kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Legenda kayu perkasa Bolong Sanrego, cerita dari Tanah Bugis


Orang-orang Bugis dan Buton sejak dulu membangun hubungan emosional, cerita di kedua negeri hampir selalu sama, dari lagenda hingga cerita bertutur kekinian.  Ada satu cerita yang tentang khasiat kayu di negeri Bugis yang masih asing di negeri Buton, yakni ‘Bolong Sanrego’, jenis kayu pendongkrang vitalitas orang-orang dewasa. Seperti apa?

Kayu Bolong Sanrego dipercaya mampu mendongkrak vitalitas dan keperkasaan pria. Khasiatnya tersibak berkat seekor kuda. Alkisah saat La Tenri Rawe Bongkange yang bestari menjadi Raja Bone ke-7 (1568-1584), tersebutlah seekor kuda jantan bernama La Bolong (si hitam) milik Arung Sanrego.

Sang kuda tak sengaja menemukan satu tanaman di hutan berbukit. Setiap kali La Bolong melahap tumbuhan itu, kontan berahinya memuncak. Sejurus kemudian langsung mencari kuda betina. "Dalam sehari itu La Bolong mampu melampiaskan berahinya kepada 40 ekor kuda betina," cerita Andi Patawari yang dihimpun Butonmagz dari berbagai laman linimassa.

Ketika menemui Andi Patawari --keturunan langsung Arung Sanrego-- di rumahnya yang juga merupakan Saoraja, rumah para raja-raja di Desa Tompong Patu, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Usianya kini mendekati 100 tahun, namun masih sehat dan fasih bercerita. Keperkasaan La Bolong telah menjadi legenda turun-temurun dalam keluarganya.

Menurut cerita, setelah La Bolong menampakkan keperkasaan, Arung Sanrego keheranan. Ia tertarik dengan kayu yang selalu dielus sang kuda. Lalu melakukan uji coba kepada beberapa hewan peliharaan lain, seperti kucing, anjing, dan ayam.

Caranya dengan merebus kayu tersebut. Ternyata reaksi yang sama terjadi. Semua hewan berahi tak terkira berkat kayu ajaib tersebut.

 

Setelah merasa cukup yakin, Arung Sanrego menguji khasiat kayu tadi kepada putranya, Bangkung Pettareng. Sesuatu yang tak biasa pun terjadi. Vitalitas Bangkung meningkat luar biasa. Alhasil 41 istrinya, kecuali yang pertama, semuanya hamil.

Bangkung lalu bersumpah akan membuat istri pertamanya juga bunting. Sumpah itu kemudian bisa terpenuhi tapi dengan cara yang unik sekaligus membuktikan khasiat bolong sanrego.

Konon saat meninggal dan jasadnya dimandikan, istri pertama keheranan melihat lase' (penis dalam bahasa Bugis) Bangkung masih "hidup".

Dipersilakanlah permaisuri memasuki bilik dan menuntaskan hajat suaminya. Sembilan bulan kemudian, istri pertama melahirkan anak yang diberi nama I Ladica Puang Makuasa.

Sejak peristiwa itu, kisah soal kayu ajaib ini terkenal hingga ke seantero negeri. Mereka pun menyebutnya kayu bolong sanrego sebagai penghormatan kepada kuda milik Arung Sanrego. Tempat ditemukannya kayu tersebut hingga kini diberi nama Desa Sanrego.

Andi Tike (71) mempersiapkan ramuan kayu Sandrego di kediamannya di Desa Sanrego Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulsel, Senin (25/12/2017). Kayu sanrego dipercaya banyak kalangan dapat meningkatkan vitalitas kaum pria.

Sanrego dan kisah yang menyertainya
Membicarakan kayu sanrego bagi orang Bone selalu menarik. Pasalnya sebagian mengaku belum pernah melihat bentuk kayu nan tersohor itu dalam kondisi hidup. Andi Patawari juga segendang sepenarian.

