kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297


Syamsi Ali, tukang kelahi dari Bulukumba, jadi ulama di Amerika



Masa kecilnya di Sulawesi diwarnai pertarungan. Masa remajanya jadi juara silat. Kini, Syamsi Ali ulama terhormat di New York.

"Latihan silat (di pesantren) menyambung minat bertarung saya," begitu Muhammad Syamsi Ali, 50 tahun, berujar. Nada bicaranya--lewat artikulasi kata nan tegas--menyiratkan kepercayaan diri.

Diwawancara di lantai mezanin Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, tubuh Imam Shamsi Ali--begitu kata-kata tercetak di kartu namanya--masih memamerkan siluet jawara. Kemeja batik motif lereng dan bunga-bunga di tubuhnya seperti tak sanggup menyembunyikan tempaan olah fisik bertahun-tahun.

"Tahun 1985, saya juara mewakili Sulsel (Sulawesi Selatan) di kejuaraan silat di Unisba (Universitas Islam Bandung), Bandung," kata pendekar Tapak Suci tersebut. "Dulu bisa ke mana-mana karena silat," ujarnya. Padahal, lengan kirinya sudah bengkok karena patah di masa kanak--kondisi yang juga tak menghalanginya untuk kembali berjaya di kejuaraan nasional pencak silat di Bali.

Imam Syamsi mengenangkan, cacat itu mesti dia tanggung setelah terjatuh dari kuda dalam sebuah pertengkaran kecil dengan sesama pengangon kerbau di Kajang karena berebut pakan.

"Saya mimpin anak gembala berperang dengan anak gembala lain", katanya kepada Bonardo Maulana Wahono, Muammar Fikrie, dan juru foto Wisnu Agung Prasetyo, dari Beritagar beberapa waktu lalu

Mata Syamsi Ali mengilatkan girang sewaktu bercerita mengenai malapetaka itu. Goyangan kuat tubuhnya saat tertawa tak menggoyahkan kedudukan rambut nan terlihat licin dan berkilap.

"Karena bandel itu orang tua saya lantas memasukkan saya ke pesantren," ujar putra pasangan petani Ali Kadrun dan Inong Tippangrom dari Tana Toa, Sulawesi Selatan.

Pesantren dipilih walau orang tua Imam Syamsi masih menjalankan kepercayaan kuno warisan moyangnya. Tempat yang dianggap suci bagi mereka adalah sebongkah batu besar di sebuah bukit berhutan. Di lokasi yang menurut Syamsi "tampaknya menakutkan" itu, warga sekitar lazim menyampaikan nazar dan harapan.

"Waktu saya SD dan terkena sakit, ibu saya datang ke batu besar itu dan bilang, 'kalau anak saya sembuh, saya akan potong ayam'," begitu Syamsi Ali menirukan perkataan ibunya. Dia pun membilang, "guci tempat menyimpan sesajen itu ada di loteng rumah".

Rumah-rumah di Tana Toa (Bulukumba) terbagi menjadi tiga bagian. Lantai pertama untuk menyimpan hewan seperti sapi, kuda, atau kerbau. Lantai kedua berfungsi sebagai rumah. Loteng dipakai menyimpan wadah sajen seperti guci.

Pada satu musim libur Idulfitri saat masih menjadi santri, Syamsi Ali pulang dan dibuatkan masakan istimewa oleh ibunya. "Itu untuk menyambut kedatangan putranya dari kota," katanya merujuk Makassar sebagai kota dimaksud.

Namun, sebelum disajikan kepada keluarga, Inong Tippangrom memasukkan makanan itu ke guci. "Karena sudah belajar Islam dan tahu kalau perbuatan itu syirik, saya naik ke loteng, mengambil makanan itu, dan membuangnya," ujarnya.

Sialnya, Inong Tippangrom menyadari perbuatan Syamsi. Perempuan beranak enam itu pun sakit selama tiga hari karena "ketakutan dan khawatir mendapatkan kutukan".

Syamsi Ali juga punya kisah lain mengenai bagaimana warga Kajang memperlakukan leluhur. Cerita itu bertaut dengan masa ketika dia di Pakistan, yakni waktu mendampingi orang Kajang berhaji di Arab Saudi. Orang Kajang itu, katanya, menolak melakukan tawaf.

"Kenapa?" kata Syamsi meniru pertanyaan warga Kajang dimaksud saat diajak mengelilingi Kabah, "kita sudah punya Mekkah juga di (kampung)."

Menurut Syamsi Ali, kepala adat sukunya, yang disebut Ammatoa, meyakini bahwa Nabitta (nabi mereka) lahir di Tana Toa. Tersebab itu, warga sukunya tak lagi memandang Mekkah--masyhur dengan julukan Umm Al Qura--sebagai tanah tertua dunia.

