kop

kop
BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!


Surat-surat Sultan Buton yang terkirim ke Belanda. Begini isinya!.


Tulisan ini merupakan bagian dari jurnal berjudul “Surat-surat Sultan Buton, Dayyan Asraruddin dan Kaimuddin I, Koleksi Universiteitbibliotheek Leiden, Belanda” karya Suryadi, staf pengajar  pada  Departemen  Asia  Tenggara  dan  Oseania  (Opleiding  Talen  en  Culturen  van  ZuidoostAzië  en  Oceanië)  dan  doktor  pada  School  of  Asian,  African,  and  Amerindian  Studies  (CNWS), Leiden  University,  Belanda.

Tulisan Suryadi ini telah terpublikasi di jurnal Humaniora, Vol. 19, No. 3 Oktober 2007: 285-302. Begini pemaparannya.

Surat Sultan Dayan Asrarudin Kepada Gubenur Jenderal Hindia Belanda dan Raad vanIndi

Qauluhu al-haqq,[25]

Bahwa warkat al-ikhlas serta tabe banyak2 akan tanda harap dan percaya yaitu daripada Paduka Anakanda Sri Sultan Raja Buton dengan segala wazir menteri2nya, melayangkan kertas sekeping, datang ke bawah Hadirat Paduka Ayahanda Kompeni, Tuan Her[26] Gurnadur Jenderal dan Raden van India di Betawi, insya Allah Taala barang dilanjutkan usia umur zamannya, beroleh sehat dan wal-afiat dengan sejahteranya jua adanya.

Wabakdahu, kemudian daripadanya, bahwa barang maklum kiranya oleh Gurnadur Jenderal dan Raden van India di Betawi perihal adapun perahu kici nama M-w-r-b-t Filantroop [?] dan nama kapiten Jan Smit[h][27] itu datang dari Ambon telah bersinggah kemari di Buton, dan serta ia bertemu dengan Sri Sultan, adalah mengatakan Kompeni dengan samanya Inggris, sudahlah habis perang. Sekarang itu[28] berdamai keduanya.

Maka peri itulah Sri Sultan sehingga didengar saja lebih lagi hal ikhwal dalam hatinya melainkan telah sudah menengar kepada Gurnadur Jenderal di Betawi. Maka baharu ia menyinggahkan serta menerima kasih. Demikianlah adanya.

Seperkara lagi, Wilanda nama Kristiani[29] pecah dari Sulu dan sekalian barang2nya sudahlah dirampas orang Sulu, hanya sendirinya dengan empat matros orang Jawa. Itulah didapatnya oleh rakayat Sultan, lalu dibawanya ke Buton dengan seboleh2 memeliharakan serta memeri makan sehingga lagi menanti2 pula, atau supaya yang pergi ke Mengkasar maka baharu ia menghantarkan adanya.

Dalam itupun pada ketika Kapiten Jan Smit[h] datang kemari, ia pun itu[30] menghendaki menempuh di situ, tiadalah sekali2 mau menanti2 Sultan punya perintah. Maka peri itulah kalau diikutinya pula seperti demikian halnya karena pada semata Kompeni jua adanya. Dan lagi Sri Sultan telah adalah menghantarkan seperti buah2 kayu akan isi tanah Buton yang miskin daripada sebab demikian isti<h>adat hormat Yang Maha Mulia yang telah biasa diperlakukan kepada zaman2 purbakala jua adanya.

Tersurat pada selikur hari bulan Jumadilawal waktu hari Sabtu hijrat al-Nabi Salallahu[alaihi wasallam] seribu dua ratus enam belas tahun pada tahun Waw.[31]

Surat Sultan Kaimuddin I Kepada Kolonel Jan David van Schelle[38]

Qauluhu al–haqq,

Bahwa ini sahifat[39] serta kiriman diri sendiri dipesertakan dengan tabe banyak2 yang sempurna takzim dan takrim[40], yaitu daripada Paduka Anakanda Sultan Kaim al-Din Raja Buton, mudah-mudahan disampaikan kiranya dengan sejahteranya ke bawah Duli Kekasih Hadirat Ayahanda Heer Gurnadur Tuan Besar yang memegang kuasa bicara di dalam Bandar Mengkasar, mudah-mudahan dilanjutkan hayat usia umur zamannya serta bertambah2 daulat kemuliaan dan adab kebesaran di dalam dunia ini, dengan selamat sekalian pekerjaannya. Amin ya–rabbal alamin!