Kemisteriusan kayu sanrego memang sejalan dengan serangkaian cerita mistis yang menyertai. Konon katanya, hanya keturunan langsung Arung Sanrego yang mendapat mimpi khusus mampu melihat letak tumbuhnya kayu.

Andi Tike (71) termasuk yang terpilih menyandang predikat tersebut. Dan dalam satu generasi, hanya satu orang yang bisa mendapat wangsit.

Kami lalu diajak mengunjungi rumah Andi Tike di dekat perbatasan Desa Sanrego dan Desa Tompong Patu. Jalan yang harus dilalui penuh bebatuan dan minim pencahayaan.

Pada sebuah rumah panggung khas Bugis kami berhenti. Di kolom rumah terpasang papan kayu dengan celah lebar. Tak lama Andi Tike mengeluarkan sepotong kayu warna putih beserta ekor ikan pari.

Kayu putih itulah bolong sanrego dan akan diserut menggunakan ekor ikan pari. Hasil serutannya langsung dimasukkan ke dalam gelas berisi air rebusan tape.

"Cara minumnya seperti ini, kalau bukan air tape, bisa diganti dengan ballo (tuak), tak perlu banyak yang penting tercampur," katanya sembari mengeruk kayu.

Sambil memegang gelas berisi serutan kayu dan air tape, mulutnya komat-kamit melafalkan mantra. Lantas menanyakan nama dan meniup ramuan tersebut. Hanya kepada nama yang disebutlah ramuan itu bisa bekerja.

Andi Tike menyakinkan bahwa ramuan sanrego penuh khasiat. Ia bahkan dulunya sering menggunakannya untuk bersenang-senang. Pernah suatu ketika, seorang perempuan kata dia, tidak mampu terpuaskan oleh banyak lelaki. Hanya dengan Andi Tike si perempuan tersebut menyerah.

Efek meminum serutan kayu bolong sanrego, lanjut Andi Tike, bisa bertahan hingga beberapa hari. Badan akan terasa panas dan selalu ingin bergerak.

Sekarang ia tak lagi sering meminumnya. "Dulu saya punya tiga istri, sekarang tinggal satu," ujarnya terkekeh.

Ramuan sanrego juga tak boleh diberikan kepada sembarang orang. Mereka yang ingin harus datang sendiri, melalui serangkaian ritual, dan mempersembahkan seekor ayam jantan baru kayu tersebut bisa diambil.

"Kayu ini tidak pernah dijual dan tidak seharusnya dijual, makanya saya juga heran kalau di luar sana banyak yang memperjualbelikan," lanjutnya sembari mengaku bahwa anak kandungnya pun tak pernah ia izinkan meminum ramuan kayu tersebut.

Berhubung kayu tersebut tidak dibudidayakan dan tumbuhnya liar di perbukitan, perlu wangsit khusus untuk menemukan letak lokasinya.

Karena banyak yang penasaran melihat wujud hidup kayu tersebut, kami lalu memperlihatkan beberapa foto tanaman yang dimaksudkan. Ada yang menurutnya mirip, tapi bukan bolong sanrego.

"Itu aju (kayu, red.) pusaka, memang mirip sanrego, khasiatnya juga obat, tapi bukan untuk vitalitas," katanya menjelaskan gambar yang memperlihatkan sebatang kayu kecil dengan daun agak runcing.

Menurut Andi Tike, kayu pusaka yang kami perlihatkan rasanya pahit. Sementara kayu bolong sanrego lebih hambar bahkan tak memiliki rasa. Ketika saya mencoba meminum ramuan yang dibuat Andi Tike, hanya kecut yang kami rasakan akibat fermentasi tape.

"Kayu bolong sanrego tumbuh di atas bukit di dalam hutan. Butuh jalan kaki sekitar lima kilometer baru sampai," tuturnya menjelaskan bagaimana kayu ini bisa ditemukan.

