kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Nilai-nilai Po-5 Jadi Topik Bahasan Serasehan Budaya HUT Baubau

Po Ma-masiaka (saling menyanyangi), Po Pia-piara (saling memelihara), Po mae-maeaka (saling menghargai), Po Angka-angkataka (saling mengangkat harkat) dan Po  Binci-binciki Kuli (toleransi) atau disingkat Po-5 dalam dialektika berpikir Dr. H. AS, Tamrin, MH adalah nilai-nilai budaya yang sarat makna dalam kehidupan masyaraat Buton, menjadi penting untuk diiplementasikan dalam kehidupan kekinian di tengah dinamika masyarakat modern.

Hal itu menjadi tema sentral serasehan budaya dalam rangka Hari Jadi Baubau ke-477 tahun dan HUT ke-17 Kota Baubau sebagai daerah otonom yang digelar di Aula Palagimata Baubau Minggu, pagi, 14 Oktober 2018. Menghadirkan dua pembicara utama yakni Wali Kota AS. Tamrin dan antrolog Unhas asal Kota Baubau, Dr. Tasrifin Tahara. Dua pembicara lainnya Wakil Wali Kota – La Ode Ahmad Monianse dan Ketua DPRD Baubau Kamil Adi Karim, SP.

Drilis Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau, H. Idrus Taufiq Saidi, S.Kom., M.Si, melaporkan jika kegiatan ini merupakan rutintas tahunan selama kepemimpinan Wali Kota AS.Tamrin, yanng dimaknai sebagai ‘ingatan’ jika leluhur Buton banyak mewariskan nilai-nilai budaya yang sarat makna dan tak lekang oleh waktu.

Di serasehan yang dipandu La Ode Aswad, S.Sos., M.So - Asisten Pemerintahan dan Kesra Kota Baubau berjalan sangat dinamis. Pembicara AS.Tamrin dalam posisinya sebagai kepala daerah, sangat berharap nilai-nilai budaya sarat makna itu menjadi cara berpikir dan bertindak semua orang, agar kedamaian, keselarasan, dan kesimbangan hidup selalu hadir dan membawa harmoni.

Wali Kota AS. Tamrin  memberi penegasan jika Po-5 ini adalah serapan nilai-nilai sara pataaguna dan pobinci-binciki kuli dalam masyarakat Buton. Juga amat bersesuaian dengan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup dan falsafah bangsa Indonesia secara universal.

Sepertinya ini yang menjadi pembeda karakter hidup AS. Tamrin dengan sejumlah elite lainnya. Cara berpikirnya benar-benar terispirasi dari budaya kebutonan, yang santun, tulus, apa adanya, mengutamakan pengahargaan, cinta kasih dan tata krama yang kuat. Po-5 seolah menjadi dialektika nilai budaya yang menjadi paton hidup semua orang, tak terkecuali dirinya.

Ini juga jadi fokus materi antropolog Dr. Tasrifin Tahara yang mengangkat tema penerapan Po-5 dalm jiwa masyarakat Kota Baubau baik di dalam maupun ketika berada di luar wilayahya. Tasrifin menilai publik tak perlu terjebak dengan peristilahan, tetapi fokus pada nilai nilai Kebutonan yang termaktub dalam Po-5, yang kemudian menjadi identitas keperibadian orang Buton di mana saja.

“jika itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, harkat dan martabat orang Buton akan selalu terjaga di manapun ia berada, sebab filosofi yang menjadi loal genius kapung halamnnya itu selalu hadir dalam dirinya,” papar Tasrifin.

Demikian halnya dengan Ketua DPRD, Kamil Adi Karim yang memaparkan intisari Po-5 berada dalam tematik Pobinci-bincikuli. Sebab kandungannya meliputi seluruh aspek 4 nilai lainnya. Mantan pejabat di Pemkab Muna ini mengigatkan semua pihak agar bisa berpatron dengan kekuatan nilai yang sarat makna itu. Sementara Wakil Wali Kota La Ode Ahmad Monianse, memberi penegasan jika makan dalam Po-5 menjadi hal yang sejatinya diiplementasikan dan di wariskan kepada generasi menadatang.

Monianse menyorot, bahwa kemajuan teknologi dengan kemudahannnya kerap mengabaikan aspek dan nilai-nilai kemanusian. “karenanya nilai Po-5 ini sejatinya terwariskan kepada generasi enadatang sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kita ingin generasi muda itu tidak sekedar unggul dalam kemampuan, tetapi juga unggul dalam keperibadian,” timpalnya.

Serasehan ini berlangsung begitu hangat dan penuh kesahajaan. Sejumlah pejabat Pemkot Baubau juga banyak melakukan interaksi dengan serasehan ini. Seolah menjadi lonceng pengingat bahwa budaya bukan hanya dalam tataran wacana belaka tetapi juga menjadi acuan implementasi kehidupan sehari-hari.**