Wabakdahu, kemudian daripada itu, maka adalah Anakanda Paduka Sri Sultan Raja Buton dengan segera melayangkan secarik kertas ini akan menerbitkan alamat al-hayat kepada Duli Kekasih Hadirat Ayahanda Heer Gurnadur Tuan Besar di Mengkasar, yaitu empat kayu kain daripada kain Buton dan seribu biji ubi. Apalah juga setitik [h]ujan yang terhambur daripada Hadirat Ayahanda jua adanya. Tamat al-kalm bi al-kahyr wa al-salm.[41]

Tersurat dalam Negeri Buton pada awal bulan Safar di dalam hijrat Nabi Salallahu alaihi wassalam seribu dua ratus tiga puluh tujuh tahun, pada tahun Dal Awal. Sanat 1237.[42]

Epilog
Sampai batas tertentu, isi ketiga surat di atas merefleksikan beberapa aspek dari kompleksitas hubungan politik, ekonomi, dan sosial antara Kesultanan Buton dan Belanda di masa lampau. Isi surat-surat itu juga mencerminkan sifat maritim kerjaan ini: para pelaut Buton, baik atas nama raja maupun sebagai penduduk biasa, sering menyelamatkan (yang dalam beberapa laporan Belanda juga dituduh merampok) awak kapal-kapal asing yang mengalami kecelakaan di laut di sekitar Kepulauan Buton.

Oleh karena itu juga mereka sering menjadi faktor pengikat persahabatan sekaligus pemicu konflik di kawasan itu. Sampai batas tertentu isi surat-surat tersebut juga merefleksikan hubungan pribadi Sultan-Sultan Buton dengan Kompeni. Walaupun Buton-Kompeni terikat persekutuan abadi sejak 1613, namun sejarah telah mencatat bahwa hubungan keduanya sering fluktuatif.

Isi surat-surat kerajaan Nusantara zaman lampau, seperti halnya juga tiga surat yang dibahas di sini, banyak mencatat peristiwa-peristiwa mikro yang terjadi di lingkungan elit istana, dengan raja atau sultan sebagai figur sentralnya. Surat-surat tersebut jelas sangat bermanfaat pula bagi studi sejarah lokal Indonesia.

Peristiwa-peristiwa historis yang terekam dalam surat-surat tersebut dapat memperkaya atau malah merevisi data-data dari sumber asing (baca: Barat). Melalui surat-surat itu para sejarawan juga dapat melihat bagaimana persepsi pribumi terhadap suatu peristiwa sejarah di masa lampau. Demikianlah umpamanya, arogansi kapten-kapten kapal Kompeni seperti Jan Smith di mata Sultan Buton yang disebut dalam Cod.Or. 2242-II (15) [no. 246] tentu tidak akan bisa ditemukan dalam laporan-laporan resmi Belanda.

Dari segi linguistik, aspek kebahasaan surat-surat yang dibahas dalam artikel ini tidak kalah menariknya. Bahasa dan tulisan surat-surat itu merepresentasikan dinamika Bahasa Melayu pada abad ke-18 dan 19. Banyaknya kosakata serapan yang terdapat dalam surat-surat itu Bahasa Arab atau bahasa-bahasa Eropa menunjukkan bahwa Bahasa Melayu, sebagai bahasa pemersatu masyarakat kepulauan Nusantara, sudah sejak lama bersifat terbuka. Sampai batas tertentu, bahasa surat-surat itu menunjukkan variasi dialek Bahasa Melayu Buton ragam tulis, yang jelas berbeda dengan yang ada di tempat-tempat lain di Kepulauan Nusantara.

