Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Sultan Butuni, Pemimpin Orang Buton


Selama ini, Pulau Buton lebih dikenal sebagai pulau penghasil aspal. Padahal di  luar hasil bumi itu, pulau ini memiliki “harta karun” nan dasyat. Yakni, jejak  arkeologis berupa benteng-benteng yang nyaris mengepung seluruh pulau dan sejarah panjang Kesultanan Butuni.
-------------------------------------------------------------
Syaiful Halim -  Jurnalis Senior, Sutradara - Jakarta 
-------------------------------------------------------------
PULAU   Buton  adalah  pulau   benteng.  Karena,   bangunan  yang   menjadi  basis pertahanan militer tersebut tersebar di banyak tempat. Sehingga, pulau tersebut kerap disebut sebagai “Negeri Seribu Benteng” atau “castle in town”. Karena, kota-kota penting di pulau itu hampir dikelilingi benteng-benteng – mirip konsep tata ruang negeri Jerman yang dikelilingi benteng-benteng. Namun, dunia pariwisata kerap “memaksa” wisatawan yang berkunjung ke daerah itu hanya mengenal Benteng Keraton Wolio.

Ini bisa dimaklumi, karena benteng itu merupakan simbol kejayaan Kesultanan Butuni, sekaligus sebagai satu-satunya bukti sejarah yang masih terawat.    Benteng Keraton Wolio dibangun sejak masa pemerintahan Sultan Buton ke-3 La   Sangaji  pada  abad   ke-15.  Dan,  bangunan  itu   benar-benar  rampung  pada   masa pemerintahan Sultan Buton ke-6 La Buke pada 1634. Keunikan bangunannya; bila dilihat dari atas, dengan bangunan sebelas selatan sebagai kepalanya, maka akan memnentuk  huruf  “dal” –  huruf  ke delapan  pada  alfabet bahasa  Arab  atau huruf  terakhir  nama Baginda Rasulallah Muhammad saw.

Pintu benteng (lawa) berjumlah 12, yang bermakna jumlah lubang pada tubuh manusia. Atau, bisa juga bermakna 12 lokasi yang dipilih oleh Tuhan, untuk mendapatkan tanah pembentuk Nabi Adam As. Bastion (kubu pengawas) berjumlah 16. Tapi, sumber lain menyebutkan 17 – jumlah rakaat dalam shalat selama sehari. Angka-angka itu tidak muncul secara kebetulan. Tapi, perancang pembangunan benteng memang menyiapkannya secara khusus, untuk memberikan  gambaran adanya nilai   tasawuf   dalam   pemerintahan   Kesultanan   Butuni.   Sekaligus   monumen   bagi rakyatnya,  untuk terus memahami dan  mengamalkan  akhlak  mulia yangbersandarkan ajaran Ilmu Tasawuf tersebut.

Dulu, Benteng  Keraton  Wolio menjadi  pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, sosial, dan syiar Islam. Selain itu, bagian dalam benteng juga menjadi lokasi pemukiman. Hal itu memungkinkan, karena benteng memiliki lahan yang luas, yakni sekitar 400.000 m² dan dikelilingi benteng sepanjang 2740 m. Tinggi temboknya 2-8 m dan lebar 1-2 m.
Syaiful Halim
Pulau Buton di masa silam adalah Kerajaan Hindu dengan I Wa Kaa Kaa sebagai raja pertamanya. Saat itu, nama Pulau Buton  telah diperhitungkan dan tercatat dalam sejarah pelayaran nusantara. Terbukti, Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca menuliskan   keberadaan  Pulau   Buton.  Kerajaan   Buton  berubah   menjadi  Kesultanan Butuni, setelah Raja Buton ke-6 Timbang Timbangan atau Lakilaponto atau Halu Oleo menjadi muslim  dan berganti  nama   menjadi Sultan  Murhum  Kaimuddin Khalifatul.

