kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297


Muasal dan Seputar Cerita Penamaan Palagimata di Kota Baubau

Tahap awal pembangunan kantor wali kota Baubau di Palagimata

PALAGIMATA  kini menjadi nama kawasan di Kota Baubau dan telah dikenal di regional Sulawesi Tenggara sebagai pusat pemerintahan kota ini. Di sana terbangun kantor wali kota, rumah sakit, dan sejumlah perkantoran penting lainnya. Secara perlahan kawasan ini juga tumbuh sebagai kawasan hunian, baik yang dilakukan secara perorangan maupun melalui usaha property lainnya oleh pihak swasta.

Ada pertanyaan, mengapa penting menulis muasal nama Palagimata? Jawabnya sederhana, agar publik tidak kehilangan jejak karena mengandalkan ingatan belaka. Apalagi tak menutup kemungkinan kawasan ini ke depan naik status menjadi kelurahan, kecamatan, bahkan sebagai daerah otonom.

Berkaca pada penamaan ‘Baubau’ yang sebelumnya hanya sebagai kawasan dari Jembatan Gantung hingga Bonesaala, kemudian ditempatkan kantor asisten residen oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dari zaman ke zaman hingga sekarang menjadi daerah otonom dengan cakupan wilayah yang luas. Tetapi publik kehilangan jejak, sejak kapan kawasan dan penamaan Baubau itu bermula?

Data yang dihimpun Butonmagz, menyebutkan Palagimata dari segi penamaan, bermula ketika Wali Kota Baubau saat itu Mz. Amirul Tamim dengan beberapa aparat dan warga setempat pada hari Minggu 2 Juni 2004 menjejaki kawasan yang dulunya hanya belukar dan padang tandus di punggung bukit Betoambari. Palagimata sendiri masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Lipu Kecamatan Betoambari.
Beristirahat sejenak, rombongan wali kota berdiskusi tentang keindahan panorama laut di depan kawasan itu, karenanya wali kota bertanya, apa sebutan jika menyebut ‘keindahan sepanjang pandangan’.  Beberapa orang menyebut ‘Palagimata’ – yang berarti “sejauh mata memandang”. Pak Amirul kemudian meminta kepada saudara Hamzah - wartawan Kendari Pos untuk mempublikasikannya, jika nama tempat itu adalah Palagimata, sembari mengutarakan niatnya untuk membangun pusat pemerintahan Kota Baubau di puncak itu. Niat yang menurutnya telah ada ketika Pak Amirul masih menjadi Camat Betoambari di tahun 1986.

Sebulan setelah itu, tepatnya hari Senin, 12 Juli 2004 Amirul Tamim melakukan seremoni peletakan batu pertama pembangunan Kantor Wali Kota Baubau (dulu masih tertulis Bau-Bau) di Palagimata. Pada pidato singkatnya, Pak Amirul memandang wacana pembentukan Provinsi Buton Raya (kini berubah dengan nama Kepulauan Buton) dan dinamika Kota Baubau saat itu tak cukup dengan fasilitas yang ada saat, belum lagi persoalan asset daerah dengan Pemerintah Kabupaten Buton, seolah-olah hanya dalam suasana debat belaka, karena itu perlu pembangunan kawasan baru sekaligus pusat pemerintahan.

Dalam perencanaannya, pembangunan kawasan Palagimata dimulai dengan membuka akses jalan terlebih dahulu. Pak Amirul lebih awal memanfaatkan jalur utara dari kawasan Keraton sebagai akses awal, kemudian memperpanjang rute Sambali ke timur menuju kawasan yang direncanakan sebagai perkantoran wali kota.

Tak hanya itu, akses cepat dari bandara juga dibuka dengan membongkar tebing dibelakang STM Bau-Bau. Jalur ini terbilang menarik, berkelok dan terjal. Satu lagi dari arah Sulaa juga di buka, alasannya kawasan dari arah Sulaa ini akan dibangun kompleks DPRD Kota Baubau dan juga sejumlah Perumnas untuk pemukiman. Kawasan itu disebut simpang lima ’parlemen’.

Tak kalah dengan rute-rute lainnya, kawasan ’simpang lima parlemen’ ini juga menawaran pesona alam yang memukau, sebab dari sini bisa menyaksikan indahnya Pulau Liwutongkidi, Pulau Ular dan sejumlah pulau-pulau kecil yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Buton.

Ketika akses jalan di buka, Pak Amirul tidak ingin impiannya itu hanya diketahui oleh jajarannya. Ia kerap membawa sejumlah tokoh-tokoh masyarakat juga pekerja media massa dengan menggunakan bus milik Pemkot untuk menjejali indahnya Palagimata.