Memasuki Ranah Keilmuan
Meski nakal, Syamsi Ali terhitung pintar. Pesantren Darul Arqam menjadi saksi keunggulan intelektualitasnya. Di tempat yang dia sebut sebagai "penjara suci" itu pula namanya berganti dari Utteng menjadi Syamsi--atau Shamsi dengan pelafalan bahasa Inggris.

Abdul Jabbar Asyiri, kepala pesantren, berdalih nama adalah doa dan harus bermakna baik. Ia pun mengajukan kata Syamsi yang dalam bahasa Arab berarti 'matahari'.

Beasiswa dari Rabithah Alam Islami menjadi bukti prestasi Syamsi Ali. Lulus dari Darul Arqam pada 1987 dan mengajar hingga akhir 1988, dia pun bertolak ke Pakistan untuk belajar tafsir Quran di Universitas Islam Internasional Islamabad.

Lulus program sarjana, Syamsi Ali langsung melahap kursi magister dalam bidang perbandingan agama di universitas yang sama. Dia juga tak buang waktu dengan menyambi kerja sebagai dosen di sekolah yang didanai Arab Saudi.

Pada awal 1995, tawaran untuk mengajar di Yayasan Pendidikan Islam di Jeddah melemparkannya ke negeri kelahiran Islam.

Namun, masalahnya, Syamsi Ali mengalami Arab Saudi yang "cukup eksklusif" dengan tingkat "konservatisme (agama) cukup tinggi". Bahkan, dalam hematnya, agama dipahami secara kaku. "Kami setiap hari dibombardir dengan informasi-informasi mengenai orang lain, khususnya Yahudi," ujarnya.

Menurut Syamsi Ali, kampanye rutin itu mau tak mau membentuk persepsinya tentang dunia. "Saya melihat bahwa orang lain itu seolah-olah adalah musuh yang harus dicurigai, yang ditakuti, dikhawatirkan, dan sebagainya," katanya.

Semangat pemberontakan yang lama bersemayam di jiwanya terusik dengan kecenderungan otoritas setempat untuk menyeragamkan pemikiran dan penafsiran agama. Sebuah peristiwa pada 1996 kembali mengubah alur hidupnya.

Bertemu Duta Besar Indonesia untuk PBB
Pada musim Haji 1996, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, memberikan kesempatan bagi Syamsi Ali untuk berceramah di hadapan "rombongan haji asing". Seorang anggota rombongan adalah Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Nugroho Wisnumurti.

Terpukau dengan ceramah Syamsi Ali, diplomat senior tanah air itu menawarinya posisi sebagai staf perwakilan tetap Indonesia di PBB sekaligus menjadi pemimpin Masjid Al Hikmah, New York, Amerika Serikat.

Masjid tersebut belum lama berdiri, dan menempati bekas gudang kimia. Sejumlah pihak--di antaranya Bank Indonesia dan KJRI New York--membeli gudang tua yang terletak di Astoria, Queens, itu 350.000 dolar AS. Menurut Nugroho--ketika itu penasihat Pengajian Keluarga Indonesia di New York--komunitas muslim di kota multiagama dan multiras itu membutuhkan imam.

"Ketika saya diminta ke AS untuk memimpin Masjid Al Hikmah, pada awalnya curiga apakah saya bisa menjaga Islam dan iman saya. Bagaimana dengan anak-anak saya? Bagaimana dengan keluarga saya?" ujar Syamsi Ali menyingkap perasaannya 21 tahun silam.

Sementara, di sisi lain, dia merasa kondisi di Arab Saudi bakal menghambat perkembangan pemikirannya.

Amerika Negeri Islami
Asumsi salah pria yang fasih berbicara bahasa Inggris, Urdu, dan Arab itu mengenai Amerika luntur dalam perjalanan dari bandar udara menuju kediamannya di Queens, New York, sebuah daerah yang dihuni banyak warga Indonesia.

Hari itu, dengan sepatu yang masih menyimpan debu dari tanah Saudi, Syamsi Ali menumpang mobil sewaan. Di kursi kemudi duduk pria Pakistan muslim. Karena menguasai bahasa Urdu, Syamsi Ali pun leluasa membangun percakapan.

"Persepsi bahwa AS negara putih, negara yang semua warganya anti-Islam, anti orang kulit nonputih (lenyap). Ternyata, orang pertama yang saya temui dari Pakistan dan beragama Islam," ujarnya. "Itu cukup memberikan confidence bahwa (saya) tidak perlu terlalu khawatir".

