kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297


Kemana nama besar Jeruk Siompu?

Ilustrasi buah jeruk

JERUK Siompu merupakan tanaman tradisional penduduk Pulau Siompu di Kabupaten Buton, pulau kecil dengan luas sekitar 50 km persegi di barat daya Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Jeruk Siompu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh jeruk asal daerah lainnya. Yakni lebih manis dibandingkan dengan hampir semua jenis jeruk unggulan di Tanah Air seperti jeruk keprok Sumatera, Kalimantan atau jeruk dari Bali atau Jawa.

Karakteristik jeruk ini kurang berair, sehingga masyarakat di Kabupaten Buton, Kota Baubau dan Sulawesi Tenggara pada umumnya, menyajikannya sebagai hidangan setelah makan di atas meja karena kurang memadai jika diperas airnya menjadi minuman segar (juice).

Meski demikian karena nikmat dan manisnya jeruk Siompu, ia sebenarnya memiliki potensi pasar yang besar, sayangnya tidak diimbangi dengan jumlah produksi oleh para petani jeruk setempat.

Warga setempat menjelaskan, selama lebih dari 10 tahun terakhir ini tanaman jeruk ini memang sudah agak langka. “Dulu hampir semua desa di pulau ini tersebar tanaman ini, tetapi itu dulu,” ujar beberapa warga di sana.

Awal menurunnya pamor jeruk ini, karena digerus gangguan penyakit sehingga kemudian dimusnahkan dan enggan lagi untuk menanam.

 
Pantai Pulau Siompu yang indah

Di tahun 2016 lalu, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan melalui bantuan Pemerintah Prov. Sulawesi Tenggara pernah mengalokasikan penyediaan lahan 50 hektar di Siompu unyuk menanam kembali jeruk ini. apalagi jeruk ini merupakan ikon Buton Selatan. Namun hingga kini, informasi lebih lanjut tentang program ini seolah memudar. Bagaimana hasilnya, belum ada rilis tentang itu.

Yang menarik dari penanaman jeruk tradisional ini adalah perlakuannya yang terbilang manja, selalu membutuhkan sentuhan manusia. “Salah satu bentuk sentuhan itu adalah mendekatkan tanaman dengan asap dapur rumah tangga” ujar La Sese (31), mantan Kepala Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu yang juga berasal dari keluarga petani jeruk.

"Orang Siompu juga beranggapan bahwa asap mengandung karbon dioksida yang dibutuhkan tanaman jeruk. Dengan penanaman di halaman rumah, berarti tanaman itu berpeluang untuk selalu mendapatkan asap dapur," katanya.

Namun begitu, pertumbuhan dan perlakuan jeruk itu tidak selalu demikian, jeruk siompu sebenarnya bisa berkembang di luar pekarangan. Namun syaratnya, tanaman itu harus diberi pupuk kandang yang memadai.

"Masalahnya, umumnya petani tidak memiliki hewan ternak, seperti kambing, yang cocok dengan kondisi alam Pulau Siompu, sehingga tak ada kotoran ternak yang bisa dibuat pupuk," ujarnya.

Hampir seluruh daratan Pulau Siompu yang berpenduduk sekitar 18.000 jiwa itu tersusun dari batu kapur yang keras dan tajam.

Namun jeruk Siompu ini dapat tumbuh di sembarang tempat dan akan memberikan hasil optimum bila ditanam di lokasi yang sesuai.

Ketinggian tempat yang sesuai untuk tanaman ini yaitu dataran rendah sampai 700 meter di atas permukaan laut. Sedangkan jeruk yang ditanam di atas ketinggian tersebut rasa buahnya lebih asam.

Suhu optimum yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya berkisar antara 25-30 derajat Celcius. Sedangkan sinar matahari harus penuh agar produksinya optimum.

Postur tanah yang disukai tanaman jeruk ialah jenis tanah gembur, porous, dan subur. Kedalaman air tanahnya tidak lebih dari 1,5 m pada musim kemarau dan tidak boleh kurang dari 0,5 m pada musim hujan.

Tanah tidak boleh tergenang air karena akar akan mudah terserang penyakit. Tanah yang baik untuk tanaman jeruk siompu harus ber-pH 5-6. Curah hujannya yang cocok berkisar antara 1.000-1.200 mm per tahun dengan kelembaban udara 50-85 persen. **(ref)

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019