kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Tugu Aspal Pasarwajo, Terbesar di Seantero Kepulauan Buton

SETIAP orang yang pernah berkunjung ke Pasarwajo - ibukota Kabupaten Buton pasti melewati tugu ini, namun hanya sedikit orang yang memahami latar-belakang kelahiran ikon kota aspal itu. Bahkan nyaris tak ada publikasi berkaitan kehadirannya, padahal ia terbilang tugu terbesar di seantero Pulau Buton. Ada pendapat yang mnyebut minimnya informasi berkaitan Tugu Aspal ini karena warga sudah terbiasa melewatinya. Begitu penjelasan singkat dari Alimuddin Matu, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buton kepada ButonMagz.

Ada beberapa predikat yang pantas disematkan dengan kehadiran tugu ini, selain terbesar di kawasan Kepulauan Buton; disebut pula sebagai ikon Pasarwajo, juga berpredikat sebagai ‘titik nol’ wilayah penghasil Aspal terbesar di dunia itu. Orang-orang Pasarwajo sendiri kerap mencandai tugu ini dengan sebutan “Monas-nya Buton”. Kok bisa? Mungkin sekedar pengandaian akan kemegahannya.

Informasi yang diperoleh dari, Nurul Kudus Tako – perancang pendirian tugu ini; bahwa bangunan monumental ini setinggi 16 meter dengan cengkraman kaki yang punya makna filosofis. Mulai dirancang di tahun 2012 di masa pemerintahan Bupati Ir. HLM. Sjafei Kahar, tetapi direalisasi pekerjaannya di zaman pemerintahan Penjabat Bupati Buton Ir. Nasruan, tetapi peresmiannya di zawal pemerintahan Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun. “Melewati tiga pemerintahan kepala daerah,” kata Nurul Kudus – yang kini menjadi kepala bidang  di Dinas Perumahan Rakyat Kabupaten Buton, Kamis siang ini. (1/11).

Awalnya tugu ini dirancang setinggi 24 meter dengan ditopang 4 buah penyanggah utama untuk mengenang masa pemindahan pemerintahan Kabupaten Buton dari Kota Baubau ke Pasarwajo, tanggal 24 April. Begitu pula di puncaknya direncanakan terdapat ‘patung Parabela’ sebagai ikon dan simbol adat daerah itu. Di situ renacana pemaknaan nilai historisnya, termasuk menjadi landasan filosofi pendiriannya.

Tetapi filosofi itu terabaikan, sebab setelah terbangun tingginya hanya 16 meter, dan puncaknya juga berganti dari ‘patung Parabela’ menjadi tumpukan Aspal hitam di puncak. Karena itu namanya pun diganti menjadi ‘tugu Aspal’. Tak masalah, sebab Aspal memang menjadi kebanggan masyarakat Buton sejak dulu.

Tahu tidak, tugu semegah ini dibangun dengan anggaran sebesar Rp 1,2 Milyar didesain oleh putra lokal, kontraktor lokal, tetapi dengan tenaga-tenaga profesional dari Kota Surabya, sehngga terdesai rapi.

 
Konstruksi tugu ini setelah jadi, terdiri lima lapis bagian. Dari dasar sebagai lapis pertama dibuat melingkar sebagai pelingkar tiga jalan protokol utama Kabupaten Buton, yakni poros utama Takawa-Pasarwajo, poros ke Baubau dan poros Lasalimu. Dilapis kedua terdapat 9 bentuk penyanggah dengan ketinggian 4 meter yang melambangkan 9 daerah yang berada di Sulawesi Tenggara ( sebelum mekar menjadi 12 kabupaten kota). Dilapis ketiga terbangun 4 buah pilar penyangga dengan konstruksi keramik, yang menunjukkan 4 wilayah Sulawesi Tenggara setelah berpisah dari Sulawesi Selatan, yakni Buton-Muna-Kolaka-Kendari. Tingginya sekitar 12 meter.

Di lapis keempat terdapat cangkang melingkar sebagai gambaran bumi Buton yang banyak menyimpan aneka tambang mineral, dan yang paling kesohor adalah Aspal alam yang terbangun dilapis puncak. Soal aspal, jangan ditanya. Buton pernah kesehor di seluruh penjuru Tanah Air di era tahun 1980-an dengan kejayaan PT. Pertambangan Aspal Nasional (PAN).
Saat itu Pasarwajo tumbuh sebagai kota industri yang benyak dikunjungi tetamu dari seantero Nusantara. Bahkan setiap pekan, warga di sekitarnya termasuk Kota Baubau harus ke Pasarwajo untuk melihat keramaian di sana. Bisa dibanyangkan, aspal Alam di Buton tidak seperti tambang-tambang lainnya.
Di beberapa kawasan tampak bukit-bukit legam karena aspal, bahkan beberapa diantaranya terlihat keluar dari perut bumi seperti dodol hitam. Begitu pula teknologi pengelolaannya menjadi aspal cair masih terus diinovasi, agar lebih ekonomis dan bisa berkompetisi dengan aspal-aspal buatan lainnya.

Hampir lupa, Tugu Aspal ini terletak di Keluarahan Wakoko-Pasarwajo, tepatnya di jalan 25 Wakoko menuju kompleks pemerintahan Kabupaten Buton di kawasan Takawa. Lokasi tugu ini disebut juga sebagai ‘titik nol’ Pasarwajo.  Ah..negeri Buton memang kaya! (ref)

Posting Komentar

0 Komentar