Pertemuan dengan seorang tetangga di Queens--pria tua berdarah Irlandia dan beragama Katolik--pun memperkaya pengalaman pertama sebagai warga multiras dan multiagama itu.

"Teman ini setiap pagi keluar dari rumah dan membersihkan depan rumahnya dan depan rumah saya hampir setiap hari," ujarnya. Syamsi Ali awalnya menaruh curiga. Dia menduga kegiatan rutin itu bakal membuka ruang untuk memengaruhinya.

"Namun, setelah berbulan-bulan, dia tak pernah membicarakan agama Katolik. Sebaliknya, keluarga mereka datang ke rumah dan menanyakan berbagai hal seperti kenapa istri saya berkerudung. Kami pun diam-diam bersahabat," ujarnya.

Sejak itu, Syamsi Ali pun menyadari bahwa belajar menjadi orang baik tak melulu harus dengan sesama muslim, tapi juga pemeluk agama lain. Dia berkata, "saya tidak belajar Islam dari (tetangganya), tapi saya belajar menjadi muslim yang baik. Karena, sesungguhnya, muslim yang baik itu adalah manusia yang baik, dan saya diajari oleh dia menjadi orang baik".

Di belakang hari, ragam pertemuan dengan berbagai komunitas membuat Syamsi Ali tidak ragu menyebut Amerika Serikat sebagai negeri Islami.

"Bangsa Amerika tatanan Islamnya sudah ada. Ukurannya: demokrasi, kebebasan dihargai, ada kesetaraan--meski masih pula terdapat diskriminasi di sana-sini--menghormati perempuan, terbuka, kebebasan beragama," ujarnya.

Tragedi 11 September
Syamsi Ali tengah berada di jantung Manhattan, New York, ketika dua pesawat komersial menghantam pencakar langit kembar yang masyhur dengan sebutan World Trade Center pada 11 September 2001. Dia mengetahui ihwal serangan itu lewat maklumat di pelantang suara.

"Pengumuman itu, New York sedang diserang oleh teroris," ujarnya seraya menjelaskan bahwa kata 'teroris' muncul di banyak pemberitaan terutama televisi.

Jalan-jalan kemudian penuh orang karena semua moda angkutan umum lumpuh. "Di tengah jalan, saya sempat menahan mobil yang dikendarai oleh seorang hispanik--mungkin Meksiko, atau Kolombia. Dia mengantar saya sampai rumah," kata Syamsi Ali.

Sepanjang perjalanan ke lingkungan tempat tinggalnya--yang berjarak lebih dari enam kilometer--suami Mutiah dan ayah lima anak itu mesti menebalkan telinga. Pasalnya, si sopir tak henti memuntahkan caci-maki atas komunitas muslim. Wacana yang berkembang saat itu, para teroris diduga berasal dari Timur Tengah dan karenanya langsung dihubungkan dengan Islam.

Masalahnya, sang pemberi tumpangan tak mengetahui kalau laki-laki di sebelahnya seorang muslim. "Saya menahan diri untuk berbicara," ujar Syamsi Ali. Sambil memutar ulang memori, dia memainkan jemari. Tak nampak cincin melingkar di sana. Jam tangannya pun lebih sering terkubur lengan kemeja.

"Setiba di rumah, tetangga saya yang dari Irlandia mendatangi saya sambil menangis dan memeluk saya," ujar Syamsi Ali membicarakan pria Katolik Irlandia yang rajin menyapu. "Saya kok tidak percaya. Kamu muslim kan? Kalau muslim seperti Anda, tidak mungkin melakukan itu," kata Syamsi Ali menirukan kata-kata sang tetangga dalam bahasa Indonesia.

Pekan pertama dan kedua setelah serangan, kata Syamsi Ali, banyak masjid diserang. Orang-orang Islam menjadi korban pemukulan. "Perempuan ditarik jilbabnya dan dipukuli. Ada dua muslim dibunuh".
Pemerintah kota pun berinisiatif untuk mendinginkan suasana. Demi menghormati orang-orang yang hilang dan mati dalam serangan 11 September, New York menggelar doa bersama bertajuk "A Prayer for America" di Yankee Stadium pada 23 September 2001.

Tokoh-tokoh dari pelbagai agama, termasuk pula Syamsi Ali, diundang sebagai pengisi acara. Nama disebut terakhir membacakan dua ayat dari Al Quran--Al Hujurat ayat 13 serta Al Maidah ayat 8--dan surat An Nasr. Berbagai stasiun televisi memancarluaskan hajatan tersebut.

Perempuan Kristen bernama Cynthia Roland kebetulan menonton acara tersebut di TV. Syamsi Ali mengetahuinya tiga bulan berselang saat oknum yang bersalin nama menjadi Tahirah Roland itu menelepon. Begini percakapan mereka, yang dibuka Tahirah dengan salam ala Islam:

"Is this Brother Shamsi?"

