kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297


4 makanan khas Sulawesi Tenggara


Mencicipi kuliner khas adalah salah satu cara memperkaya pengalaman Anda saat melancong. Termasuk saat berwisata ke Sulawesi Tenggara. di daerah ini, dari Kolaka, Konawe, Buton. Muna, Wakatobi, Kendari, Baubau - banyak kuliner khas yang bisa dicicipi

Butonmagz menampilkan beberapa masakan khas yang ada di Sulawesi Tenggara antara lain sinonggi, lapa-lapa, kabuto, dan sate pokea. Nama-nama unik yang mungkin tidak familier. Seperti apa wujud dan rasanya, berikut kami sarikan untuk Anda.

Kabuto

Kabuto merupakan makanan khas Muna yang berbahan dasar singkong atau ubi kayu yang telah kering. Dari bentuknya, kabuto mirip dengan gathot dari Jawa. Meski sama-sama dibuat dari singkong, penyajian gathot dan kabuto berbeda. Gathot disantap dengan campuran garam atau gula, sementara kabuto dimakan dengan parutan kelapa dan ikan asin goreng.

Lapa-lapaMakanan yang satu ini terbuat dari beras yang dimasak dengan santan kelapa. Setelah matang dan didinginkan sesaat, lapa-lapa dibungkus dengan janur kelapa dan diikat dengan tali dari batang pisang kering.Lapa-lapa lebih nikmat disantap dengan sate daging atau opor ayam. Makanan ini juga bisa dimakan bersama sate pokea.

Makanan ini jadi menu wajib saat lebaran. Biasanya di rumah-rumah disediakan lapa-lapa dengan sambal kaluku yang terbuat dari kelapa parut. Rasa sambalnya beragam, asin, asam, hingga pedas.

Sate pokea

Pokea adalah kerang air tawar yang bentuknya pipih dan dagingnya berwarna putih. Pokea banyak ditemukan di Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe, yang sejak 1989 memang dikenal sebagai produsen sate pokea.

Sate pokea sendiri mirip dengan sate ayam atau sate daging. Bumbunya dari bahan kacang tanah yang dihaluskan. Sate ini bisa dimakan begitu saja atau disantap dengan nasi ketan yang khas ala Kendari.

Sinonggi
Sinonggi adalah makanan khas Suku Tolaki yang mirip dengan papeda asal Maluku atau kapurung dari Sulawesi Selatan. Sinonggi terbuat dari pati sari sagu yang setelah dimasak teksturnya seperti lem putih.

Zaman dulu, sinonggi disimpan di dalam dulang kayu yang memberikan rasa legit. Seiring berjalannya waktu, orang lebih suka menyimpan makanan ini di dalam baskom.

Suku Tolaki menyantap sinonggi sebagai pengganti nasi saat musim paceklik. Makanan ini biasa disantap bersama sayur, kuah ikan, dan sambal. Namun, tambahan untuk sinonggi bisa disesuaikan dengan selera. Bisa jadi sayur bening, sayur santan, atau kuah daging yang dimasak dengan daun belimbing asam.

Cara makan sinonggi adalah digulung dengan menggunakan sumpit. Bila kesulitan, makan langsung dengan tangan atau sendok pun tak jadi masalah. **

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019