kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Nasib Balaba, Seni Pencak Khas Buton Sepeninggal ‘Haji Halaka”


BALABA masih melekat kuat diingatan orang Buton sebagai sebuah seni pencak khas lokal genius daerah ini. Seni beladiri ini merupakan akulturasi budaya masyarakat Melayu Nusantara  yang berbaur dengan ritual kebutonan.

“Kami di Buton menyebutnya Balaba. Ini pengejawantahan yang mengandung nilai filosofis kedirian dan humanisme orang Buton. Balaba itu pelengkap diri orang Buton, ia selalu bersemanyam dalam jiwa kami,” ujar Dr. La Ode Abdul Munafi, antropolog Universitas Dayanu Ikhsanuddin Baubau kepada ButonMagz Selasa sore ini (23/10).

Seni Pencak Balaba khususnya di negeri Wolio-Kota Baubau pernah mencapai keemasannya saat tokoh buton, yang juga mantan Wakil Wali Kota Baubau - H.LM. Halaka Manarfa masih hidup. Pria merakyat yang akrab disapa ‘Pak Haji’ itu begitu mencintai seni bela diri ini. sampai-sampai ia didapuk menjadi Ketua Pengcab IPSI Kota Baubau, dan bahkan IPSI Sulawesi Tenggara dengan gelar ‘Pendekar Balaba’. Namun “Pak Haji” wafat di Jakara pada hari Jumat 14 Agustus 2009 silam.

“Saat Pak Haji (Halaka) masih hidup hampir semua kelurahan di kota ini ada kelompok seni Balaba-nya, dan sepertinya sekarang Balaba ini nyaris tak lagi saya temukan. Pun jika ada biasanya dalam acara-acara tertentu sebagai seni pementasan belaka,” tandas Dr. La Ode Abdul Munafi.

Sebagai seorang pemerhati budaya, ia berharap KONI di semua daerah Kepulauan Buton bisa menghidupkan kembali seni Balaba ini. “Jangan sampai di even-even Pencak Silat (kita) tak lagi mampu berbicara, sementara era 1980-an sampai awal 2000-an, Buton selalu unggul,” imbuhnya.
Balaba dalam tafsir kesejarahan La Ode Munafi, adalah seni beladiri yang dipakai militer-militer Kesultanan Buton. Mulai terlembagakan sebagai seni beladiri kesultanan pada masa pemerintahan Sultan Buton ke 31- Sri Sultan Muhammad Salihi (1871-1886).
Di rentang waktu tahun 1870-an inilah kekuasaan Belanda di Nusantara begitu menguat. Belanda melahirkan Undang-undang Agraria, Agrarische Wet, menggalakkan privatisasi pertanian, dan mulai membatalkan berbagai praktik tanam paksa. UU ini dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai tindak lanjut atas kemenangan partai Liberal di Belanda, sekaligus menggantikan politik Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan penanaman modal pengusaha Belanda. (di kutip dari buku : Sejarah Nusantara 1800-1942).

Pada pelaksanaannya Agrarische Wet mendukung berdirinya perkebunan-perkebunan besar Belanda di Hindia Belanda, sehingga dapat disebut sebagai upaya menarik modal swasta ke Hindia Belanda. Karenanya terkadi perlawanan di mana-mana. Semisal perlawanan rakyat Aceh tahun 1879 yang dipimpin Cik Di Tiro. Juga ada peristiwa perlawanan   Baba Hasan di Halmahera tahun 1877.

Tak terkecuali di Buton. Peristiwa-peristiwa perlawanan itu mengilhami petinggi Kesultanan Buton menghidupkan beladiri Balaba, dibalik harmonisnya hubungan dengan pemerintahan Hindia Belanda kala itu.
“Yang pasti Balaba adalah pelengkap kehidupan orang Buton, (mungkin) seperti badik bagi etnis Bugis-Makasar, ibarat pendamping hidup. Karena amat disayangkan jika Balaba ini lenyap begitu saja dalam kebudayaan Buton masa kini,” jelas La Ode Munafi.
Tak banyak informasi yang diperoleh tentang sejarah Balaba ini. namun di jagad maya cukup banyak beredar informasi tentang Balaba, ada yang menyebut dirinya sebagai pewaris tunggal seni bela diri Balaba, ada pula yang menulis jika sejumlah tarian di Wakatobi, seperti tari  Honari Mosega oleh tokoh masyarakat Ali Habiu menyebutnya sebagai perpaduan dari seni pencak silat Balaba dengan seni perang yang dikombinasikan gerakannya dalam satu kemasan seni tari disebut Honari Mosega.
almarhum . Drs. H.LM. Halaka Manarfa
Pada zamannya mulai terbentuknya seni tari Honari mosega tersebut  dipakai oleh Raja sebagai pasukan telik sandi atau saat ini dikenal sebagai pasukan intelijen/mata-mata  dipersembahkan kepada para tetamu yang berkunjung ke Keraton Liya.

Namun satu hal yang pasti, seni beladiri Balaba seolah berada di tepi zaman yang tak pasti. Tak ada lagi terdengar tetabuhan gendang pengiring Balaba di balik remang malam di rumah-rumah khas Buton. Tak ada lagi gerak kaki yang menyeret debu dan hentakan telapak tangan. Dan tak lagi terdengar riuh gemuruh kemenangan di pentas pencak negeri.** (ref)

Posting Komentar

0 Komentar