kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Kemana Si Kocak Raim Laode? Jadi Penyanyi?


Talenta komika asal Kabupaten Wakatobi – Raim Laode yang sempat menghebohkan jagad stand up komedi Indonesia dua tahun silam, tampaknya kini dingin-dingin saja. Pemuda 24 tahun bernama lengkap La Ode Raimudin ini teramat jarang muncul di tv-tv nasional. Kemana dia? Publik Kepulauan Buton dan Sultra pada umumnya seolah menanti pemuda keriting dan berkulit legam manis itu. Hehehe..

Ada kabar, jika komika yang gemar mencandai kesederhanaan ‘Wakatobi’ itu beralih profesi ke penyanyi. Ia dikabarkan tengah merilis single pertamanya tertajuk ‘Cemburu’. Memang, Raim selain kocak di kawan-kawannya dikenal pula hobi menulis lirik lagu, sebagai medium mengungkap keresahan hatinya.

Data dari laman kendariinformasi. com  di Oktober 2018 lalu menyebut Raim telah memposting lagu tersebut ke instagram pribadinya, yang membuat netizen mendorong Raim masuk ke dapur rekaman. Disebutkan, lagu  ‘Cemburu’ ini terinspirasi saat ia masih duduk dibangku SMA, saat itu ia menyukai seorang wanita yang kini telah menikah dengan pria lain. Aihh romantismenya….

Satu lagi, kabarnya lagu berjudul ‘Cemburu’ tersebut akan menjadi Soundtrack salah satu Film yang akan segera tayang. Video Klip lagu tersebut pun akan segera dirilis, “Video klip telah selesai dibuat, namun masih dalam proses Editing, untuk lagunya sudah bisa didownload di Youtube, Itunes, Spotify dan Joox”.

“Terima Kasih buat Teman Manajemen KamaDigital, Mager Project dan Teman-teman semua yang telah mendukung hingga lagu tersebut berhasil diproduksi” ujar Raim Laode.

Sempat didaulat Jadi Duta Pariwisata Wakatobi
Raim La Ode sewaktu menjadi semifinalis Stand Up Comedy 2 – Indosiar  membuat pemerintah daerahnya mendaulat menjadi duta pariwisata Wakatobi. Itu karena ia dan sudaranya yang juga komika Boy Laode, sukses menjadi idola baru dan kebanggan warga Wakatobi.

Tetapo Raim selalu tampil apa adanya, membawa kersesahan dalam komika-komikanya. Seperti saat ini open mic di Wakatobi beberapa waktu lalu.

"Saya dan keluargaku mungkin banyak orang Wakatobi tidak tahu-menahu khususnya kekurangannya. Keluarga kami dulu itu sangat terasa dan kemungkinan tidak ada yang melebihi kekurangan keluarga kami dari segi ekonomi. Untuk sarapan pagi saja, setiap pagi saya harus makan Kasoami, dan saat sarapan pakai Kasoami itulah saya harus persiapkan air di samping saya. Air itu untuk jaga-jaga jangan sampai Kasoami sangkut di leher sehingga bisa didorong dengan air,” ujar Raim La Ode, yang spontan diikuti tepukan dan teriakan histeris dari ratusan penonton.


Inspirasi Anak Bangsa, catatan Blogger Vica Octavia
“Malam ini, saya tidak menunduk. Saya menatap lampu-lampu studio Indosiar yang terang ini, karena saya yakin suatu saat pasti akan kembali kesini.  Uang 100 juta hanya nominal yang akan habis di kemudian hari. Tapi setelah ini masih banyak yang akan saya lakukan, so tetap temani Saya”

Namanya Raim Laode, saya jatuh cinta saat pertama menonton audisinya melalui Youtube untuk Talent Show Stand Up Comedy. Pemuda berusia 22 tahun membuat saya hobi bolak balik nonton rekamannya. Komedinya renyah, cerdas, khas Indonesia dan mengandung kritik sosial. Ternyata saya tidak sendiri, ia digemari banyak orang. Dan tiba-tiba saja saya tidak mau terlewatkan satu episode pun penampilannya.
Sampai akhirnya mata saya malam tadi berkaca-kaca. Seumur hidup yang bukan ABG alay lagi, baru kali ini saya begitu emosional akan hasil sebuah talent show. Raim Laode tereliminasi setelah diunggulkan oleh banyak pihak. Yah, harus diakui dua kali terakhir penampilannya memang bukan yang paling prima. Namun jika diukur rata-rata sejeblok-nya penampilan Raim Laode, masih tetap memiliki ambang bawah yang lebih baik dari beberapa kontestan lain.