Pengisalaman  ini merupakan buah kehadiran Ahli  Ilmu  Tasawuf  asal Negeri Gujarat Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al-Fathani di Pulau Buton. Wajah Islam di lingkungan kesultanan makin berbinar, setelah sang syekh pun menanamkan ajaran tasawuf pada sultan dan keluarganya. Sehingga, pemahaman mereka akan Islam benar-benar makin kokoh. Buah terindah dari bibit  ajaran  soal penyucian akhlak oleh Syekh Abdul Wahid dan Sultan Murhum Kaimuddin adalah diterbitkannya UUD Martabat Tujuh sebagai undang-undang tertinggi di negeri itu. Perancang UUD tersebut adalah Sultan Butuni ke-6 Dayanu Ikhsanuddin.

Kekayaan   ajaran   tasawuf   di   setiap   sendi   kehidupan   Kesultanan   Butuni   juga diperlihatkan   manuskrip-manuskrip   kuno,   yang   disimpan   seorang   warga   Benteng Keraton Mulia, Muzaji Mulki. Seluruh manuskrip bertuliskan huruf Arab namun isinya menggunakan   Bahasa   Arab,   Wolio,   dan   Melayu.   Bahasa   Melayu   muncul   dalam manuskrip,  karena Syekh Abdul Wahid lama  bermukim  di  Johor, Malaysia. Bahkan, penyebar Islam atau guru-guru yang berdatangan ke pulau tersebut setelah Syekh Abdul Wahid umumnya berasal dari Negeri Jiran.

Namun, yang harus dicatat dengan tinta emas adalah kehadiran UUD Martabat Tujuh.   Karena, hal itu   sama artinya, Kesultanan Butuni telah menempatkan ajaran tasawuf sebagai pijakan utama. Sehingga, mereka bukan lagi berada di wilayah syariat – seperti yang saat ini ramai diterapkan di berbagai daerah di tanah air. Namun, mereka justru telah berada di wilayah tarekat! Dengan UUD Martabat Tujuh, Kesultanan Butuni membangun  tata  kehidupan  yang  demokratis dan bertanggungjawab. Bahkan, jabatan sultan pun bukan dicapai karena trah semata. Tapi, ia merupakan orang yang dipilih oleh Anggota  Dewan  (patalimbona)  karena  kemampuan dan  akhlaknya. 

Karena  persoalan akhlak, seorang sultan bisa dilengserkan bila kedapatan melakukan pelanggaran.
Selain  itu,   tata  cara   pengaturan  pemerintahan,  pengambilan   keputusan,  dan hubungan sosial antarwarga atau dengan negeri lain, semuanya atas dasar akhlak mulia.

Bukan untuk menimbulkan masalah. Tapi, memang ditujukan untuk kesejahteraan dan keselamatan seluruh rakyat. Sehingga, sang sultan bertanggungjawab penuh atas situasi lahir-batin  seluruhya warganya.  Ia  juga  sadar  bahwa kelak  Allah  swt  akan  meminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Pimpinan atau pejabat apa pun di masa itu biasanya akan melakukan sujud syukur ketika tugasnya berakhir. Jadi, bukan ketika ia terpilih atau diangkat. Hal ini merupakan cermin,   tugas  atau  jabatan   adalah  amanah,   hingga  harus   dilakukan  dengan   penuh tanggungjawab.   Setelah   selesai   dan   dianggap   berhasil,   maka   merasa   perlu   untuk berterima kasih kepadaNya. Karena, sesungguhnya ia hanyalah kepanjangan dari tangan-tangan Yang Maharaja.

Cerita tentang tasawuf itu sendiri hingga kini masih menjadi kebanggaan warga Pulau Buton. Tapi, jangan tanya soal kelompok tarekat di tempat itu. Karena, mereka umumnya masih tertutup dan menganggapnya sebagai hal yang rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang berhak tahu dan bisa menjadi bagian dari komunitasnya.

Kenyataan ini bertolak belakang dengan situasi di Jawa, Sulawesi Selatan, atau Sulawesi Barat, yang masih  memberikan  “ruang”  bagi  orang  awam,  untuk mengetahui  keberadaan  sebuah
kelompok tarekat. 

