kop

kop
BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!


Surat-surat Sultan Buton di negeri Belanda (Bagian 1)

Dr. Suryadi - Filolog Universitas Leiden Belanda

Tulisan ini merupakan bagian dari jurnal berjudul “Surat-surat Sultan Buton, Dayyan Asraruddin dan Kaimuddin I, Koleksi Universiteitbibliotheek Leiden, Belanda” karya Suryadi, staf pengajar  pada  Departemen  Asia  Tenggara  dan  Oseania  (Opleiding  Talen  en  Culturen  van  Zuidoost
Azië  en  Oceanië)  dan  doktor  pada  School  of  Asian,  African,  and  Amerindian  Studies  (CNWS), Leiden  University,  Belanda. 

Tulisan Suryadi ini telah terpublikasi di jurnal Humaniora, Vol. 19, No. 3 Oktober 2007: 285-302. Begini pemaparannya.

SALAH SATU jenis naskah Buton yang cukup menonjol  adalah  surat-surat  kerajaan  (royal letters). Surat-surat  tersebut  dikirimkan  oleh raja-raja Buton kepada sesama penguasa lokal di bagian  timur  Nusantara  atau  kepada  Kompeni Belanda.

Dalam katalog naskah Buton  koleksi  Abdul  Mulku  Zahari  susunan Achadiati Ikram dkk. (2002) tercatat 97 naskah  Buton yang digolongkan ke dalam jenis surat.

Banyaknya surat resmi raja-raja Buton itu merefleksikan eksistensi Kerajaan Buton di masa lalu walaupun  VOC,  setidaknya  pada mulanya, menganggap kerajaan itu tidak begitu penting karena miskinnya (Kielstra, 1910:309).

Namun demikian, naskah surat-surat raja Buton yang cukup banyak itu belum mendapat  perhatian maksimal secara akademis.  Studi terhadap surat-surat raja Buton antara lain telah dilakukan oleh Zahari (1977), Gallop (2002: part 1, vol. I, 127, 200-1; part 2, vol. III, 497-500), Mu’jizah (2004), Pudjiastuti (2004), dan Suryadi (2005,2006)

Tampaknya,  studi  mengenai surat-surat raja Buton cukup lama terabaikan setelah  untuk  pertama  kalinya  mendapat  perhatian W.G. Shellabear pada akhir abad ke- 19. Shellabear  (1898)  membahas  surat  seorang kapitalao  (kapiten  laut)  Kerajaan Buton yang ditulis pada abad ke-17 (kira-kira 1667), pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-10, Sultan Adilik Rahim (atau La Limbata atau  Oputa Mosabuna) yang berkuasa tahun 1664- 1669.

Surat itu, bersama sejumlah surat lain dari  raja-raja  Melayu  yang  dikirimkan  kepada penguasa  kolonial  Belanda  dan  Inggris  pada abad  ke-17,  sekarang  tersimpan  di  Bodleian  Library di Oxford, Inggris (Ab Karim 1994:49).

Surat-surat Melayu klasik adalah objek studi yang  sudah  sejak  abad  ke-19  telah  menarik  perhatian dunia akademis karena banyak aspek yang terkandung di dalamnya amat bermanfaat  bagi pemahaman sejarah, politik, bahasa, seni, dan kebudayaan masyarakat Nusantara. Surat- surat  tersebut  jelas  merupakan  salah  satu     sumber  pribumi  dari  tangan  pertama  (bronen) yang amat bermanfaat bagi penelitian sejarah Indonesia dan perkembangan bahasa Melayu Nusantara di masa lampau.

Sayangnya, sampai sekarang  data  penting  itu  masih  dipandang sebelah mata oleh para peneliti di luar bidang ilmu  filologi  dan  sastra  Melayu  klasik  pada umumnya. Demikianlah, umpamanya, sumber- sumber  pribumi  berupa  surat-surat  kerajaan  tersebut belum banyak dimanfaatkan dalam studi sejarah lokal Indonesia.

Usaha untuk meneliti dan  mentransliterasikan  surat-surat  tersebut,  terutama yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan luar negeri, perlu ditingkatkan terus, agar isinya dapat diketahui oleh pembaca masa kini dan  dapat  dimanfaatkan  untuk  penelitian-penelitian dalam bidang ilmu terkait.

