kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Ketam Kenari Terancam Punah, Orang Buton menyebutnya Kepiting Kelapa


Senin, 26 November 2018 kemarin, Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Baubau bekerjasama Tim ASVEC Bandara Betiambari - sukses menggagalkan pengeluaran 2 ekor Ketam Kenari di Bandar Udara Betoambari Baubau. Itu setelah petugas Avsec - Helni mendeteksi di mesin X Ray dan mencurigai benda aneh dalam tas bagasi milik seorang penumpang asal Siompu tujuan Makassar, selanjutnya melaporkan ke SKIPM selaku pihak terkait.

Ketam Kenari yang biasa juga disebut dengan Kepiting Kelapa ini dikenal sebagai makanan lezat dan banyak di komsumsi masyarakat Buton era tahun 1990-an. Namun setelah diketahui jika jenis arthropoda bernama Latin Birgus latro ini telah langka dan menjadi hewan yang dilindungi dari kepunahan, maka sudah jarang ditemukan di pasar-pasar wilayah Kota Baubau.

Meski begitu, masyarakat terkadang memesan dari Pulau Siompu dan Kadatua untuk sekadar di komsumsi, tetapi itu juga telah jarang terdengar di publik kekinian..

Untuk diketahui, ketam ini jenis fauna arthropoda darat terbesar di dunia dan merupakan satu-satunya spesies dari genus Birgus. Fauna ini berbeda dengan spesies kepiting atau udang, mereka melainkan memiliki kekerabatan dengan genus Coenobita atau umang-umang darat.

Ketam kenari juga sering dikenal sebagai kepiting kelapa atau kepiting pencuri (robber crab/palm thief), karena fauna ini memiliki keahlian memanjat pohon kelapa. Umumnya mereka memanjat pohon kelapa untuk mengambil buah kelapa yang merupakan sumber makanan dari spesies ini.

Satwa ini tersebar terutama di wilayah kepulauan Indo-Pasifik dan terbatas di kepulauan yang tidak berpenghuni. Di daerah tersebut hewan ini menempati pulau-pulau berbatu di kawasan lautan. Mereka juga hidup di daerah pantai yang menyatu dengan daratan kepulauan, namun umumnya tidak dijumpai di karang atol karena di daerah tersebut kebutuhan makanan tidak memadai.

Populasi ketam kenari pertama kali dikenal dari Kepulauan Kawio, Talaud, Sangihe, Togian, dan Banggai, juga beberapa kawasan di Kepulauan Buton. Tempat penyebaran yang paling barat di Indonesia adalah Kepulauan Togian. Berdasarkan informasi yang dikutip dari tulisan Jahidin (Dosen Pendidikan Mipa FKIP, Universitas Haluoleo), bahwa habitat yang paling disenangi oleh satwa ini adalah vegetasi pantai dan semak-belukar area supralitoral, menghuni gua atau lubang bebatuan dan mencari makan pada malam hari (nokturnal).

Pada malam hari dengan kisaran suhu 23–26° C, ketam kenari aktif selama 11 jam. Selanjutnya, mereka membutuhkan area dengan kelembapan tinggi dan temperatur hangat antara 23–29° C.

Ketam kenari terbesar dapat mencapai bobot 5 kg dengan panjang dada (jarak antara batas muka dan belakang alur dada) melebihi 70 mm. Kaki berkuku yang besar dapat mempunyai bentang 90 cm dan panjang dada sekitar 50 mm. Panjang tubuh ketam kenari dari kepala sampai ujung abdomen dapat mencapai 60 inci.

Hewan ini termasuk invertebrata yang lambat pertumbuhannya. Organ reproduksinya akan mengalami kematangan setelah berumur 4–8 tahun.

Ketam Kenari di Siompu
Keberadaan ketam kenari di alam sudah sangat mengkhawatirkan. Fauna ini sudah tergolong satwa langka dan tergolong rawan, namun masih diburu oleh banyak orang karena bernilai ekonomis. Seperti di Pulau Siompu yang terletak di bagian selatan Pulau Buton, merupakan salah satu pulau yang menjadi habitat ketam kenari.

Pengamatan yang dilakukan oleh Jahidin (2010) menggambarkan bahwa masyarakat lokal Pulau Siompu masih mengeksploitasi ketam kenari pada malam hari. Kebiasaan penangkapan seperti ini telah menjadi tradisi secara turun-temurun yang sudah berlangsung lama.

Secara hukum, fauna endemik telah dilindungi oleh PP No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan satwa. Namun, eksploitasi terhadap fauna sebagai sumber makanan protein hewani terus dilakukan oleh masyarakat. Apabila hal ini terus berlanjut maka akan berdampak pada laju penurunan populasi secara drastis. Berdasarkan status konservasi IUCN Redlist, populasi ketam kenari termasuk kedalam golongan kurang informasi (Data Deficient/DD). (ref/dari berbagai sumber)

Posting Komentar

0 Komentar