Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Mengembalikan Citra Baubau sebagai Kota Budaya, dan Implementasi Moral bagi Warganya.


17 OKTOBER menjadi catatan sejarah panjang Kota Baubau di Sulawesi Tenggara. Kota yang dalam sejarah kerajan/ kesultanan Buton masa silam adalah jantung peradaban negeri berjuluk khalifatul khamis ini. Sudah 477 tahun nama Baubau terekam dalam sejarah nusantara. Namun baru berbilang 17 tahun dalam posisinya sebagai kota otonom di republik.

Kepemimpinan Kota Baubau saat ini dalam kendali Wali Kota Dr. H. AS.Tamrin, MH dan wakilnya La Ode Ahmad Monianse, memang baru dilantik 24 September 2018 lalu. Tetapi Pak AS. Tamrin telah menjalaninya 5 tahun sebelumnya. Ia cukup punya pengalaman untuk kembali membangun semangat baru dengan wakil barunya itu.

Modalnya sederhana; kebudayaan. Bagi AS Tamrin, di usia Baubau yang ke-477 tahun dan 17 Tahun sebagai kota otonom, budaya menjadi nilai sentral yang dikedepankan untuk membangun salah satu kota tertua d Pulau Sulawesi ini, sekaligus diimplementasikan menjadi prilaku moral bagi jajaran dan segenap warganya.

Liputan dan Laporan Khusus HUT Kota Baubau, Tim ButonMagz, 17 Oktober 2018

TEPUK di pundak AS. Tamrin dari tangan Gubernur H. Ali Mazi menandai melekatnya simbol kepangkatannya sebagai kepala daerah untuk periode kedua dalam masa bakti 2018-2023. Wajahnya pemimpin berkarakter sederhana itu menyemu, matanya terlihat sembab terharu karena warga Baubau memberinya amanah, dan gubernur telah melantiknya.

Di kirinya, berdiri tegak La Ode Ahmad Monianse. Tatapannya lurus ke depan dan meneropong jauh, menunggu proses pelantikannya sebagai wakil Wali Kota Baubau periode 2018-2023. Bagi Monianse-sapaan akrabnya ini jabatan barunya di pemerintahan, kendati sebelumnya ia pernah dipercaya sebagai Direktur PDAM Kabupaten Buton dan PDAM Kabupaten Wakatobi beberapa waktu lalu.

Memang di dunia politik, Monianse bukan pemain anyar, cukup banyak pengalaman telah digelutinya, darii anggota dewan hiingga pimpinan partai politik di lokal Baubau. Itu cerita di hari Senin, 24 September 2018. Baru tiga pekan berlalu dari momen ulang tahun kota ini, 17 Oktober 2018.

Sadar bahwa prosesi pelantikan pemimpin berakronim ‘Tampil Manis’ ini sekadar seremoni penanadaan kepeimpinannya. Jauh lebih penting adalah mewujudkan ide gagasan yang diungkapnya di masa kampanye dulu. Menjadikan Kota Baubau sebagai kota yang maju, sejahtera dan berbudaya. Apalagi ada pesan dari pihak DPRD yang dipimpin H. Kamil Adi Karim, bahwa kota ini segera diakselerasi pembangunannya. Itu terungkap dalam paripurna, 16 Oktober 2018 kemarin sebagai penanda memasuki ulang tahun kota ini ke 477 tahun dan 17 tahun sebagai daerah otonom.

Memang banyak yang menanti sepak terjang ‘tampil manis’ di periode ini, dan itu disadari sang pemimpin. Tetapi Pak AS. Tamrin menyadari, bahwa akselerasi pembangunan dalam hal infrastruktur memang sangat penting, tetapi jauh lebih penting adalah nilai-nilai budaya yang tumbuh subur di kota ini, adalah kekayaan besar yang tak boleh terabaikan. Sebab jika budaya di Baubau menjadi pedoman hidup warganya maka kedamaian dan harmonisasi kehidupan selalu terpelihara.

Dr. H. AS. Tamrin, MH
AS. Tamrin, seorang doktor ilmu pemerintahan, tetapi batinnya sangat penuh irama filosof ke Butonan. Itu yang kemudian gagasan besarnya yang disebut Po-5, akronim dari Po Ma-masiaka (saling menyanyangi), Po Pia-piara (saling memelihara), Po mae-maeaka (saling menghargai), Po Angka-angkataka (saling mengangkat harkat) dan Po  Binci-binciki Kuli (toleransi) – menjadi sangkar pikir membangun manusia dan daerahnya. Po-5 adalah serapan nilai budaya yang ia kembangkan dari falsafah ‘Sara pataanguna’ yang menjadi warisan leluhur Buton masa lalu.

“Kota Baubau makin maju dan harmonis jika kita semua mengamalkan dan mengimplementasikan nilai-nilai budaya Po-5 dalam kehidupan di kota ini. Di sana ada karakter, moral, dan tuntunan kehidupan,” ujar AS Tamrin dalam beberapa kesempatan jelang HUT Baubau.

Pak Tamrin tak pernah bosan membahas nilai-nilai itu. Ia sangat sadar kemajuan Kota Baubau di masa kekinian sangat ditentukan oleh moral dan kemurnian berpikir jajarannya. Po-5 adalah jembatan emas sekaligus lingkup aura setiap diri manusia Baubau. Namun ia juga sadar, jika Po-5 hanya menjadi metawacana belaka jika tak ditunjang dengan tindakan nyata. 