Pada  hakikatnya,  surat  adalah  wakil  diri seseorang.  Oleh  karena  itu,  dalam  ungkapan Melayu  klasik  dikatakan  bahwa  “surat  adalah  pengganti  badan”.    Dengan  demikian,  ada rahasia-rahasia  yang  amat  pribadi  yang  termaktub di dalamnya, yang tidak boleh diketahui  oleh orang lain selain si penerima surat. Namun, dalam kasus surat-surat kerajaan Nusantara di  masa lalu, hakikat surat sebagai representasi diri/ pribadi itu agak kompleks sifatnya.

Ada urusan pribadi  dan  sekaligus  peristiwa  politik  yang  terekam  di  dalam  surat-surat  tersebut,  dan sampai batas tertentu, teksnya bersifat emotif, tidak  “kering”  seperti  laporan-laporan  resmi enjajah.  Surat  itu  sendiri  adalah  tradisi  yang  diserap  oleh  subjek  jajahan  dari  penjajahnya:  semacam peniruan (mimicry) yang diserap dan dipelajari  dari  kekuatan  literacy  penjajah  yang  dengan  selembar  kertas  yang  disebut  surat dapat  mengambil  alih  dan  menghilangkan  kekuasaan  si  subjek  terjajah  atas  tanah  dan  otoritas  mereka  atas  rakyat  dan  negerinya  sendiri. 

Surat-surat kerajaan Nusantara tersebut ering merekam peristiwa-peristiwa politik dan sosial, khususnya yang terjadi di sekitar lingkungan elite istana yang justru tidak terekam dalam laporan-laporan  atau  dokumen-dokumen  Belanda. Dengan demikian, data historis yang berupa surat-surat kerajaan lokal Nusantara dan laporan-laporan resmi penjajah (Belanda) adalah dua jenis dokumen yang bersifat komplementer yang satu dapat melengkapi yang lainnya. Surat-surat  kerajaan  lokal  Nusantara  itu  adalah  semacam  “lorong  waktu”  (time tunnel)  untuk masuk  ke  dalam  istana-istana  kerajaan  lokal Nusantara pada masa lampau dan menyaksikan segala peristiwa (sosial dan politik) penuh dengan intrik yang terjadi di antara para penghuninya.

Surat-surat  itu  merekam  peristiwa-peristiwa politik mikro serta berbagai tradisi budaya dalam
kerajaan-kerajaan lokal Nusantara itu—intrik-intrik politik, perubahan rezim, sistem birokrasi kerajaan,  figur-figur  politik  penting  di  sekitar  Sultan, perang lokal dan aksi makar, aktivitas eknomi dan perdagangan, perilaku dan kebiasaan-kebiasaan pribadi para raja dan elite lokal, dan lain sebagainya.

Banyak aspek kebudayaan Nusantara masa lampau yang dapat diungkap melalui penelitian terhadap surat-surat tersebut. Tidak berlebihan apabila  pakar  persuratan  dan  perstempelan Nusantara klasik, Annabel Teh Gallop, berkata bahwa surat-surat Melayu adalah “an important resource for the study of political, diplomatic and  economic history of the Malay world and for the historical development of the Malay language” (Gallop, 1992:1).

Walaupun beberapa ahli sudah bertekun meneliti surat-surat Melayu dari berbagai aspek dan displin ilmu, masih ada banyak lagi surat  klasik Nusantara yang belum dialihaksarakan dan belum diungkapkan isinya.

Di dalam artikel  ini saya membincangkan tiga surat raja Buton dari  awal  abad  ke-19  yang  tersimpan  di  Universiteitsbibliotheek Leiden (Perpustakaan Universitas  Leiden;  selanjutnya  ditulis:  UB  Leiden). 

Surat  pertama  dan  kedua  berturut- turut  adalah  Cod.  Or.  2242-II  (15)  [no.  246]  dan Cod. Or. 2242-II (16) [no. 399] atas nama Sultan Dayyan Asraruddin, sultan Buton ke-27 yang memerintah tahun 1799-1822. Surat ini ditujukan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia (Wieringa 1998:415).