Inspirasi yang berhembus dari Pulau Buton adalah betapa indahnya taman surga yang   dikelola   dengan   nuansa   Islam   yang   sebenar-benarnya   Islam.   Islam   yang menghadirkan   kedamaian  dan   ketentraman  bagi   siapa  pun.   Utamanya,  Islam   yang dikembangkan itu berpijak pada martabat syariat, tarekat, hakekat, dan ma’rifat. Karena, Kesultanan Butuni senantiasa dipimpin oleh Sultan yang memahami dan mengamalkan Ilmu Tasawuf secara mendalam. Sehingga, kebutuhan sang Sultan bukan lagi untuk diri pribadi. Tapi, lebih kepada Diri Pribadi. Semuanya hanya untuk Yang Maharaja. Maka, kemuliaan pulalah yang diraih oleh negeri dan rakyatnya. Subhanallah.

Bila diamati lebih dalam, para Sultan Butuni jelas merupakan gambaran pribadi-pribadi yang senantiasa berserah diri kepada yang Mahasuci. Dengan demikian, mereka pun telah melewati tahapan-tahapan perjalanan batiniah yang panjang. Dengan pribadi yang  senantiasa  berserah  diri, maka jelas mereka  pun  senantian  bersabar,  bersyukur,  bertawakal, dan berzuhud. Serta, istiqomah menjaga bangunan hatinya. Maka sangatlah wajar, bila produk-produk yang dihasilkan oleh para sultan adalah senantiasa menebarkan kemuliaan bagi warga Pulau Buton. Bahkan, mereka pun benar-benar bertanggungjawab atas apa-apa yang diterima oleh rakyatnya secara lahiriah atau batiniah. Sehingga, Pulau Buton laksana taman surga bagi para penghuninya. Serta, membuat sultan dan rakyatnya terus saja istiqomah berserah diri kepada Yang Maharaja.

Tidak mudah  mendapati  pemimpin   laksana Sultan  Butuni.  Mereka   lahir dan berkembang di taman surga, yang memungkinkan individu-individunya memiliki pribadi-pribadi yang senantiasa  bersabar, bersyukur, bertawakal,  berzuhud, dan berserah  diri. Tapi sebagai insan yang bertekad memuliakan diri ini dan sekeliling kita, maka sudah  sepantasnya, perangkat  pribadi-pribadi seperti sang Sultan Butuni itu melekat juga  di bangunan   hati   kita.  Sehingga,  kalaupun   kita  belum  memiliki   kesempatan  menjadi pemimpin, tapi kita telah bersiap-siap dengan bekal  yang memadai.

Kita bisa terlihat sebagai pemimpin, meskipun saat itu posisi kita bukan sebagai pemimpin. Itulah pribadi-pribadi yang kharismatik dan berwibawa. Dengan kenyataan itu, paling tidak kita bisa lebih siap berhadapan dengan siapa pun. Tanpa merasa kecil, rendah, atau tidak berguna.

Kesultanan Butuni memberikan banyak  pelajaran bagi kita.  Pertama, soal pola kepemimpinan dalam kesultanan yang memiliki tradisi Islam begitu kokoh. Dan kedua, tentu saja, menyangkut sosok pemimpin negeri yang amanah.

Berabad-abad yang lalu, kalangan  gusti  di  Kesultanan  Butuni telah membenamkan diri dalam zona kesuciaan dengan penuh keikhlasan dan keridhaan. Sebenarnya, saat itu mereka tengah menikmati  banyak kemuliaan laksana Nabi Allah Sulaiman as. Namun, ketika pesan kebangkitan
atau pencerahan diri tiba, mereka pun menyambutnya dengan gegap-gempita. 

Mereka bukan   hanya menikmati   kenyamanan Islam  sebagai kendaraan  untuk menapaki jalan  lurus.  Tapi,  mereka justru  makin  melarutkan diri  dengan  kedalaman ajaran Islam itu sendiri, untuk menjangkau surga yang sebenar-benarnya. Surga di dunia dan akhirat.  Amati kembali  bagaimana   pribadi-pribadi yang  diperlihatkan oleh  para Sultan Butuni. Perhatikan juga bagaimana ia dilahirkan dan ditempa oleh sekelilingnya.

Para Sultan Butuni adalah produk masyarakat adat yang terkondisikan untuk senantiasa bersyukur, bertawakal, berzuhud, dan berserah diri, kepada Yang Maharaja. Sehingga, sangatlah  wajar istiqomah batiniah  secara  massal itu  membentuk  pribadi-pribadi nan mempersona. Yakni, para pemimpin yang bersiaga mengemban amanah, mencurahkan kemuliaan, dan menghindangkan surga bagi rakyatnya.

