kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Hari Bela Negara di Baubau, dari upacara, Diklat PBN dan asal muasalnya

Pembukaan Diklat PBN-2 Kota Baubau, 2018 di Mako Kompi 725 Woroagi

LIPUTAN KHUSUS (6). Hari Bela Negara yang diperingati setiap tanggal 19 Desember 2018, merupakan yang ke-70 tahun, menjadi momentum memantik semangat persatuan dan kesatuan, selain hari besar nasional lainnya. Di Kota Baubau – Sulawesi Tenggara sendiri diperingati dalam bentuk upacara bendera yang dipimpin langsung Wali Kota Baubau Dr. H. AS. Tamrin, MH. Tema besar yang diusung momentum ini adalah “Bela Negara untuk Kemakmuran Rakyat”.

Wali Kota membacakan amanat Presiden Joko Widodo tentang Hari Bela Negara ini. "Hari Bela Negara ini dicanangkan untuk menghormati dan mengajak semua warga negara untuk membela negara melebihi panggilan tugas yang menjadi tanggung jawabnya bela negara, tidak bisa hanya dilakukan dengan kekuatan fisik dan senjata semata, tapi harus dilakukan melalui beragam upaya dan profesi," kata AS. Tamrin membacakan amanat dari Jokowi di Palagimata Baubau

"Sebagai negara besar dengan penduduk terbanyak keempat di dunia serta negara maritim dengan ribuan pulau bangsa yang Bhineka dalam suku ras dan agama kita bersyukur bahwa negara kita tetap rukun damai dan bersatu," lanjut dia.

Jokowi, seperti amanat yang dibacakan AS. Tamrin, kemudian menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang sudah melakukan aksi bela negara. Tak hanya TNI-Polri, profesi guru juga dimaknai sebagai bela negara.

"Mereka yang mengajar walaupun bukan guru, yang mengajak masyarakat untuk hidup sehat walaupun mereka bukan pegawai kesehatan, banyak mereka yang mendampingi masyarakat untuk berwirausaha tanpa berniat mengambil manfaat dari masyarakat. Inilah sebuah bentuk dari bela negara yang patut kita apresiasi," ujarnya.

Tak berhenti sampai di situ, esoknya 20 Desember 2018, melalui Dinas Pemuda Olah Raga kembali menggembleng 40 pemuda dari berbagai ormas dan OKP di kota ini mengikuti Pendidikan dan Latihan Bela Negara (PBN), yang dipusatkan di Kompi 725 Woroagi – Sorawolio kota Baubau. Acara ini dibuka langsung Wakil Wali Kota La Ode Ahmad Monianse, disaksikan Komandan Kompi 725 dan beberapa pejabat di kota ini.

Diklat ini merupakan angkatan ke-2, setelah di tahun 2107 sebelumnya juga sebanyak 40 orang didik di pelatihan ini, dijadwalkan berlangsung hingga empat hari ke depan. La Ode Ahmad Moninase dalam sambutannya mengingatkan, Diklat ini adalah upaya negara dan daerah untuk terus menjaga keutuhan bangsa dengan ideologi Pancasilanya, serta menanamkan semangat patriotik generasi muda kepada bangsa dan negaranya.

Untuk Baubau sendiri, menurut Kadis Pemuda dan Olah Raga, La Ode Darussalam alumni-alumni Diklat PBN ini membentuk Ormas PBN tersendiri sebagai wadah pengikat kebersamaan, serta penjaga ideologi bangsa. Karenanya momentum diklat ini juga diperingati sebagai ulang tahun kedua ‘Ormas PBN’ Baubau.

Upacara HUT - Bela Negara Tk. Kota Baubau, 19 Desember 2018

Asal Muasal Peringatan Hari Bela Negara
Hari bersejarah yang biasa disebut HBN ini mengingatkan deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat pada 19 Desember 1948. Penetapan ini dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 28 Tahun 2006. Pada Kepres itu juga disebutkan bahwa Hari Bela Negara bukan merupakan hari libur.

Hari yang mana para pahlawan bangsa terdahulu mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah-tengah guncangan Agresi Militer Belanda II.

Peringatan Hari Bela Negara ke-65 tepatnya pada 19 Desember 2012 dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Monumen Nasional Bela Negara di salah satu kawasan yang pernah menjadi basis PDRI dengan area seluas 40 hektare, tepatnya di Jorong Sungai Siriah, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Soekarno-Hatta Ditangkap Tentara Belanda 1948

Bung Karno dan Bung Hatta diangkut oleh tentara Belanda pada 19 Desember 1948. Pada tahun yang sama, keduanya diasingkan ke Menumbing, Bangka. Hal ini dKampus UGMilakukan Belanda karena ingin menghapus Republik Indonesia dari peta dunia dan berkuasa kembali di tanah jajahannya.

Selain itu, Belanda juga memiliki tujuan utama atas penangkapan itu, yakni Belanda ingin membubarkan pemerintahan di Indonesia dan menghancurkan TNI. Dalam waktu singkat, pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Yogyakarta kala itu.

Berdirinya Universitas Gadjah Mada 1949

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1949 tentang Peraturan Penggabungan Perguruan Tinggi menjadi Universiteit tanggal 16 Desember 1949, Pemerintah Republik Indonesia mendirikan Universitas Gadjah Mada yang merupakan universitas pertama didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia setelah Indonesia merdeka.

Akhirnya pada 19 Desember 1949 UGM berdiri di Bulaksumur, Yogyakarta dengan enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 juga disebutkan keenam fakultas tersebut adalah Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Hukum, dan Fakultas Sastra dan Filsafat.

Rektor pertama (Presiden) UGM yaitu, Prof. Dr. M. Sardjito. Pada saat yang sama juga ditetapkan Senat UGM dan Dewan Kurator UGM yang terdiri dari Ketua Kehormatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Ketua adalah Sri Paku Alam VIII, seorang wakil ketua dan anggota.

Operasi Trikora – 1961
Operasi militer TRIKORA (Tri Komando Rakyat) merupakan konflik dua tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat. Ketika Belanda masih mengklaim bahwa Irian Barat masih merupakan wilayah kekuasaannya, Indonesia segera mengerahkan operasi militer secara besar-besaran untuk mengusir Belanda dari wilayah NKRI.

Mempertahankan wilayah Papua bagian barat dari Belanda ini menyisakan sejarah penting di dunia militer Indonesia. Pasalnya, TRIKORA ini diperintah langsung dari Presiden Soekarno untuk membebaskan wilayah tersebut pada 19 Desember 1961. Konflik ini berakhir pada 15 Agustus 1962.** (ref)

Posting Komentar

0 Komentar