kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Mengapa Loyalis Prabowo Tak Menyurut?


MEMANG, tak sedikit orang mencibir langkah politik Pak Prabowo yang dua kali kandas di perhelatan kepemimpinan bernegara, saat menjadi Cawapres mendampingi Megawati tahun 2009 dan saat menjadi Capres didampingi Hatta Rajasa tahun 2014. Itu fakta!, tetapi jangan salah, kegagalan itu tak menyurutkan banyak pihak untuk mendukung tokoh ini kembali menjadi Capres di tahun 2019. Itu juga fakta!

Anggapan ketidakrasionalan, kritisme ambisius, seolah menjadi pengiring langkah dan dukungan Prabowo. Ada yang sedikit rasional dengan usulan agar sebaiknya menjadi ‘king maker’ atau meminta untuk ‘mandeg pandito’. Itu pandangan bagi mereka yang hanya membaca Pak Prabowo melalui tayangan media, dan sajian informasi linimassa.

Hanya getaran rasa itu menjadi berbeda ketika langsung berada di sekitar Pak Prabowo atau di lingkar elite-elitenya. Heroisme, semangat, dan penonjolan-penonjolan kepribadian Pak Prabowo begitu mengikat rasa. Satu konklusi yang terekam dibenak saya ketika berada di area itu, para loyalis Prabowo mengikat diri dengan ideologi pemikiran yang begitu kuat, ideologi kejayaan.

Mereka percaya, Pak Prabowo bisa menguatkan bangsa dan negara ini di segala lini. Pikiran Prabowo ternilai sebagai panoptikon kebangsaan, dimana buah pikirannya mampu menjadi mercusuar pengawas kekuatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Performancenya pun begitu, Prabowo sosoknya bukan saja sebagai militer kuat, ia juga ekonom selayak ayahandanya Soemitro Djodjohadikusumo, pun sebagai juru taktik bernegara warisan pikiran kepemimpinan Pak Harto, mertuanya.

Lainnya, Prabowo ternilai sebagai aktor politik yang mampu mengkomunikasikan dirinya sebagai tokoh bangsa yang mampu mengikat elite hingga anak jalanan. Ia murah senyum dan kerap terbahak-bahak jika ada cerita yang menggelikan pemikirannya. Ini bukan sekadar teori panggung politik ala Erving Goffman, atau bangunan konstruktivisme berpikir politik ala Antony Giddens, bahkan hidupnya teramat jauh dari pencitraan politik ala liberalisme sekarang ini.

Arus dukungan kuat untuk Pak Prabowo bukan sekadar ingin mengalahkan dominasi Presiden Jokowi saat ini. Arus kuat itu untuk ke-Indonesia-an yang jaya di segala lini, jauh dari ancaman ekstrim kiri maupun kanan, disegani bangsa lain, pemimpinnya dihormati, dan punya diplomasi kuat dengan retorik yang membanggakan.

Saya menyebut semua itu sebagai madu kebangsaan yang menyerap ke dalam benak para pendukungnya. Itu hal yang perlu di tahu semua orang, agar kita tak terjebak dalam pikiran saling membenci antar pendukung calon presiden. Mungkin mereka yang tak menyenangi Pak Prabowo, mnganggap jika wacana pendek ini sebagi racun politik. Itu sah-sah saja. Tetapi alangkah baiknya, perbedaan ini disikapi sebagai irama dan musik politik lima tahunan, agar semua bisa bergembira menyambutnya.

Para pendukung Prabowo masih lantang bersuara, jika Indonesia akan jaya dalam kepemimpinannya. Pun jika takdir tak menghendakinya. Anak-anak ideologi Prabowo Subianto tak langsung menunduk dan menekuk muka kekalahan, sebab Prabowo selalu menanam optimisme kebangsaan, bahwa Prabowo boleh tiada, tetapi pikirannya selalu ada hingga kapanpun.

Itu yang menjadi alasan mengapa loyalis Prabowo tak pernah menyurut. Teringat kalimat bijak seorang Colombus sang penjelajah, “lajulah terus, terus dan terus. Dunia ini tidak ada jalan mundur, yang ada hanyalah jalan terus baik kita mau atau tidak. Tidak ada jalan lain”.**
 ----------
Ditulis : Hamzah Palalloi
Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Gardu Prabowo

Posting Komentar

0 Komentar