Masalahnya, ada kontestan lain -yang lolos”menurut saya” jauh sekali kualitasnya dibawah Raim. Materi kontestan yang satu ini, garing, tanpa pesan, tanpa wawasan dan (maaf) keliatan cetek. Harus diakui, pada beberapa penampilan sebelumnya, dia memang bagus. Tapi makin kesini, keliatan makin membosankan, tidak ada “isi” dan sangat monoton.

Dann…ternyata “Patah Hati” karena Raim tereliminasi jauhhh lebih sakit dibandingkan ketika tahu Jokowi mengeliminasi Menteri idola saya, Jonan dan Anis Baswedan. Serius!! Hahaha..

Yah, komedi memang masalah selera. Tapi bagi saya; komedi yang bagus itu: komedi yang cerdas dan berwawasan, bukan cuma lucu cengar cengir dengan subyek yang absurd. Dan semua itu ada pada Raim Laode. Mungkin dia memang “orang kampung”, tapi keliatan sekali pola pikirnya tidak “kampungan”.  Sementara tetangga sebelah? Entahlah…
Saya yang jarang banget nonton TV, awalnya berharap program ini, tidak sekedar komedi tetapi ada inspirasi dan pesan untuk anak-anak muda agar kian berkreasi, makin kenal negerinya dan makin cinta bangsanya. Raim membawa pesan itu, kehadirannya membuat kita jadi makin yakin bahwa Indonesia ini kaya. Dia pede dengan ketimurannya. Dia bangga akan asalnya. Sesuatu yang hampir langka dengan anak muda yang kini makin kebarat-baratan. Beberapa orang teman saya, bahkan penasaran banget hingga merencanakan ke Wakatobi. Bahkan, ada teman saya yang baru tau bahwa Wakatobi itu terletak di Sulawesi Tenggara bukan di Papua. Hahaha..

Setelah eliminasi itu, sosial media pun ramai. Saya pikir hanya saya yang kecewa dengan hasilnya. Saya pikir saya ini penonton biasa, saya gak ngerti teknik tenik nasihat juri. Saya taunya cuma; lucu, terhibur dan terselip “pesan” di dalamnya. Twitter penuh dengan ungkapan kekecewaan, kesedihan bahkan bully-an terhadap juri. Juri memang pakar, tapi di komedi, menurut saya JURI SESUNGGUHNYA ADALAH PENONTON! Anggaplah kami ini orang awam, tidak paham teori penilaian stand up comedy. Tapi saya kira juri harusnya cukup cerdas untuk menambah bobot acara ini dengan memilih peserta yang pantas ke babak final. Ada idealisme juri yang ternyata digadaikan (mungkin) demi…entahlah demi apa…

Dan.. kompetisi adalah tetap kompetisi. Ada yang kalah, ada yang menang. Ada kompetisi yang sebenarnya, ada pula yang setting-an. Ada pula yang tak jauh berbeda dengan sinetron drama. Kompetisi pun bukan akhir justru awal dari dunia yang sebenarnya.

Baca juga : Arie Kriting, Kekhasan Indonesia Timur

Hanya sedikit saya sayangkan, kenapa anak-anak seperti Raim tidak diberi kesempatan lebih lama untuk lebih banyak menginspirasi melalui ajang ini. Sadarkah sudah begitu banyak porsi telah kita berikan kepada selebgram yang gaya hidupnya jauh dari tata krama bangsa kita. Sementara, ada Raim dan (mungkin) Raim lain dan Raim selanjutnya yang “terpaksa” turun panggung, karena penilaian yang entah dasarnya apa…

Finally, Tetap semangat Raim, ini cerita manis untuk awal yang lebih manis. Indonesia bangga punya anak muda seperti kamu. Jangan lelah memberi inspirasi bagi banyak anak negeri. Maju terus! Saya yakin kamu bahkan jauh jauh lebih baik dari para juara. ** (dari berbagai sumber)

Baca Juga : Wa Ode Heni Andraini, Talenta Baubau di Pentas The Voice Indonesia 2018, Klik videonya

Posting Komentar

0 Komentar