Dengan selesainya transliterasi tiga surat yang dibahas dalam artikel ini, berarti sudah seluruh surat Raja Buton yang tersimpan di UB Leiden berhasil dialihaksarakan. Jadi, surat-surat raja Buton yang tersimpan di UB Leiden berasal dari tiga orang Sultan, yaitu: lima surat dari Sultan Buton ke-26, Muhyiuddin Abdul Gafur; dua surat dari Sultan Buton ke-28, Dayyan Asraruddin; dan satu surat dari Sultan Buton ke-30, Kaimuddin I.

Diharapkan hasil transliterasi ini dapat dimanfaatkan untuk penelitian-penelitian selanjutnya mengenai masyarakat, budaya, bahasa, dan sejarah Buton. Pengalihaksaraan surat-surat dari kerajaan-kerajaan lokal lainnya di Nusantara tentu perlu terus digiatkan. Hasilnya tentu akan sangat bermanfaat bagi studi bahasa dan budaya lokal Indonesia.

Pemanfaatan surat-surat klasik kerajaan Nusantara sebagai sumber pertama (bronen) belum membudaya dalam studi sejarah, khususnya di Indonesia. Hal ini mestinya sudah harus berubah dalam tradisi studi sejarah kita. Kalaulah bukan karena kekaguman yang menyejarah terhadap keabsahan dan superioritas sumber-sumber Barat, hal ini agaknya terkait juga dengan kekurangan kurikulum sejarah kita dimana pengetahuan membaca huruf Arab-Melayu (Jawi) tidak pernah terpikirkan untuk diajarkan dalam bidang ilmu sejarah di negara ini.

Mungkin tidak banyak sejarawan (kita) yang pandai membaca huruf Jawi. Ini yang menyebabkan kurangnya perhatian mereka kepada sumber-sumber pribumi yang ditulis dalam aksra Jawi, seperti surat-surat kerajaan Nusantara ini. Akan tetapi, kalaupun sorang sejarawan tidak bisa membaca aksara Jawi, mereka sebenarnya dapat memanfaatkan transliterasi surat-surat tersebut yang telah dibuat oleh filolog dan peneliti naskah untuk memperkaya data mereka.

Penggunaan surat-surat klasik kerajaan-kerajaan lokal Nusantara itu secara maksimal di samping sumber-sumber Barat mungkin akan dapat menghasilkan studi sejarah kolonial yang lebih bernuansa, emotif, dan humanis. Data sejarah yang berasal dari surat raja-raja Nusantara itu juga dapat mereduksi subjektifitas dan perasaaan nasionalisme yang kadang-kadang secara tak sadar turut terefleksikan dalam studi sejarah (lokal) Indonesia.

Penjelasan angka footnote
 [25] Artinya: Perkataannya benar (Lihat kepala surat-surat berikutnya).

[26] Dari bahasa Belanda heer (tuan). Selanjutnya ditulis seperti kata aslinya (dengan dua huruf e).

[27] Dalam arsip VOC NA 1. 04.02 7941 Ambon 3 105-106 melalui website TANAP ditemukan keterangan sebagai berikut: 1786 Berigt van den capitein en capitein luitenants ter zee Van der Golde, Kulk en Smith ten overstaan van den justitieelen officier waar bij deselve declareeren dat de gezaghebbers Jan Lievense en Christiaan Hendriks in anno 1783 goveord hebbende de chialoup de Batavier en de pantjalling de Beschermer vrij van pligtversuijm zijn dato 25 April 1786 (ontfanagen anno 1786). Dengan mempertimbagkan tarikh dokumen ini, mungkin saja capitain luitenant ter zee Smith (cetak tebal oleh Suryadi) yang disebut-sebut dalam dokumen itu adalah Jan Smith yang disebut dalam Cod. Or. 2242-II (15 ) [no. 246] ini. Lihat http://www.tanap.net/. Saya mengucapkan terima kasih kepada arkeolog maritime, Horst Liebner, yang telah memberitahukan kepada saya sumber ini.

