kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Kanakea, Dari Kekayaan Sejarah hingga Upaya Melepas Stigma Negatif


KANAKEA, nama dari salah satu kampung tua di Kota Baubau, posisinya sangat strategis karena berada di tepi sungai bernama Kali Baubau – sering pula disebut Kali Ambon. Sungai yang membelah kota bersejarah pusat peradaban Kesultanan Buton masa lalu ini, merupakan jalur pelayaran strategis di masa lalu.

Entah apa makna nama Kanakea dalam bahasa Wolio-Buton, tetapi beberapa pendapat tetua di sana menyebut Kanakea jika diartikan secara bebas berarti “sudah mengena, cocok’ dan lain sebagainya – kendati banyak versi pula tentang penamaannya.

Namun begitu, kampung yang menjadi salah satu kawasan ternama di Kelurahan Nganganaumala Kota Baubau saat ini, bukan kawasan yang serta merta hadir, tetapi menyimpan jejak sejarah ke-islaman Buton masa lalu. Sebut saja, ‘Uwe Kanakea’ yang berarti ‘Air Kanakea’ – dipercaya masayarakat setempat sebagai sumber air pertama yang digunakan Syek Abdul Wahid untuk berwudu ketika pertama kali menginjakkan kakinya di kawasan itu. Lokasinya sekitar 300 meter dari Jembatan Gantung Baubau.

Syekh Abdul Wahid adalah tokoh penyebar Islam pertama di Pulau Buton, bernama lengkap Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani. Namanya begitu melagenda karena ulama inilah Karena ulama inilah yang mengislamkan Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto yang bergelar Sultan Murhum. Sultan pertama di Buton.

Menurut beberapa riwayat Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani sebelum sampai di Buton pernah tinggal di Johor. Selanjutnya bersama isterinya pindah ke Adonara (Nusa Tenggara Timur). Kemudian dia sekeluarga hijrah ke Pulau Batu Atas pada tahun 933H/1526M yang termasuk dalam pemerintahan Buton.

Di Pulau Batu Atas, Buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani bertemu Imam Pasai yang kembali dari Maluku menuju Pasai (Aceh). Imam Pasai menganjurkan Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani pergi ke Pulau Buton untuk menyebarkan agama Islam. 

Kembali ke soal “uwe Kanakea”, - Sebagai bentuk penghormatan warga Kanakea terhadap ulama besar itu, warga di sana mendirikan masjid  juga bernama Masjid Syeikh Abdul Wahid. Juga terdapat  pendidikan usia  dini bernama ‘Raudatul Atfal (RA) Syeikh Abdul Wahid”.

Hal lain yang menjadi khazanah kekayaan budaya dan sejarah Kanakea, adalah keberadaan ‘situs Batu Galampa’. Situs ini tak banyak diketahui warga Baubau, sebab tidak selalu terlihat secara kasat mata. Maklum, situs ini terletak di dasar Kali Baubau, jaraknya sekitar 10 meter dari jembatan Gantung.

“Situs ini berupa batu besar hanya terlihat ketika air sungai Kali Baubau surut, tetapi ia juga banyak cerita dan sejarah di dalamnya, karenanya sangat dihomati keberadaannya oleh warga kanakea,” ujar Arief Budianto Gavoer, SH.MH, tokoh pemuda setempat sekaligus pimpinan OKP Pekalape Baubau yang berpusat di Kanakea kepada ButonMagz, Selasa (6/11). 


Kanakea zaman modern

Kanakea memang kampung tua dalam peradaban Buton masa silam yang dulu banyak tumbuh bambu, pisang, dan kelapa. Tetapi kini menjadi salah satu kawasan padat di Baubau. Kendati hanya satu bagian lingkungan dari Keluarahan Ngaganaumala, tetapi penduduk khusus Kanakea lebih dari 1000 kepala keluarga.

Diperoleh data sekitar bulan April 2018 lalu, dari Almarhum Drs. H. La Afie-mantan Sekretaris Kota Adminitratif Bau-Bau yang pertama menyebutkan Kanakea mulai terbangun sebagai kawasan pemukiman padat sejak tahun 1984, di mana penduduknya banyak dari migrasi dari kawasan sekitarnya yakni kampung Wajo dan Lamangga, dua kampung yang kini berstatus sebagai kelurahan di Kecamatan Betoambari.
Kini, Kanakea hidup dalam multikultural penduduk, ada yang berasal dari pulau-pulau di sekitar pulau Buton, dari kawasan Gulamastra (Gu, Lakudo, Mawasangka dan Talaga Raya), juga dari wilayah Pulau Muna lainnya. Mereka banyak hidup sebagai pedagang ekonomi mikro perkotaan.  Itu sebab warga Kanakea dikenal juga sebagai penggerak ekonomi perkotaan.
Namun seiring perjalanannya, Kanakea sempat di cap sebagai kawasan ‘texas’ di Kota Baubau – ungkapan untuk menyebut sebuah kawasan dihuni kelompok-kelompok marginal preman. Bahkan beberapa kejadian sempat meredam nama Kanakea sebagai kampung berstigma negatif.

Bagi pemuda di sana, muncul kesadaran tinggi. Mereka tak ingin di cap stigma negatif. Dimotori Arief Budianto Gavoer, Minggu 4 November 2018 kemarin mereka mendirikan organisai kepemudaan bernama Pemuda Kanakea Lentera Pembaharu Baubau – disingkat Pekalape Baubau – atau juga bermakna memperbaiki Baubau.
 
Organisasi ini beranggotakan 110 orang pengurus, bergerak di bidang sosial dan perekonomian. “Intinya pemberdayaan masayarakat. Pemudayanya kreatif dengan kegiatan-kegiatan ekonomi. Sementara programnya kami susun,” tandas Arif Budianto.

Ini juga direspon pihak Pemerintah Kota baubau, melalui Wakil Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse menggagas lahirnya Kanakea sebagai kawasan segi tiga  ekonomi kreatif. “Di Kanakea ini banyak pelaku ekonomi perkotaan, pemuda Kanakea bisa menggagas lahirnya Kawasan Segi Tiga Ekraf. Insha Allah ke depan Kanakea akan lebih produktif, dapat meningkatkan percepatan kesejahteraan warga Kanakea itu sendiri dan Kota Baubau pada umumnya,” ujar Monianse saat mengukuhkan kepengurusan Organisasi Kepemudaan “Pekalape Baubau”. Ujar La Ode Ahmad Monianse. Semoga Kanakea lebih baik lagi!** (ref)

Posting Komentar

0 Komentar