kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Perjanjian Pieter Both dengan Sultan Dayanu Ikhsanuddin di Abad-17


HUBUNGAN bilataral antara Kesultanan Buton masa lalu dengan Kerajaan Belanda terbangun sejak dulu, namun tak semua hubungan itu menguntungkan Buton, bahkan cenderung merugikan. Salah satu perjanjian itu terjadi pada 5 Januari 1613, antara Belanda dan Buton.

Pihak Belanda diwakili Commandeur VOC Applonius Scotte (atau Schotte), mewakili Gabenor Jeneral VOC yang pertama, Pieter Both (1610 – 1614), mengikat kontrak perjanjian dengan Sultan Dayanu Ikhsanuddin. Orang Buton menyebut perjanjian itu: “janji baana” (Abdul Mulku, 1977, I, p. 68). 

Tulisan ini terekam dalam jurnal berjudul “Melepas belenggu kontrak Kompeni: Refleksi Hubungan Buton-Belanda dalam warkah Vereenidge Oost Indische Compagnie kepada Sultan Azimuddin”, yang ditulis Suryadi, dari Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Leiden University. Felo tamu Institut Antarabangsa Tamadun Islam dan Dunia Melayu (ISTAC) UIAM.

Dalam Abstrak jurnal tulisan Suryadi ini, menulis berikut ini;
Kesultanan Buton yang terletak di jazirah tenggara Pulau Sulawesi adalah sebuah kerajaan Islam bercorak kepulauan yang sudah wujud lama sebelum kedatangan kuasa Eropah di Dunia Melayu-Nusantara.

Secara politik, Kesultanan Buton selalu berasa terancam kerana persaingan dan peluasan wilayah dan politik antara dua kerajaan tetangganya yang besar dan kuat, iaitu Gowa dan Ternate. Oleh itu, Sultan Buton ke-4 Dayanu Ikhsanuddin atau La Elangi (1578 – 1615)
mengikrarkan “persekutuan abadi” dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 5 Januari 1613.

Inti perjanjian itu adalah bahawa VOC akan membantu Buton apabila diserang oleh musuhmusuhnya tapi dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Buton. Perjanjian itu telah ‟mengikat” sultan Buton berikutnya. Makalah ini membahaskan sepucuk warkah sepanjang 13 halaman

Daripada Gabenor VOC di Makassar, mewakili Gabenor Jeneral VOC di Batavia, yang dikirimkan kepada Sultan Buton ke-25, Azimuddin atau La Masalumu (1788 – 1791), bertarikh 25 Februari 1791 yang versi digitalnya dimiliki oleh The British Library dengan kod EAP212/6/3 dan naskhah aslinya tersimpan di Buton, yang berada dalam koleksi Abdul Mulku Zahari di Baubau. Makalah ini membahaskan isinya dan menghubungkaitkan dengan latar sejarah sosiopolitik Kesultanan Buton.

Secara ringkas, isi perjanjian itu adalah seperti yang berikut (Schoorl et al, 2003, pp. 19 – 21; Abdul Mulku [mengutip Ligvoet], 1977, I, pp. 66 – 68):

