kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Raja Gowa-13 dan Kesendiriannya di Negeri Buton



Di sebuah pojok dalam kawasan Benteng Keraton Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, tepatnya disekitar ‘Baluarana Siompu’ terdapat sebuah makam tua yang dijaga keberadaannya oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Makam itu bernama, Makam Karaeng Tunipassulu, Raja Gowa ke XIII.

Mungkin, bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya etnik Bugis-Makassar (Sulawesi Selatan), tak banyak yang tahu kalau Raja ke XIII itu tempatnya ada di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Tidak seperti makam-makam raja Gowa-Tallo di Makassar yang terkesan terbangun megah dan menunjukkan kewibaannya sebagai seorang Raja, Makam Karaeng Tunipassulu di Baubau ini awalnya hanya berhias batu tua sebagai nisan, lalu terhampar begitu saja bersamaan dengan kuburan-kuburan tua lainnya di dalam benteng.

Untung saja, di tahun 2005 oleh Pemerintah Kota Baubau, makam raja yang konon dikeluarkan dari negerinya (sesuai namanya, Tunipassulu = orang yang dikeluarkan) mendapatkan perhatian khusus. Makamnya mulai dipagari dengan bebatuan khas benteng, sebagaimana makam-makam para Raja dan Sultan Buton yang ada di kota ini.

Inilah yang kemudian ‘mempopulerkan’ keberadaan Karaeng Tunipassulu di negeri Khalifatul Khamis ini. Tidak diperoleh informasi yang cukup tentang sepak terjang Karaeng Tunipassulu di Pulau Buton, yang pasti data raja-raja Gowa menunjukkan jika Karaeng Tunipasulu ini bernama lengkap I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu, yang memerintah di tahun 1590 sampai tahun 1593, dan benar memang Raja Gowa yang ke-13. 

Farid W. Makkulau, penulis buku Kekaraengan di Pangkep mengomentari seputar Raja ini memangatakan jika benar I Tepu Karaeng Daeng Para’bung Tunipasulu dimakamkan di Buton. (Matinroe ri Buton). Raja ini naik takhta kerajaan Gowa dalam usia 15 tahun, putera dari I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Tunijallo.

Karena dianggap sering bertindak sewenang-wenang, baik kepada rakyatnya maupun terhadap bate salapanga, Raja ini akhirnya diusir dari istana Gowa. Karaeng Tunipasulu’ artinya Raja yang terusir atau dikeluarkan.

“Di masa pemerintahannya yang singkat, hanya tiga tahun (1590-1593),Raja Gowa ke XIII ini memecat beberapa pembesar kerajaan, termasuk Tumailalang I daeng ri Tamacinna, membagi-bagi hamba raja dan menetapkan bate salapanga menjadi ’sipuwe lompo’, melarang rakyat berbakti kepada kedua saudaranya, membunuh orang tanpa salah. 

Kompleks Makam Raja-raja Gowa yang megah di Makassar

Tindakannya ini bukan hanya membuat tidak senang dalam istana Gowa tetapi juga membuat para pendatang dan pedagang resah. Oleh Bate Salapanga, Raja ini diasingkan ke Luwu dan disanalah ia menyadari kesalahannya dan masuk Islam dan kemudian ke tanah Buton hingga  wafat di sana pada tahun 1617.

Meski begitu beberapa informasi yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, jika keberadaan makam tua ini secara turun temurun telah ada sejak lama dan dipercaya sebagai makam Karaeng Tunipassulu, Raja Gowa ke XIII itu.

“Tugas kami bagaimana menjaga dan melestarikan keberadaan situs-situs tua dan bersejarah, kami memperlakukannya keberadaan makam Karaeng ini seperti memperlakukan keberadaan situs Gua Aru Pallakka yang juga berada dalam Benteng Keraton,” ujar Ali Arham, Kadis Dinas Pariwisata Kota Baubau

Tak dikenal secara meluas
Tidak seperti raja-raja Gowa lainnya yang dikenal di seantero nusantara, nama Karaeng Tunipassulu tidak popular. Bahkan di sejumlah data internet tentang sejarah raja-Raja Gowa, hanya menuliskan nama karaeng Tunipasulu sebagai Raja Gowa-13, tidak lebih dari itu. Mungkin inilah yang membuat jika nama besarnya di Buton juga semakin meredup.

Di era pemerintahan Wali Kota Baubau Dr. H.AS. Tamrin, MH sejak tahun 2013 hingga sekarang, barulah rutin digelar kegiatan 'titian muhibah' menapaktilasi hubungan antara Kesultanan Buton dengan Kerajaan Bone masa lalu. Awalnya menapaktilasi perjalanan Arung Palakka di Pulau Buton, namun belakangan 'makam tua' KaraEng Tunipassulu juga mendapat perhatian khusus.

Namun begitu, karena kondisi makamnya yang terlihat 'tak keramat' orang-orang Bugis-Makassar yang berada di Pulau Buton, baru belakangan ini 'memperhatikan' makam sosok Raja Gowa ini. Namun tak ada tradisi nyekar yang banyak terlihat di Sulsel terhadap makam-makam yang dikeramatkan, tidak berlaku bagi sosok Raja Gowa ke-13 ini. Makamnya seolah dibiarkan ‘sendiri’ dan tak punya kerabat.

Teramat jarang orang-orang Bugis-Makassar yang menyambanginya. Apalagi menziarahi, seperti layaknya raja-raja lainnya di Sulsel. Apakah ini hukuman bagi Sang Karaeng? Wallahu alam bissawab. (ref)

Posting Komentar

0 Komentar