kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Sultan Dayyan Asraruddin dan Sultan Kaimuddin I - Si Pengirim Surat ke Belanda (Bagian2)


Tulisan ini merupakan bagian dari jurnal berjudul “Surat-surat Sultan Buton, Dayyan Asraruddin dan Kaimuddin I, Koleksi Universiteitbibliotheek Leiden, Belanda” karya Suryadi, staf pengajar  pada  Departemen  Asia  Tenggara  dan  Oseania  (Opleiding  Talen  en  Culturen  van  ZuidoostAzië  en  Oceanië)  dan  doktor  pada  School  of  Asian,  African,  and  Amerindian  Studies  (CNWS), Leiden  University,  Belanda.

Tulisan Suryadi ini telah terpublikasi di jurnal Humaniora, Vol. 19, No. 3 Oktober 2007: 285-302. Begini pemaparannya.

1. Sultan Dayyan Asraruddin (1799-1822)
Sultan Dayyan Asraruddin naik tahta menggantikan Sultan Muhyiuddin Abdul Gafur, Sultan Buton ke-26 (Lihat Suryadi 2007). Di dalam stempelnya tertulis: al-Sultan Dayyan Asraruddin ibn Abdullah. All?humma M?lik al-mulk tu ?t? al-mulk da??m bi daw?m al-bahir f? kull [al-]dahr mad?d (Gallop 2002: part 2, vol. III, 499; lihat Ilustrasi 1). 

Catatan Zahari (1977: III, 21) tentang Sultan Asraruddin adalah sebagai berikut: Nama: La Badaru (nama lain: Badaruddin atau Oputa Lakira Agama Ana); Gelar kesultanan: Sultan Asraruddin; masa jabatan: 1799-1822; turun tahta dengan mengundurkan diri atas permintaan sendiri; dimakamkan di kompleks pekuburan ayah beliau dalam Benteng Keraton; aliran bangsawan Kumbewaha yang ke-7.

Peristiwa penting yang terjadi di masa kekuasaan Sultan Asraruddin adalah ditutupnya perjanjian dengan Kompeni di Makassar pada 12 Januari 1804 (Ligvoet 1878:87). Sultan Asraruddin tampaknya cukup kritis kepada Kompeni dibanding sultan sebelumnya (Muhyiuddin Abdul Gafur; lihat Suryadi 2007).

Membaca Cod. Or. 2242-II (14) [no. 246] di bawah terkesan bahwa Sultan Asraruddin agak kesal dengan sikap kapten dan awak kapal Kompeni yang kurang respek kepadanya serta tidak menghormati adat dan hukum yang berlaku di Buton. Namun demikian, Sultan tetap melaporkan kepada Kompeni jika ada kapal mereka yang mengalami musibah di perairan Buton (lihat transliterasi Cod. Or. 2242-II (16) [no. 399]. 

Sejarah mencatat bahwa walaupun hubungan ButonKompeni sering fluktuatif, hal itu tidak mengakibatkan terjadinya pemutusan total hubungan antara kedua pihak, sebab keduanya terikat pada persekutuan abadi yang diikrarkan oleh nenek moyang mereka dulu.

Di masa pemerintahan Sultan Asraruddin konstelasi politik Eropa juga mengalami perubahan signifikan: Inggris berperang dengan Perancis yang mau tidak mau juga melibatkan Belanda. Imbas perang itu sampai pula ke daerah-daerah jajahan mereka. Pada tahun 1811 Kompeni terpaksa menyerahkan Hindia Belanda kepada Inggris yang keluar sebagai pemenang perang, dan baru pada tahun 1816 diserahkan lagi kepada Kompeni.

Selama masa interregnum Inggris itu (1811-1816) hanya sekali utusan Buton menghadap wakil Inggris di Makassar (Ligvoet 1878:87). Berbeda dengan Belanda, Inggris kurang berminat mencampuri lebih jauh urusan politik internal kerajaan-kerajaan lokal Nusantara sejauh urusan dagang mereka tidak terganggu. Setelah Inggris pergi, hubungan Buton dan perwakilan Belanda di Makassar kembali aktif.

Pada tahun 1816 seorang bangsawan Bone, Arung Bakung, melakukan aksi makar di Barata Muna atas provokasi seorang ulama bernama Syarif Saleh. Arung Bakung mengawini putri Raja Tiworo, dan oleh karena itu ia cukup berpengaruh di Muna. Ia dan pengikutnya yang berasal Makassar dan Mindanao melakukan aksi separatisme terhadap Bau-bau. Arung Bakung menjadi sempalan bagi Buton selama bertahun-tahun. Dalam aksi pemberontakannya, ia dilindungi oleh Raja Konawe dan Laiwui (Zahari 1977: III, 23). Pemberontak ini baru menyerah pada tahun 1824, dua tahun setelah Sultan Dayyan Asraruddin turun tahta.



