kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Pecinan Baubau, Kawasan Tua yang Tergeser Modernitas


HUBUNGAN  Buton  dan  Tiongkok  sudah  terjalin  sejak  lama  bahkan  sebelum  Kerajaan  Buton  terbentuk.  Etnis  Tionghoa  diperkirakan  bermigrasi secara bertahap di Kota Baubau  (Zahari 1977a:  28).  Lanskap  pecinan  di  Kota  Baubau  terbentuk sekitar akhir abad ke-19 atau abad ke-20.

Bukti catatan historis tercatat pada perjanjian Asyikin Brugman pada 8 April 1906, disebutkan pada pasal  22  ayat  2,  “Keberadaan  orang-orang  Cina  yang  tinggal  di  Buton  telah menjadi  besar  karena  Guvermen  Belanda  yang  karena  itu  bila  mereka diminta bantuan perlu diberikan seperti juga  membantu   Guvermen   Belanda”  (Zahari  1977c:  94). 

Mereka  datang  untuk  memperebutkan  peluang  ekonomi  hingga  akhirnya  tinggal  permanen berdekatan dengan permukiman Belanda (Rabani 2010: 76-78). 


 
Di  Kota  Baubau  hanya  terdapat lanskap  pecinan, tidak ditemukan lanskap pekojan yang dihuni etnis  Arab   seper ti  daerah-daerah dengan  pengaruh  kolonial  lainnya  akibat   adanya   kebijakan   wijkenstelsel (Suprihatin  et  al .   2009 :  1-12 ; Suryaningrum  et  al.  2009:  65-78). 

Etnis Arab  dapat membaur  di  lanskap  Keraton  Buton  sehingga  tidak  membentuk permukiman  sendiri  sebagaimana  etnis Tionghoa.  Hal  ini  dipengaruhi  oleh adanya  ikatan  emosional  akibat  persamaan  agama  oleh komunitas  Arab  dan masyarakat Buton.

Petikan tulisan di atas, menjadi cuplikan cerita dalam karya ilmiah Ray March Syahadat dkk dalam jurnalnya yang berjudul “lanskap kolonial Kota baubau, sebuah pusaka peninggalan masa kolonial di Sulawesi Tenggara” tahun 2015.  Sebuah tulisan ilmiah yang berkisah tentang kawasan Pecinan di Kota Baubau.

Dapat ditepak dari peta lanskap tersebut, bila kawasan ini lokasinya di Jalan Kartini hingga Jalan Yos Sudarso  Kota Baubau masa kini, lebih khusus lagi kawasan-kawasan pertokoan. Namun ornamen Pecinan tak tampak lagi dalam konstruksi bangunan mereka, sebab tergerus dengan gaya bangunan modernitas dan kesan pecinannya seolah memudar, belum lagi kebijakan Pemkot Baubau di sekitar tahun 2008-2010, agar ornamen depan pertokoan ‘dipasangkan’ khas Buton.

Kendati begitu pertokoan Pecinan ini masih terasa da waktu-waktu tertentu, seperti saat peringatan ‘imlek’, dengan sejumlah ornamen-ornamen khas Cina lengkap dengan tulisan Gong Xi Fat Chai, yang bermakna salam sejahtera, plus lampion-lampion yang sangat khas menghiasi ruko-roko yang ada di Kota Baubau. Termasuk pula pementasan Barongsai oleh komunitas Cina Baubau
Suasana Pecinan juga terasa pula ketika masuk ke toko-toko dimaksud, sebab ornamen-ornamen dalam ruangan sangat khas Tionghoa. Namun jangan salah, sikap toleransi kepada masyarakat lokal begitu tinggi. Mereka juga telah merasa bahwa Baubau adalah negeri mereka sendiri. Apalagi memahami sejarah Kerajaan Buton masa lalu dipimpin seorang Ratu pertama bernama Wa Kaa Kaa. Belum lagi simbol-simbol kedaerahan di masyarakat Buton, seperti nenas, patung naga, seolah menjadi perekat emosional tersendiri bagi warga Baubau keturunan Tionghoa.

Berkait hal ini, pemerhati kebijakan publik Dr. La Ode Syaiful Islami dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau, beberapa kali menyuarakan agar kahazanah kebudayaan di Buton termasuk keturunan Tionghoa dihidupkan lagi.

“Idealnya kawasan Pecinan Baubau, sudah ada festival Pecinan dan sebagainya. Agar Kota Baubau tidak saja dikenal dengan kebudayaan dan keluhuran sejarah Butonnnya, tetapi keragaman di dalamnya. Baubau ini kota tua dalam sejarah dan peradaban,” ujar La Ode Syaiful Islami kepada Butonmagz, Selasa sore kemarin, 28 November 2018.

Ia juga menyoroti, pergeseran kawasan Pecinan Baubau yang tergeser oeleh peradaban modernitas. “Idealnya khas Pecinan itu tetap ada, apalagi mereka telah membaur dengan masyarakat lokal, kawin-mawin dan sebagainya, juga sudah ada yang jadi anggota legislatif,” imbuh Syaiful Islami yang juga dikenal sebagai penulis buku ‘collaborative governance’ oleh penerbit Deepublish-Jogyakarta ini.** (ref)

Posting Komentar

0 Komentar