Kisah   para  Sultan   Butuni  tidak   ubahnya   kisah  bunga   hias   nan indah,   tapi membenamkan diri di antara rerumputan liar. Padahal, ia berada di vas bunga besar dan indah dan diletakkan di rumah kaca. Tapi, ia ikhlas menghantarkan kemuliaan derajatnya untuk menyatu dengan tanaman lain. Bahkan, rerumputan. Dan, dengan tangan mulianya itulah, ia tebarkan kemuliaan bagi tanaman lain. Sehingga mereka pun sama-sama berada di taman luas nan indah.

Para Sultan Butuni merupakan bunga inspirasi pemimpin negeri yang senantiasa berserah diri  kepada  Yang  Maharaja.  Karena, ia   mengemban  amanah itu   kemuliaan dirinya  dan juga  rakyatnya.  Serta  menjadikan Kesultanan  Butuni  sebagai  surga bagi warga Pulau Pulau Buton. Dan, yakinilah bahwa pada hakekatnya setiap dari kita pun mengemban amanah laksana Sultan Butuni. Namun, adakah kesabaran untuk menantikan masa itu, serta kesiapan untuk menebarkan kemuliaan untuk sekeliling kita? Masa itu pastinya akan datang. Entah di ruang yang mana.

REFERENSI
  1. Baran,  Stanley  J.  and Davis, Dennis K.  Davis.  2009.  Mass  Communication  Theory: Foundations, Ferment, and Future. Bonton: Wadsworth Cangange Learning.
  2. Barker, Chris. 2011. Cultural Studies: Teori & Praktik. Bantul: Kreasi Wacana.Boyd, Andrew. 1988. Broadcast Journalism: Techniques of Radio and Television News. London: Focal Press.
  3. Budianto, Heri (ed). 2011.  Media  dan  Komunikasi  Politik.  Jakarta:  Puskombis UMB Jakarta dan Aspikom.
  4. Burton,   Graeme.   2007.  Membincangkan  Televisi:  Sebuah   Pengantar  Kepada   Studi Televisi. Bandung: Jalasutra.
  5. Cavallaro, Dani. 2004.  Critical  and Cultural Theory: Teori Kritis dan Teori Budaya. Yogyakarta: Penerbit Niagara.
  6. Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra.
  7. __________. 2010.  Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
  8. Fiske, John.  2010.  Cultural   and  Communication  Studies: Sebuah  Pengantar Paling  Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
  9. Halim, Syaiful. 2009. Gado-gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-ecek. Depok: Gramata Publishing.
  10. __________.   2010.  Memotret   Khatulistiwa:   Panduan   Praktis  Produksi  Dokumenter Televisi. Depok: Gramata Publishing.
  11. Hamad, Ibnu. 2010. Komunikasi sebagai Wacana. Jakarta: La Tofi Enterprise.
  12. Hardiman,  F.  Budi.  2009.  Kritik  Ideologi:  Menyingkap  Pertarutan  Pengetahuan  dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. Jakarta: Penerbit Kanisius. Haryatmoko, 2007.  Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi.
  13. Yogyakarata: Penerbit Kanisius.
  14. Ibrahim, Idi Subandi. 2011. Kritik Budaya Komunikasi; Budaya, Media dan Gaya Hidup dalam Proses Demokratisasi di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.
  15. Kitley, Philip. 2000. Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca. Jakarta: Lembaga Studi Pers Pembangunan dan Institut Studi Arus Informasi.
  16. Marpaung,   Parlindungan.   2007.  Setengah   Isi   Setengah   Kosong.   Bandung:   MQS Publishing
  17. McQuail, Dennis. 1987.  Teori Komunikasi  Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  18. Piliang,   Yasraf   Amir.   2010.  Post-Realitas:  Realitas   Kebudayaan  dalam  Era   Post-Metafisika. Yogyakarta: Jalasutra.
  19. Rakhmat, Jalaluddin. 2005, Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  20. Storey, John. 2010. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.
  21. Sutrisno,  Mudji dan Putranto, Hendar  (ed).  2005.  Teori-teori  Kebudayaan.  Jakarta: Penerbit Kanisius.