2. Sultan Kaimuddin I (1821 1851)
Sultan Kaimuddin I naik tahta menggantikan Sultan Muhammad Anharuddin yang usia kekuasaannya sangat pendek (1822-1823).[24] Malah ada kesan bahwa sebenarnya Sultan Anharuddin (Sultan Buton ke-28) seperti sultan caretaker, sebab pada tahun 1821 Sultan Kaimuddin I, pengganti Sultan Anharuddin, sudah mengadakan hubungan resmi lewat surat dengan penguasa sipil dan militer Belanda di Makassar (Cod. Or. 2233 (55); lihat transliterasi).

Sedangkan para sejarawan mencatat bahwa Sultan Kaimuddin I baru naik tahta tahun 1824. Menurut Zahari, nama biasa Sultan Kaimuddin I adalah Muh(ammad) Idrus; nama lainnya: Aedurusu Matambe, Mokobiadina, Oputa I Kuba, Oputa Mancuana; gelar kesultanan: Sultan Kaimuddin I; masa jabatan: 1824 [!] 1851; meninggalkan kedudukan karena mangkat; tempat pemakaman: Badia, dekat Mesjid Sultan; aliran bangsawan: Kumbewaha yang ke-8 (Zahari 1977: III, 28).

Gelar lengkap Sultan Kaimuddin I dalam stempelnya adalah: al-Sultan Kaimuddin ibn Abdullah. All?humma M?lik al-mulk tu ?t? al-mulk da??im bi daw?m al-bah?r f? kull [al-]dahr mad?d (Gallop 2002: part 2, vol. III, 500; lihat Ilustrasi 2). Pada masa pemerintahan Baginda Kerajaan Buton mengalami kemajuan. Zahari (1977: III, 28-68) yang banyak mengutip Ligvoet (1878), bahan-bahan lisan & tertulis dari La Adi Ma Faoka, dan memori Kapten De Jong (1916) mengatakan bahwa nama Sultan Kaimuddin I dipakai karena terinspirasi oleh gelar Raja Belanda Willem I yang pada tahun 1835 memberikan penghargaan kepada Muhammad Idrus.

Itu pula sebabnya Sultan Buton berikutnya sultan ke-30 dan 31 yang merupakan anak-anak Muhammad Idrus diberi gelar Sultan Kaimuddin II dan Sultan Kaimuddin III, mengikut sistem penamaan Raja Belanda berikutnya: Kaisar Willem II dan Willem III. Ini menunjukkan bahwa di masa pemerintahan Sultan Kaimuddin I hubungan Buton Kompeni sangat erat (Ibid.:34). Cod. Or. 2233 (55) setidaknya merefleksikan hubungan erat itu: 

Surat itu tampaknya dikirimkan oleh Sultan Kaimuddin I kepada Kolonel Jan David van Schelle yang baru diangkat sebagai pejabat sipil dan militer Kompeni di Sulawesi dan daerah-daerah bawahannya, yang dipanggilnya sebaga Duli Kekasih Hadirat Ayahanda Heer Gurnadur Tuan Besar di Mengkasar (cetak miring oleh Suryadi).

Sultan Kaimuddin I yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat telah melakukan beberapa perubahan dalam sistem ketatanegaraan dan administrasi pemerintahan Kerajaan Buton berdasarkan hukum Islam, menetapkan beberapa undang-undang baru yang mengatur hak dan kewajiban kaum nigrat dan masyarakat (Ibid.; Niampe 2002).

 Baginda juga mewajibkan penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam lingkungan Keraton Wolio (Op.cit.:29). Ini tentu saja dilakukan dalam rangka konsolidasi kekuasaannya dan untuk penguatan kharisma lembaga kesultanan. Sultan Kaimuddin I juga banyak menulis buku untuk menambah pengetahuan masyarakatnya (Lihat daftar buku-buku karangannya dalam Zahari, Ibid:29-30). Baginda juga menjalin hubungan regional yang lebih baik dengan kerajaan-kerajaan tetangganya. (bersambung ke-bagian 3)

Baca sebelumnya :Surat-surat Sultan Buton di negeri Belanda (Bagian 1)


Posting Komentar

0 Komentar