Yang harus dilakukan VOC untuk Buton
  1. Orang-orang Belanda [VOC] akan membantu melindungi negeri Buton serta warganya dari penyerbuan-penyerbuan musuh. Untuk itu, di pantai akan dibangun dua buah kubu pertahanan yang diawaki oleh beberapa orang Belanda yang dipersenjatai dengan empat buah meriam.
  2. Scotte berjanji untuk memohon kepada Gabenor Jeneral agar mengirim lebih banyak garnisun serta sebuah kapal atau sebuah kapal layar ke Buton
  3. Scotte juga berjanji untuk secepat-cepatnya akan menjadi penengah antara Buton dan Makassar dan meminta Makassar untuk menghentikan semua permusuhan dengan Buton.
  4. Scotte berjanji untuk mendesak Raja Ternate agar warganya tidak menimbulkan kesusahan bagi Raja Buton atau bagi warga Buton sendiri dan jika ada urusan-urusan, agar disampaikan secara baik-baik kepada Raja Buton melalui para duta atau warkah-warkah rasmi yang dibubuhi cap mohor Kerajaan Ternate
Yang harus dilakukan Buton untuk VOC
  1. Raja menyatakan telah mengundang orang-orang Belanda untuk melindungi Buton serta turut serta dalam perjuangan melawan musuh-musuhnya, seperti membantu Raja Ternate, teman Belanda, yang dengannya Buton juga harus bersahabat.
  2. Buton berjanji akan membantu Kompeni dalam misi penaklukan ke Solor. Raja Buton juga berjanji tidak akan mengizinkan bangsa-bangsa lain berdagang dan berlalu-lalang di wilayah Buton, jika ini dinilai akan merugikan Kompeni. Sebagai pelindung, Kompeni akan memperoleh hak-hak istimewa
  3. Raja Buton berjanji akan menetapkan harga tetap untuk barang-barang dagangan dan makanan. Orang Belanda boleh berdagang di mana-mana dalam wilayah Kerajaan Buton tampa harus dipungut bea apapun. Mereka juga boleh menanam tanam-tanaman tertentu, asal raja diberi tahu
  4. Raja Buton berjanji akan menyuruh warganya enanam padi untuk kebutuhan [orang Belanda] di Maluku.
  5. Raja Buton berjanji bahawa serdadu-serdadu atau pegawai Kompeni yang lain boleh berkahwin dengan perempuan Buton, juga anak perempuan bebas/dari kalangan orang biasa, dan mereka harus diberi tempat tinggal di kerajaan. Para isteri mereka boleh masuk Kristian. Kompeni boleh membeli budak laki-laki atau perempuan. Jika ada budak yang melarikan dan mencari perlindungan pada salah satu pihak, maka ia akan dikembalikan kepada pemiliknya atau diganti rugi seharga 10 tanet (kain Buton) untuk setiap budak
  6. Raja Buton mengingatkan Kompeni agar memegang teguh janji abadinya dengan Buton. Jika pecah perang antara Belanda dengan Banda, maka Raja Buton akan memanggil saudara lakilakinya dan serta warganya yang ada di Banda untuk kembali ke Buton.
Siapa Peter Both?
Pieter Both (lahir di Amersfoort, 1568 - meninggal di Mauritius, 1615 pada umur 47 tahun) adalah wakil VOC pertama di Hindia dan bisa pula dikatakan Gubernur-Jenderal pertama Hindia Belanda. Ia memerintah antara tahun 1610 – 1614.

Monopoli perdagangan
Selesai penugasannya sebagai perwira laut utama di Hindia Belanda (1599-1601), Pieter Both ditunjuk sebagai 'penguasa tertinggi' pada November 1609 dengan tugas utama untuk menciptakan monopoli perdagangan antara pulau pulau di Hindia Belanda hanya dengan Kerajaan Belanda, dan tidak dengan negara lain, terutama Inggris. Pieter Both memulainya dengan mendirikan pos perdagangan di Banten dan Jakarta (1610).

Pieter Both memegang jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari 19 Desember 1610 hingga 6 November 1614. Dan dia berhasil mengadakan perjanjian perdagangan dengan Pulau Maluku, menaklukan Pulau Timor dan mengusir Spanyol dari Pulau Tidore.

Sesudah digantikan oleh Gubernur Jenderal Gerard Reynst, Pieter Both bertolak kembali ke Belanda dengan 4 kapal, tetapi malangnya dia tenggelam di perairan Mauritius bersama 2 kapalnya. (ref)

Baca Juga :Jejak-jejak Perjanjian di Kesultanan Buton, dan Perlawanan atas Dominasi Belanda

Posting Komentar

0 Komentar