Harapannya sederhana, Pak Amirul ingin visinya membangun Bau-Bau diketahui warganya, sehingga ada dukungan moral. Pak Amirul sadar, di mata tetua Buton tentu ada ’pandangan lain’ yang tentu akan dijadikannya pertimbangan dalam membangun kota baru itu. Hasilnya respon positif pun diperolehnya dan pembangunan itu terus digencarkan di sana.

Palagimata, kota baru?
Ide besar untuk membuat kawasan kota baru di Palagimata bagi Pak Amirul bukan sekedar wacana. Memasuki tahun 2006, proyek Palagimata yang luasnya diperkirakan seukuran dua kelurahan itu dimulai dengan membuka jalan selanjutnya membangun kantor Walikota yang letaknya di punggung bukit. Bagi Pak Amirul, jika Palagimata telah berkembang sebagai kawasan baru dan pemukiman terus tumbuh, maka perlu ’aturan main’ yang bisa menjadikan kawasan ini sebagai kawasan yang nyaman dan layak huni.

Salah satu aturan main itu adalah tetap memposisikan Palagimata sebagai kawasan resapan. ”Instasi terkait perlu melakukan pengawasan di Palagimata agar pemilik lahan menyiapkan lahan sekitar 60 persen untuk halaman terbuka sebagai daerah serapan,” katanya.

Artinya, jika masyarakat memiliki lahan sekitar 100 meter maka minimal luas bangunan yang memiliki adalah sekitar 40 meter dan selebihnya dijadikan sebagai lahan terbuka, apalagi sebelumya kawasan ini terbilang kawasan kritis yang tak termanfaatkan.

Wacana-wacana terus digaungkan. Ada politik pencitraan yang dilakukan Pak Amirul di sini. Mencitrakan kalau Palagimata nantinya kawasan yang menjanjikan. Mungkin bisa disebut elite. Tujuannya satu, agar Palagimata nantinya benar-benar bisa dimanfaatkan warga, baik sebagai kawasan pemukiman, layanan pemerintahan, dan juga perkantoran swasta.

Kantor Walikota dengan desain Burung Terbang

Sembari menyelesaikan proses pembangunan jalan raya, yang dikenal dengan Jalan Palagimata Raya, Pak Amirul menggencarkan pembangunan Kantor Walikota. Desainnya berlantai dua, dan di bagian kanan-kiri dibangun memanjang menghadap ke arah laut. Harapannya, agar jajaran Pemkot bekerja tidak mengalami kejenuhan karena ‘dihiasi’ panorama alam yang indah.

Pembangunan Kantor Walikota ini tidak berlangsung lama. Hanya setahun lebih dirampungkan. Biaya awal yang dipakai untuk itu sebesar Rp. 9 Milyar, dan terbilang minim untuk pembangunan hal yang sama di beberapa tempat di Indonesia.

Aqua Dwipayana, seorang praktisi komunikasi pada kunjungannya ke Baubau saat itu dari Jakarta menilai seperti itu. Menurutnya, dibeberapa kota-kota di Indonesia, kantor-kantor sejenis terbangun dengan anggaran puluhan milyar rupiah. ”Ini yang patut di tiru oleh kepala daerah lainnya di Indonesia, sebab mampu menciptakan kantor dengan biaya yang hemat tetapi multifungsi dan desain yang sangat menarik” paparnya.

Soal desain, kantor Walikota ini jika dipandang dari arah kota, seolah menyaksikan burung terbang, terkadang nampak seperti kelelawar di malam hari yang terkena sorotan lampu. Desain interiornya pun sangat nyaman, sebab lantai dua diperuntukkan untuk ruang kerja walikota, wakil walikota dan sekretaris daerah.

Sementara lantai satu dimanfaatkan untuk para asisten, staf ahli dan kepala bagian. Khusus lantai satu, disekat dengan ruang-ruang transparan, sehingga memudahlakan layanan para staf dengan pimpinannya. Juga dilengkapi dengan fasilitas AC dan video camera untuk merekam aktifitas karyawan, yang bisa dipantau langsung walikota dari ruang kerjanya.

Sementara ruang-ruang loby dibangun senyaman mungkin agar para tetamu bisa betah seraya menunggu giliran pelayanan. Termasuk penyediaan fasilitas hotspot 24 jam secara gratis yang bisa dimanfaatkan semua orang bila berkunjung ke kantor ini. Ada beberapa komentar yang menyebut Palagimata layak sebagai hotel ketimbang kantor pemerintahan, saat itu.

Wali Kota Baubau, H. Mz. Amirul Tamim (2003-2013)

Objek Wisata Baru
Beberapa rekan jurnalis, menuliskan keindahan Palagimata. Ia menulis panorama alam Kota Bau-Bau yang disaksikan dari kawasan puncak Palagimata kini menjadi salah satu obyek wisata masyarakat selai sebagai pusat layanan pemerintahan. Kawasan yang berada di puncak ketinggian ini digunakan sebagai kegiatan birokrasi hingga pukul 14.00. Setelah itu fungsinya berubah menjadi lokasi wisata bagi masyarakat.

