Bujur Timur dengan jarak tempuh 12-13 jam dari ibukota kabupaten dengan menggunakan transportasi kapal perahu masyarakat lokal dan 15-16 jam dengan menggunakan Kapal Fery karena harus singgah di beberapa pulau seperti pulau Kayuadi dan pulau Jampea sebelum ke pulau Bonerate.

Mengacu pada data statistik Kecamatan Pasimarannu (BPS tahun 2012) penduduk pulau Bonerate tercatat 8.850 jiwa, yang terdiri dari 4.329 laki laki dan 4.521 perempuan.

Dalam perkembangannya, menurut Broch (1985,1987) pulau ini didiami oleh beberapa etnik yang diantaranya adalah Bugis-Makassar, Buton, Flores, dan Bajo. Namun secara umum, yang menjadi kelompok mayoritas di pulau ini berasal dari Wakatobi Sulawesi Tenggara yang sudah menetap dibeberapa perkampungan pulau ini sejak dulu. Oleh karena itu unsur kebudayaan yang mendominasi pulau ini adalah budaya orang Buton (Wakatobi). 

Atraksi Budaya Honaria-Pangaru di Pulau Bonerate

Mengingat pulau ini berada dijalur pelayaran Nusantara, maka menyebabkan tingginya mobilitas orang yang masuk dan keluar dalam melakukan aktifitas sosial dengan masyarakat setempat. Hal ini menjadikan pulau ini sebagai pulau yang sering disinggahi pelaut dan nelayan dari luar yang kemudian secara perlahan lahan berinteraksi dengan masyarakat lokal yang menurut Broch (1985,1987) sudah didiami oleh beberapa etnik ini.

Adanya asimiliasi penduduk yang datang dari berbagai suku di Bonerate, maka bahasa orang Bonerate sendiri campur baur sehingga butuh adaptasi panjang untuk memahaminya. Karena sulitnya bahasa asli Bonerate yang sering kali diistilahkan dengan bahasa burung-burung atau yang  dalam dialek bahasa Selayar, lebih sering disebut bahasa “jangang-jangang”.

Bonerate berasal dari dua suku kata “Bone” dan “Rate”. Artinya pasir diatas. Penduduknya mayoritas Muslim, tetapi juga dipengaruhi oleh kepercayaan animistis yang kuat. Pada dasarnya, mereka percaya bahwa roh yang berkuasa menghuni laut. Oleh karena itu, ketika angin ribut dan gelombang tinggi datang, orang-orang sering kali percaya bahwa penguasa laut ini sedang marah. Perayaan dan upacara-upacara keagamaan yang beragam ditujukan untuk menenangkan roh laut tersebut.(ref)

Posting Komentar

0 Komentar