"Yes, I am," jawab Syamsi Ali.

"I have been looking for you for over three months".

"Oh, what can I do for you?" tanya Syamsi Ali.

"Are you the one recited the Quran at the Yankee event three months ago?"

"Yes, I was," jawab Syamsi Ali.

"Actually, I have been looking for you since then".

Menurut Syamsi Ali, Tahirah mengaku menangis saat menyimaknya melantunkan ayat-ayat Al Quran.

Tahirah jatuh penasaran dan bertanya-tanya kepada banyak orang mengenai bacaan Syamsi. Satu jawab dia dapat: baris-baris dari lisan Syamsi Ali berasal dari "bukunya orang Islam", yakni Al Quran. Tahirah pun meminjam terjemahan Al Quran dari perpustakaan daerah dan membacanya tiap malam sebelum tidur.

"Dia mengaku ada beberapa masalah, seperti ketuhanan, yang jawabannya dia temukan di Quran," kata Syamsi Ali. Ujung dari kegiatan itu, Cynthia menyambangi sebuah masjid kecil di dekat rumahnya dan mengikrarkan syahadat.

Presiden AS saat itu, George W. Bush, menjadi sosok yang juga tersentuh karisma Syamsi. Ini terjadi waktu Bush ke lokasi bekas serangan dan menemui para pemimpin agama. Di Ground Zero itu, Ali meminta Bush menjelaskan kepada rakyat Amerika bahwa Islam bukan teroris.

"Wajah teror bukan wajah sejati Islam. Islam tak berkaitan dengan (terorisme)," ujar Bush dalam sebuah pidato di Washington dua hari setelah pertemuan penting tersebut. "Islam itu damai," katanya.

Pascaserangan, masjid terbesar New York, Islamic Cultural Center, yang berdiri di 96th Street, masih juga memegang gagasan lamanya. Didirikan oleh pemerintah Kuwait pada akhir dasawarsa 1980-an, masjid itu dikenal konservatif.

Pada 2001, demikian BBC menulis, pemimpin masjid, Imam Muhammad Gemeaha, mengatakan bahwa serangan ke World Trade Center tak dapat dilepaskan dari keterlibatan "kaum Yahudi". Penerus Gemeaha, Omar Saleem Abu-Namous, ikut menegaskan bahwa bukti kuat keterlibatan muslim dalam serangan 11 September nihil.

Pengurus masjid, yang merasa butuh juru bicara lebih sejalan dengan suara orang banyak, mempertimbangkan imam lain sebagai penyambung lidah. Di situ nama Syamsi Ali menyembul.

"Kebanyakan selama ini dai-dai dari Arab dan Asia Selatan memakai komunikasi buldoser yang main hantam dan hancurkan," ujarnya mengenai para ulama yang terlalu kaku dalam menyebarkan ajaran Islam. Padahal, "berdakwah tidak lepas kepada keadaan lingkungan tempat kita melakukannya. Kata Quran, setiap nabi diutus dari kalangan kaumnya. Kata itu menandakan bahwa pendakwah harus merasa bagian dari kaumnya," ujarnya.

Selama satu dekade hingga 2011, Syamsi Ali kian aktif mengedepankan dialog antaragama sebagai bagian strategi berdakwah di masjid raya itu. Gereja, sinagog, dan lembaga agama lain acap kali mengundangnya berceramah.

Di antara kegiatannya dalam ranah antaragama: Konferensi Internasional Imam dan Rabi untuk Perdamaian di Sevila, Spanyol (2006), KTT Nasional Imam dan Rabi Amerika Utara (2007), sebagai perwakilan Islam dalam pembicaraan di Gedung Putih bertajuk Agama dan Pembangunan Berkelanjutan (2007), dan Dialog Antarkeyakinan Transatlantik di Frankfurt, Jerman (2008).

Dia bisa dikata sosok muslim ideal yang diandaikan orang-orang liberal Amerika, tapi tak didukung oleh golongan Islam tertentu. Puncaknya, perbedaan pandangan kemudian melengserkannya dari posisi imam di Islamic Cultural Center pada 2011.

"Orang Islam (Amerika) secara umum berideologi Demokrat. Secara moral dan nilai, Republik lebih dekat kepada Islam. Misal: tidak mendukung perkawinan sejenis," ujarnya. "Meyakinkan orang Islam lebih sulit daripada meyakinkan nonmuslim. Mereka memandang kami sudah tak lagi loyal kepada perjuangan Palestina" dan perjuangan di kawasan mayoritas Islam lainnya. (sumber : beritagar.id)

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019