Berada di Palagimata seolah berada diatas awan. Di tempat ini seluruh aktivitas hilir mudik kapal keluar masuk teluk Kota Bau-Bau dapat disaksikan. Sisi lain yang mungkin jarang disaksikan oleh sebagian warga Kota Bau-Bau adalah posisi Palagimata sendiri dari tengah Samudera. Ketika memasuki perairan Kota Bau-Bau dari arah matahari terbenam akan ditemukan sebuah pemandangan yang cukup mempesona.

‘Raut wajah’ Bau-Bau  dapat disaksikan dengan struktur bertingkat tingkat. Pembukaan kawasan Palagimata yang kini mulai tampak dengan geliat pembangunan menambah deretan titik unik yang menghiasi wajah Kota Bau-Bau. Kini bukan hanya Benteng Keraton yang dapat disaksikan dari kejauhan namun juga kawasan Palagimata. Palagimata dalam catatan sejarah adalah sebuah Lokasi Pemukiman pertama yang oleh masyarakat dikenal dengan Lipu Morikana.

Banyak saksi sejarah dan jejak kehidupan yang dapat ‘bercerita’ membenarkan jika kawasan ini adalah kawasan di masa lalu yang menyimpan nilai peradaban. Makam tua banyak ditemukan dikawasan ini.

Tak banyak yang mengetahui bahwa di tempat ini pula pada masa lalu rutin diadakan acara ritual adat oleh masyarakat setempat. Jika selama ini masyarakat hanya merasa kagum dengan keindahan alam dari Palagimata yang menawan jika disaksikan dari  Teluk Baubau.
Posisi Palagimata juga diprediksi beberapa kalangan ‘orang tua’ sebagai lokasi yang memiliki ‘berkah’. Jika ditarik garis lurus menuju laut, Posisi Kantor Walikota ini sejajar dengan Makam seorang pembesar Kesultanan Buton Yakni Betoambari, yang kini diabadikan sebagai Nama Kecamatan dimana Palagimata berada.

Makam ini berada di atas tebing yang berbatasan dengan laut yang dikenal dengan nama “Batu Buti”. Batu ini juga berhadapan dengan sebuah tempat kramat yang dikenal masyarakat dengan nama “Kau Rua Puuna” berada di pulau seberang. Dua lokasi kramat ini dikenal sebagai ‘Pintu Gerbang Keramat’ di Buton. Konon, di masa lalu jika ada pihak luar yang masuk ke Buton dengan niat jahat akan mendapat musibah saat melewati pintu gerbang ini.

Membangun Rumah Sakit
Sembari menunggu penyelesaian kantor Walikota, Pemerintah Kota Baubau melobi pihak PLN untuk menyediakan sarana listrik di sana. Tak berselang lama, pengaspalan jalan dimulai, listrik pun masuk, sehingga seketika aktifitas layanan pemerintah kepada warga pun di mulai. Pak Amirul menegaskan, 17 Agustus 2007, aktifitas pelayanan di Palagimata sudah dimulai, dan berlangsung dengan baik hingga sekarang.

Untuk memfokuskan bagaimana kawsan kota baru ini segera terlaksana, dimulailah pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di bagian timur, kira-kira berjarak 1 Km dari kantor Walikota. Diingatkan, agar pembangunan RSUD di Palagimata agar tetap mempertahanan pohon-pohon besar di sekitarnya.

“Di upayakan tidak menebang pohon, sebab menunggu pohon besar butuh puluhan tahun, sementara membangun gedung tidak cukup waktu setahun” ujar Pak Amirul saat itu.

Ketika pelayanan RSUD mulai dibuka, dan RSUD lama ditutup pemakaianya, Pak Amirul kerap mendapat kritik, sebab dinilai makin menyusahkan warga, sebab lokasinya tidak lagi berada di pusat kota. Namun lambat laun, keluhan ini menghilang, sebab sarana transportasi sudah terjangkau dan layanan semakin maksimal.

”Memang butuh proses pembiasaan, lagi pula banyak alternatif-alternatif pelayanan kesehatan, sehingga kita tak perlu ragu, RSUD yang kita bangun adalah RSUD rujukan di kawasan Buton Raya. Sehingga perlu ruang yang lebih layak,” tandasnya. ** (ref)

----

Sebagian tulisan direproduksi dari buku “Kota Baubau 1981-2018, cerita dan kepemimpinan – (hamzah – Idrus Taufiq)”

Baca Juga : Indahnya Pesona Teluk Kota Baubau dari Puncak Mardadi

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019