kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Queen's Day Ratu Beatrix pun Pernah dirayakan Kesultanan Buton?


KENDATI literature resmi menunjukkan bila Ratu Wilhelmina adalah raja kesohor Kerajaan Belanda, ayah ibunya adalah raja-raja Belanda, tetapi ada juga cerita yang menyebut Ratu Wilhelmina adalah keturunan Buton dengan nama Wa Ode Mina. Tetapi itu sekadar folklore (cerita rakyat) di masyarakat Buton, yang secara filosfis bermakna kedekatan hubungan bilateral antara Buton dan Kerajaan Belanda di masa lalu.

Sebegitu kuatnya hubungan itu, tradisi-tradisi negeri Belanda terkadang kerap juga  ‘dipestakan’ di Kesultanan Buton masa lalu. Sebut saja King’s Day atau Queen’s Day -   adalah tradisi pesta Kerajaan Belanda untuk merayakan kelahiran putra-putri mahkota dari raja atau ratu yang memerintah, yang diperingati setiap tanggal 27 April setiap tahunnya. Pesta ini sudah berlangsung ratusan tahun di negeri Kincir Angin itu.


Pada King’s Day, penduduk Belanda biasanya akan menjual barang-barang bekas di Vrijmarkt (free market). Mereka juga tumpah ruah ke jalan untuk berpesta dengan menggunakan pakaian berwarna oranye, warna khas kebesaran Belanda.

Ketika pemerintah Kerajaan Belanda berkuasa di Nusantara dengan nama Pemerintah Hindia Belanda, tradisi ini juga banyak di gelar di beberapa tempat, seperti di Batavia (Jakarta) yang banyak dulu di pusatkan di kawasan Gambir, - kini Jakarta Pusat. Wajar saja, sebab Batavia merupakan kota terpenting di masa Pemerintahan Hindia Belanda.

Cukup menarik untuk disimak, adalah sebuah foto bertahun 1938 yang dikeluarkan rijkmuseum Belanda dengan narasi ‘Volksfeesten Baoe-Baoe geboorte 1938 Prinses Beatrix, anonymous, 1938’. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia berarti ‘Festival rakyat di Baoe-Baoe (Baubau) kelahiran Putri Beatrix tahun 1938’.

Telusur Butonmagz, foto ini memperlihatkan kemeriahan rakyat Kesultanan Buton di tahun 1938 di sebuah tempat mirip kawasan Baruga Keraton saat ini, ada yang menari seperti ‘tarian Mangaru’ lengkap dengan kostum-kostum khas Kesultanan Buton,. Tampak juga beberapa penari menggunakan bendera VOC, dan beberapa petinggi kesultanan juga tampak hadir memeriahkan acara ini.

Memang belum ada budayawan Buton yang menjelaskan makna dan cerita tentang festival rakyat di Baubau tahun 1938 itu, tetapi narasi-narasi dalam foto yang dikeluarkan rijkmuseum-Netherland memperlihatkan banyak hubungan dengan tradisi queen’s day tersebut. Bahkan beberapa keluarga Belanda juga menghadiri acara tersebut. Seperti narasi ‘Familie Vonk in Baoe-Baoe, Celebes, anonymous, 1938’ yang berarti ‘Keluarga Vonk (Spark) di Baoe-Baoe, Celebes, anonim, 1938’.

Ratu Beatrix (di tengah)
Siapa Ratu Beatrix? 
Beatrix (Beatrix Wilhelmina Armgard, lahir 31 Januari 1938, adalah seorang ratu dari Kerajaan Belanda sejak 1980 hingga 2013. Ia adalah putri pertama dari Ratu Juliana dari Belanda dan Pangeran Bernhard dari Lippe-Biesterfeld. Pada tahun 1966, ia menikah dengan Claus von Amsberg dan memiliki tiga anak: Pangeran Willem-Alexander (lahir 1967), Pangeran Friso (lahir 1968), dan Pangeran Constantijn (lahir 1969).

Ketika Ratu Juliana turun takhta pada tanggal 30 April 1980, Beatrix menggantikannya sebagai Ratu Belanda. Pada 6 Oktober 2002. Ia dikenal sebagai ratu yang energik dan cerdas, di kenal pula sebagai pengubah wajah Belanda di mata dunia. Ratu Beatrix turun tahta pada tanggal 30 April 2013 mendatang.
Rakyat Belanda sangat terkesan dengan kepemimpinan Ratu Beatrix, bahkan  Harian terbesar Belanda NRC, menilai  Ratu Beatrix sangat professional, serius dan disiplin. Beliau sangat menguasai apa yang dibicarakan serta menyukai detail dan rinci. Penampilannya juga selalu sempurna. Meskipun kepergian Pangeran Claus, suaminya, membawa kesedihan yang mendalam bagi Ratu Beatrix. Namun  ia mampu bertahan melewati saat-saat sulit untuk membantu Belanda mempertahankan reputasi bangsa itu sebagai salah satu bangsa yang paling toleran di dunia.