 
Satu hal yang ditegaskan Andi Tike, kayu ini sebenarnya tidak baik jika telah berpindah tangan. Khasiatnya tidak akan sama lagi. "Ini soal keyakinan dan niat hendak digunakan untuk apa," ujarnya.

"Kayu itu bukan ditujukan untuk hal negatif," kata Andi Patawari dengan suara bergetar. Sembari menarik nafas, dia mengatakan kalau bolong sanrego diamanatkan keluarganya untuk hal positif. Misalnya agar kuat menggarap sawah.

Berbagai cerita tentang khasiat sanrego memang sulit dibendung. Beberapa orang malah mengganggapnya hal yang tabu. Meskipun tabu, rata-rata orang tetap tertarik membahas kayu tersebut.

Untuk membuktikan kemustajaban kayu bolong sanrego dari sudut ilmiah, kami menghubungi Sitti Fatimah Syahid, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro).

Kata Sitti, kayu sanrego dikenal juga dengan sebutan Lunasia amara yang mengandung zat afrodisiak. Selain dapat membangkitkan gairah seksual, sering pula digunakan untuk mengobati impotensi, malaria, diabetes, dan gigitan ular.

"Pemanfaatkan satu tumbuhan untuk obat erat kaitannya dengan senyawa yang memengaruhi tumbuh kembangnya. Misal tumbuhnya di pantai atau gunung, meski berjenis sama, pemanfaatannya bisa berbeda," kata Subehan, Akademisi Universitas Hasanuddin,

Walaupun bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan berbeda, Subehan telah memastikan bahwa Lunasia amara mengandung senyawa yang meningkatkan gairah seks. "Saya pernah mencobanya untuk tikus dan terbukti," ujarnya sambil tersenyum.

Hanya saja, jenis Lunasia amara yang diteliti Subehan terasa pahit di lidah. Berbeda dengan kayu sanrego versi Andi Tike.

Ia pernah meminta contoh kayu bolong sanrego yang diambil harus melalui ritual dan menyerahkan ayam jantan, namun penelitian urung dilakukan sebab bahan baku yang tersedia tidak cukup.

"Mereka memberi sedikit bahan, tidak cukup untuk penelitian lengkap. Jadi kami meneliti yang pahit dan ternyata itu Lunasia amara," katanya meyakinkan.

Perbedaan ini sebenarnya tidak mengejutkan. Pasalnya sedari awal telah banyak yang mengira Arung Sanrego adalah seorang pria perkasa. Ternyata ia sosok perempuan yang berkuasa. Tidak heran jika kayu bolong sanrego dipahami berbeda.

Penelitian terhadap lunasia amara juga pernah dilakukan (alm) Prof. Muchsin Darise dari Universitas Hasanuddin pada tahun 1994. Dari penelitiannya ternyata tumbuhan itu tidak hanya tumbuh di Desa Sanrego, Bone, tapi juga ditemukan di kawasan lain sepanjang jazirah Sulawesi.

Tanaman yang tidak banyak dibudidayakan ini sebenarnya sudah tergolong langka. Pun demikian, di beberapa tempat ada yang menjadikan sanrego sebagai jamu berbentuk pil. Ada pula yang mencampurnya dengan secangkir kopi. Mereka menyebutnya "kopi sanrego". Bisa ditemukan di Kabupaten Bulukumba dan Barru.

Tanaman Lunasia amara menurut Sitti Fatimah Syahid dan Subehan sangat bisa dibudidayakan. Metodenya bisa dengan biji dan anakan. "Dapat pula dicangkok, meski itu memakan waktu yang lama," terang Subehan.

Sejauh ini belum ada penelitian lebih jauh atas tanaman Lunasia amara. Baru pada tahap konservasi plasma nutfah di rumah kaca dan lapang. Itu pun belum masif. "Padahal jika mau dikembangkan, bisa sebagai bahan obat dalam kemasan seperti kapsul," kata Sitti. (dari berbagai sumber)

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019