kop

Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Dugong dan Legenda Duyung yang Pengasih dari Buton


Duyung dikenal sebagai hewan mamalia laut herbivor yang penyebarannya di wilayah Indo-pasifik. Dugong (Dugong dugon), merupakan satu-satunya spesies yang masih eksis di bawah famili Dugongidae dan sering digambarkan sebagai jelmaan putri duyung pada legenda dan cerita rakyat.

Dugong memiliki kemiripan dengan spesies manatee. Dugong digambarkan berbentuk seperti ikan yang tambun dengan bobot sekitar 300-500 kg dan panjang mencapai 3 meter. Memiliki ekor yang pipih, horizontal dan bentuknya bercabang seperti ekor paus dan lumba-lumba, tanpa mempunyai sirip punggung. Sama seperti kelompok mamalia laut lainnya, dugong juga berkomunikasi dengan menggunakan suara.

Terdapat puting susu pada ketiak dikedua sirip yang berfungsi untuk menyusui anaknya. Dugong juga dapat menyelam selama 3 – 5 menit untuk kemudian naik lagi ke permukaan untuk bernapas. Mata dugong memiliki ukuran kecil dan apabila diangkat keluar dari air akan mengeluarkan cairan yang dikenal sebagai “air mata duyung”.

Dugong termasuk sangat pemilih dalam urusan makan. Tidak seperti hewan herbivor lainnya yang lebih menyukai tumbuhan yang berserat atau berselulose, dugong lebih memilih jenis tumbuhan lamun yang lembut dan mudah dicerna tetapi mempunyai nilai gizi tinggi.

Bila dugong mencari makan didasar laut, sirip tebalnya dapat menopang tubuhnya untuk merayap ketika mencari makan. Adapun perilaku makan dugong secara merangkak dan mencabut seluruh tumbuhan lamun sampai ke akar- akarnya sehingga meninggalkan jejak atau jalur memanjang di dasar laut disebut feeding trail.
duyung

Berdasarkan hasil Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun yang diselenggerakan oleh KKP, LIPI, IPB dan WWF Indonesia pada tanggal 20-21 April 2016 lalu di Bogor, memperlihatkan bahwa keberadaan dugong di Indonesia mengalamai penurunan dan terancam punah.

Berdasarkan kasus yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, menurunnya populasi dugong disebabkan ancaman dan pemanfaatan ilegal seperti praktik perburuan, konsumsi daging, pemanfaatan tulang, kulit, taring dan air mata yang seringkali dilakukan secara turun-temurun. Bahkan air mata dugong dipercaya sebagai bahan obat-obatan dan memiliki unsur magis.
Dugong masuk dalam daftar merah (Red List) IUCN (International Union for The Conservation of Nature) sebagai hewan dilindungi dan terdaftar pada Lampiran I CITES (Convention on the International Trade in Endangered Species of Fauna and Flora) serta dilindungi oleh negara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Disisi lain, terdapat sebuah keunikan dan tradisi dalam masyarakat di Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara yang dikenal sebagai tula-tulana “Wa Ndiu-ndiu”. Berdasarkan pemaparan makalah yang disampaikan oleh Nuraini pada simposium tersebut, Tula-tulana merupakan tradisi lisan dari orang-orang zaman dulu yang di dalamnya berisi nasihat berbentuk legenda ataupun kisah nyata yang kadang dibacakan sambil dilagukan. Menurutnya, dari sekian banyak tula-tulana, yang masih eksis hingga saat ini berjudul “Wa Ndiu-ndiu” yang dalam bahasa setempat bermakna puteri duyung (dugong).

Baca Juga : Kanakea, sejarah dan upaya melepas stigma negatif

Konon dalam legenda jelmaan putri duyung ini, awalnya merupakan sesosok perempuan (ibu) yang pengasih. Suatu hari ia pergi ke laut untuk mencari ikan yang akan diberikan kepada kedua anaknya, namun dalam pencariannya ia tidak kembali lagi ke daratan dan berubah menjadi seekor dugong. Oleh karena itu, masyarakat Buton mempercayai apabila menyakiti dugong sama saja dengan menyakiti seorang ibu.

Seperti yang disampaikan oleh Nuraini, hingga sampai saat ini populasi dugong di Kepulauan Buton dapat ditemukan dengan mudah dan sangat minim laporan bahwa hewan pendiam ini terganggu oleh ulah manusia di Kepulauan Buton. Penghormatan masyarakat Buton terhadap hewan mamalia ini dapat menjadi salah satu contoh dari upaya penyadartahuan dalam melindungi populasi dugong dan habitatnya yang berlandaskan kearifan lokal.** (dari berbagai sumber)

Baca Juga : Mr. Asaat, Presiden yang tak dihitung negara

Posting Komentar

0 Komentar


SPECIAL EVENT DAN PEMBERITAAN HUT KOTA BAUBAU TAHUN 2019