Selama 33 tahun, Beatrix menjadi Ratu Belanda. Hari Selasa, 30 April 2013, dia menanggalkan gelar ratu dan kembali menjadi putri. Selama masa bertakhta, dia merebut hati banyak rakyat Belanda dengan memberi monarki citra modern pekerja keras. Putra sulungnya, Willem-Alexander, yang menggantikannya menjadi raja, harus berjuang untuk mengikuti jejak ibunya.

Beatrix berada pada posisi yang dialami putranya sekarang tahun 1980. Saat itu dia menggantikan ibunya, Ratu Juliana, yang sangat dicintai rakyat. Pada usia 42 tahun, dia mendapat tugas itu dan Beatrix dengan cepat memperlihatkan cirinya. Berbeda dengan gaya memerintah ibunya yang rendah hati, Beatrix menolak untuk hanya melakukan tugas pengguntingan pita.

Dia mengubah cara penyebutan dari ”madam” menjadi ”yang mulia” dan mengubah salah satu istana kerajaan di Den Haag menjadi istana tempatnya bekerja. Di situ dia menerima kepala- kepala negara dengan sikap ramah tetapi formal dan bertemu tiap pekan dengan perdana-perdana menteri yang terus berganti untuk membicarakan urusan pemerintah. Itu membuatnya mendapat julukan ”chief executive officer Belanda”.

Ia juga menandatangani undang-undang dan memainkan peran penting dalam politik Belanda dengan menunjuk apa yang disebut formateu, yang melihat kemungkinan-kemungkinan untuk pemerintah koalisi setelah pemilu. Pemilu tahun lalu, saat PM Mark Rutte terpilih sebagai kepala pemerintahan untuk masa jabatan kedua, menandai kali pertama Beatrix tidak aktif dalam penunjukan formateur.

Tinggal di pengasingan
Sebagai anak pertama dari Ratu Juliana dan Pangeran Bernhardt, Beatrix Wilhelmina Armgard, Putri Oranje-Nassau, tinggal di pengasingan di Inggris dan Kanada bersama keluarganya selama Perang Dunia II ketika Nazi Jerman menduduki Belanda.

Setelah menyelesaikan studi ilmu hukum, dia menikah dengan diplomat Jerman Barat, Claus von Amsberg, pada Maret 1966—menimbulkan demonstrasi-demonstrasi menentang perkawinan calon ratu dengan orang yang pernah mengenakan seragam pemuda Hitler. Namun, pendekatan ratu baru yang rendah hati itu segera menarik hati rakyatnya.

”Bukan kekuasaan, keinginan pribadi, ataupun klaim atas kekuasaan turun-temurun, melainkan hanya kehendak untuk melayani masyarakat bisa memberi substansi pada seorang monarki modern,” katanya saat naik takhta.

Selalu berpakaian rapi dan praktis, dia dikenal dengan sebutan ”Trix”. Majalah AA Forbes tahun 2011 menyebut Beatrix berada di urutan ke-14 dari daftar bangsawan terkaya dunia, dengan nilai bersih diperkirakan 200 juta dollar AS.

Pada tahun-tahun terakhir masa dia bertakhta, Beatrix mengalami serangkaian kemalangan. Suaminya, Pangeran Claus, meninggal pada usia 76 tahun tahun 2002, disusul ibunya, dan kemudian ayahnya tahun 2004.

Kemalangan paling akhir terjadi tahun lalu ketika putra tengahnya, Pangeran Friso, terlanda salju longsor saat bermain ski di Austria dan menderita kerusakan otak parah. Friso masih hidup dalam keadaan nyaris koma. Kemalangan-kemalangan itu telah memperlunak citranya dan meningkatkan popularitasnya karena rakyat bersimpati. Spekulasi mengenai turun takhtanya ramai pada tahun-tahun terakhir, dan meningkat ketika pada tahun 2006 diumumkan rencana renovasi Puri Drankensteyn.

Dalam tahun ini dia memang akan pindah ke puri itu, tujuh tahun sejak spekulasi merebak. Turun takhtanya Beatrix membuat Belanda mempunyai ratu yang queen-consort. Maxima, istri Willem-Alexander, menjadi ratu istri raja. Perempuan kelahiran Argentina ini sangat populer di kalangan rakyat walau ayahnya pernah menjadi menteri pertanian saat junta militer. **

Posting Komentar

0 Komentar