kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Hoger, si Belanda Pencipta nama 'Kepulauan Tukang Besi' Wakatobi Kini. (Bagian I)


Gugusan Kepulauan yang membentang di bagian timur Pulau Buton itu, pada masa Kesultanan Buton dinamakan Liwuto Pataanguna, artinya Pulau Empat, kemudian dipopulerkan dengan istilah Liwuto Pasi, artinya Pulau Karang. Sejak Belanda berkuasa di Buton, gugusan kepulauan ini disebut dengan istilah Toekang Besi Eilanden artinya Kepulauan Tukang Besi. Tradisi lisan menuturkan bahwa istilah itu mula-mula dilontarkan oleh seorang Belanda bernama Hoger.

 Dalam salah satu pelayaran melewati kepulauan itu, ia singgah di Pulau Binongko. Ia melihat penduduknya membuat berbagai peralatan hidup yang terbuat dari besi sehingga ia menamakan gugusan kepulauan itu dengan istilah Toekang Besi Eilanden.
Versi lain menyebutkan bahwa istilah Tukang Besi berasal dari nama Tulukabessi, Raja Hitu, yang para pengikutnya diasingkan ke Batavia tetapi berhasil memberontak dan membunuh para serdadu Belanda di Pulau Wangi-Wangi. Para pengikut Raja Tulukabessi yang berjumlah sekitar 360 orang itu akhirnya menetap disana dan menjadi salah satu cikal bakal penduduk Kepulauan Tukang Besi.

Pada tahun 1959 muncul gagasan untuk mengubah nama Kepulauan Tukang Besi menjadi Kepulauan Wakatobi atau Kepulauan Bitokawa. Istilah ini muncul dari kaum intelektualnya bersamaan dengan ide perjuangan membentuk satu kabupaten yang terlepas dari Kabupaten Buton.

Mereka beranggapan bahwa istilah “tukang besi” kurang bagus didengar dan terkesan Belanda sentris. Akhirnya disepakati bahwa nama Kepulauan Tukang Besi ke depan harus diganti dengan istilah Kepulauan Wakatobi. Istilah Wakatobi adalah akronim dari nama-nama pulau besar di kepulauan itu, yakni Pulau Wangi-Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko. Akhirnya pada tahun 2003 gugusan kepulauan ini menjadi satu kabupaten pemekaran dari Kabupaten Buton dengan nama Kabupaten Wakatobi.

Keadaan Geografi dan Ideologi
Kepulauan Tukang Besi dengan penduduk kurang lebih 100.000 jiwa, terdiri atas 33 pulau (25 pulau belum dihuni manusia) dengan luas sekitar 1.400.000 hektar (94 persen) wilayah perairan dan hanya sekitar 100.000 hektar (6persen) wilayah daratan. Kondisi tanahnya tandus dan berbatu-batu, kecuali Pulau Kaledupa.

Kini kepulauan ini sangat terkenal di dunia internasional, terutama di kalangan wisatawan, karena obyek wisata baharinya yang amat mempesona yaitu obyek wisata Pulau Hoga dan One Mobaa yang dikunjungi oleh ratusan bahkan ribuan wisatawan mancanegara dalam setiap tahun. Obyek wisata bahari Pulau Hoga dikelola oleh Cris Mayor asal Australia dan obyek wisata bahari One Mobaa dikelola oleh Lorenz Maeder, seorang pengusaha asal Swiss.

Di wilayah perairan kepulauan ini telah berhasil teridentifikasi tidak kurang dari 3000 spesies jenis ikan termasuk ikan napoleon dan terdapat 40 titik penyelaman terindah di dunia setelah Great Reef Australia (Kendari Pos,Minggu, 30 Juli 2006: 3).


Secara geografis kepulauan ini bersentuhan langsung dengan Laut Banda di sebelah timur dan utara serta Laut Flores di sebelah selatan dan barat. Wilayahnya berada antara Maluku dan Irian di sebelah timur sebagai pusat hasil bumi seperti kopra dan rempah-rempah dan Jawa di sebelah barat sebagai pusat penjualan hasil bumi dan produksi berbagai kebutuhan rumah tangga yang sangat dibutuhkan di wilayah timur. 

Kedua wilayah ini mempunyai hubungan saling ketergantungan dan pelayar-pelayar Tukang Besi tampil sebagai penghubung ke dua wilayah ini karena posisinya yang demikian. (Dari berbagai sumber)

Baca Kelanjutannya di Kepulauan Tukang Besi, Muasal Pelayaran Unggul Orang Buton (Bagian kedua)

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019