Surat  ketiga adalah Cod. Or. 2233 (55) atas nama Sultan  Kaimuddin  I,  Sultan  Buton  ke-29, berkuasa tahun [1821]-1851. Surat ini ditujukan kepada  Kolonel  Jan  David  van  Schelle penguasa  sipil  dan  militer  Kompoeni  diMakassar (Ibid.:303). Ketiga surat itu adalah bagian dari koleksi surat-surat resmi raja Buton yang  tersimpan  di  Belanda  dan,  oleh karenanya, mungkin belum banyak diketahui di  Indonesia. 

Penerbitan  transliterasi  ketiga surat  tersebut  diharapkan  dapat  menarik perhatian  kalangan  akademis,  khususnya  di Indonesia,  terhadap  koleksi  surat-surat  raja  Buton, dan naskah Buton pada umumnya yang  beratus tahun tersimpan di luar negeri.

Surat-surat raja Buton yang tersimpan di UB  Leiden  Salah satu dari sedikit perpustakaan di luar negeri yang menyimpan surat-surat raja Buton  adalah UB Leiden, di kota Leiden, Belanda. Di perpustakaan ini tersimpan delapan surat raja Buton  (lih.  Wieringa,  1998:303-15).  Tabel  Buton  (lih.  Wieringa,  1998:303-15).  Tabel  berikut ini menyajikan informasi kolofon surat-surat tersebut.


Semua surat tersebut termasuk  koleksi ‘Rijks-Instelling’ III di UB Leiden.  Dari tabel di bawah dapat dilihat bahwa surat tertua ditulis tahun  1788  (surat  no.  1)  dan  yang  termuda  tahun 1821 (surat no. 8).  Semua surat tersebut berbahasa Melayu dan ditulis dalam aksara Arab-Melayu (Jawi).

Dalam beberapa katalog disebutkan bahwa ada satu lagi surat raja Buton yang tersimpan di UB  Leiden,  yaitu  Cod.  Or.  2240-II  (9)  (Wan  Mamat,  1985:28;  Wieringa,  1998:384-85).

Namun, rupanya surat itu, yang termasuk jenis ‘silver’ letter, bukan surat raja Buton, melainkan surat Sultan Abunasar Muhammad dari Banten bertarikh 11 April 1807 (Pudjiastuti, 2005:173). Bahwa  surat  itu  berasal  dari  Banten  dapat diidentifikasi  dengan  jelas  pada  kolofonnya  yang  menyatakan  ‘kota  Intan  Surasupan  [!]’ (Wieringa,  1998:85)—yang  dimaksud  ialah  Surasuwan—yaitu  nama  lain  untuk  Banten  pada zaman dulu.

Lima surat yang pertama dalam daftar di  atas, yaitu surat-surat Sultan Muhyiuddin Abdul Gafur (surat no. 1, 2, 3, 4, 5), sudah dibicarakan  oleh Suryadi (2006). Dalam artikel ini hanya akan  dibahas tiga surat terakhir (surat no. 6, 7, dan 8). 

Dalam  artikel  ini  akan  diberikan  gambaran mengenai  konteks  sosio-historis  ketiga  surat  tersebut  dan  disajikan  transliterasinya.  Hasil  transliterasi  ini  paling  tidak  akan  membantu   pembaca masa kini untuk mengetahui isi ketiga surat  tersebut.  Dalam  kajian  Suryadi  (2007)  belum sempat disajikan transliterasi tiga surat ini.

Dengan demikian, artikel ini boleh dianggap  sebagai  lanjutan  dari  kajian  itu,  dalam  rangka  menyajikan transliterasi seluruh surat raja Buton yang tersimpan di UB Leiden. Selain akan me- nambah  kepustakaan  mengenai  studi  pernaskahan Buton, hasil transliterasi ketiga surat ini, dan lima surat terdahulu (Ibid.), diharapkan dapat  dimanfaatkan  oleh  bidang  ilmu  terkait seperti linguistik dan sejarah. (bersambung ke bagian2)

Posting Komentar

0 Komentar