[28] Kata itu dalam konteks kalimat ini menunjuk kepada subjek (Belanda dan Inggris). Ini mengingatkan saya pada keterangan Henri Chambert-Loir (2004:38) yang mengatakan bahwa dalam naskah-naskah Bima kata itu juga berfungsi sebagai kata penunjuk untuk menunjuk seseorang atau beberapa orang. Rupanya hal yang sama juga ditemukan dalam surat-surat raja Buton.

[29] Mungkin yang dimaksud di sini adalah seorang Belanda yang bernama Christiaan. Walau bagaimanapun, nama ini disebut-sebut dalam Arsip VOC NA 1. 04.02 7941 Ambon 3 105-106 (Informasi yang saya terima dari Horst Liebner, email 16-6-2007) (Lihat juga Catatan 28).

[30] Di sini kata itu dipakai lagi untuk merujuk subjeknya (Lihat catatan 30).

[31] 21 Jumadilawal 1216 = 28 September 1801. Jadi surat ini dikirim kepada Gubernur Jenderal Johannes Siberg yang berkuasa tahun 1801-1805 sebagai suksesor Petrus Gerardus van Overstraten (1796-1801) (Lihat Stapel 1941: 72-3).

[32] Secara harfiah frase ini berarti: “Semoga Allah mengekalkan kekuasaan dan kerajaannya” (Kerajaan Buton).

[33] Dari Bahasa Inggris sloop, yaitu sejenis perahu atau sekoci (Lihat Wilkinson 1932: vol. II, 417; Iskandar 1984: 1224).

[34] Dari Bahasa Belanda, stuurman, yang berarti jurumudi kapal (Lihat Wojowasito 2003: 648).

[35] Nama ini belum berhasil diidentifikasi. Lihat tulisan Jawi-nya dalam Ilustrasi 4, baris keenam.

[36] Arti harfiah frase Arab ini: Pembicaraan berakhir dengan baik semuanya”. Maksudnya, Demikianlah surat ini, semoga mengandung kebaikan semuanya.

[37] 6 Rabiulakhir 1217 = 6 Agustus 1802. Jadi, surat ini ditulis masih dalam periode pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg (Lihat Catatan 32).

[38] Kolonel Jan David Van Schelle (1782-1825) adalah seorang perwira menengah dalam jajaran militer Hindia Belanda yang amat berminat mempelajari Bahasa Melayu dan Aksara Jawi. Pada tahun 1819-1820 Van Schelle banyak dibantu oleh Jain Abdurrahman, seorang penyalin (copyist) pribumi yang bekerja di Algemene Secretarie, Batavia, untuk membuatkan salinan cerita-cerita dan surat-surat beraksara Jawi untuk bahan pelajaran dan latihan transliterasi baginya. Hasil-hasil transliterasi Van Schelle terhadap salinan-salinan surat Melayu yang dibuatkan Jain itu dapat dilihat sekarang dalam bundel Cod. Or. 2233. Pada tahun 1821 Van Schelle pindah tugas ke Makassar (Lihat Westendorp Boerma 1956:258; Wieringa 1996). Tampaknya Cod. Or. 2233 (55) ini adalah surat sambutan yang disertai buah tangan dari Sultan Kaimuddin kepada Van Schelle yang baru bertugas di Makassar.

[39] Artinya: lembaran.

[40] Artinya: pemuliaan.

[41] Arti harfiah: Berakhir pembicaraan (kalam) dengan kebaikan dan keselamatan.

[42] 1 Safar 1237 H = 28 Oktober 1821. Pada waktu itu yang menjadi Gubernur Jenderal adalah Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen (Lihat Stapel 1941: 80-1). Bandingkan dengan transliterasi surat ini oleh Pudjiastuti (2006:171-2).

Baca sebelumnya : Surat-surat Sultan Buton di negeri Belanda (Bagian 1) 

Baca juga: Sultan Dayyan Asraruddin dan Sultan Kaimuddin I - Si Pengirim Surat ke Belanda (Bagian2) 

Baca juga: Gelar ‘Kaimuddin’ bagi sultan di Buton, inspirasi dari Raja Willem-Belanda (bagian-3) 

Posting Komentar

0 Komentar