Kepemimpinan AS Tamrin-Monianse memulainya dari hal-hal sederhana berkaitan langsung dengan manusianya, seperti pemakaian atribut kebutonan dalam berbagai aktivitas, menghidupkan nuansa-nuansa kebudayaan di berbagai tempat, dan berprilaku penuh kesantunan dengan siapa saja, agar Kota Baubau tak sekedar tumbuh sebagai kota yang maju tetapi juga punya identitas dan berbudaya.

Dalam sepekan terakhir, Wali Kota dan jajarannya menggelar Baubau Expo 2018. Ia meminta jajarannya agar mempublikasi semua potensi, keunggulan Kota Baubau – agar publik punya harapan besar akan daerahnya. Ia paham Baubau tak sekadar kota tua yang berumur 477 tahun dan 17 tahun sebagai daerah otonom, tetapi kota ini menjadi harapan besar bagi masyarakat di kepulauan Buton, sebagai calon ibukota provinsi -  kelak jika Provinsi Kepulauan Buton itu hadir.

“Jika pemerintah pusat memberi kepercayaan Kota Baubau menjadi tuan rumah even nasional maka kami selalu bersiap. Sebab itu amanah dan kepercayaan sekaligus momentum melakukan penataan perkotaan,” itu ungkapan Wali Kota AS. Tamrin saat pembukaan Kejurnas dayung PPLP/SKO di Lakologou, 13 Oktober lalu.

Dari sana, AS Tamrin tetap menyampaikan obsesinya, bahwa Kota Baubau akan tetap membangun fasilitas Sarana Olah Raga (SOR) berkelas nasional di Lowu-lowu, yang saat ini proposalnya sudah di tangan Menteri Pemuda Olah Raga. Ia juga berobsesi menyelesaikan jalur by pass – Kokalukuna  Baubau, yang kelak menjadi view baru perkotaan, dan beberapa jalur penghubung antar kawasan di kota ini, yang ia sadari tak banyak diketahui publik.

Bicara prestasi Pak AS. Tamrin tak hendak Jumawa. Setelah banyak deret prestasi yang diterimanya di kepemimpinannya 2013-2018, di HUT Kota Baubau ke-17 sebagai daerah otonom, Baubau kembali menerima predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Kementraian keuangan RI, sebagai kado ulang tahun kota ini. WTP adalah predikat tertinggi dan terbaik dalam hal pengelolaan keuangan daerah. “Syukur Alhamdulillah,” kata alumni doktor Ilmu Pemerintahan IPDN Jatinangor 2017 silam.

Wali Kota AS Tamrin berpose bersama Bupati Buton, Bupati Buteng dan Perwakilan Kab. Wakatobi sebagai penerima WTP dari Kementerian Keuangan RI di HUT Kota Baubau ke 17, tanggal 17 Oktober 2018

 Di penghujung tahun 2018, AS. Tamrin didampingi wakilnya La Ode Ahmad Monianse punya obesesi panjang tentang Kota Baubau. Tiga hal yang selalu melekat dalam benaknya bahwa kota ini, harus maju, sejahtera dan berbudaya.

Maju berarti seluruh infrastrukturnya benar-benar mencerminkan wajah perkotaan, diminamika masyarakatnya bergerak kepada kehidupan modern. Sejahtera di indikasikan dengan menurunnya tingkat kemiskinan, cukup kebutuhan pokok dan sejumlah kebutuhan tersier lainnya. Sementara berbudaya berati kehidupan sosial masyarakat Kota Baubau dalam tatapan nilai dan karakter sesuai dengan nilai-nilai Po-5 yang saling menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Tugas Berat Menekan Kemiskinan dan Inflasi Perkotaan
Memang  menyoal kemiskinan perkotaan, tentu banyak melihatnya dari angka kemisinan suatu daerah. Data dari BPS Kota Baubau di tahun 2017 mempresentasekan tingkat penduduk miskin di Kota Baubau mencapai 13,55 ribu jiwa atau 8,32 persen. Angka ini lebih rendah dibanding tingkat penduduk miskin di tahun 2016 dengan mencapai 13,87 ribu jiwa atau sekitar 8,81 persen.

Meski tidak signifikan, angka penduduk miskin di Kota Baubau terus mengalami penurunun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, jumlah penduduk miskin Kota Baubau mencapai 15,05 ribu jiwa. Dan tahun 2014, turun menjadi 14,29 ribu jiwa. Kemudian pada tahun 2015, kembali turun sekitar 0,15 persen menjadi 14,27 ribu jiwa. Pada tahun 2016, kembali mengalami penurunan menjadi 13,87 ribu jiwa dan terakhir pada tahun 2017 turun sekitar 0,49 persen menjadi 13,55 ribu jiwa.


Dari sisi pergerakan ekonomi, Kota Baubau terkadang dihajar capital flight, mengingat tingginya tingkat kebutuhan ekonomi makro d kota ini, disebabkan Baubau menjadi kota penyuplai kebutuhan tudak hanya warga Kota Baubau, tetapi juga daerah-daerah belakangnya (hinterland). Bahkan menyuplai beberapa daerah di kawasn Maluku dan Papua. Kondisi ini kerap membuat ekonomi Baubau mengalami inflasi.

Data bulan Juli 2018 Kota Baubau, Sulawesi Tenggra (Sultra) kembali mengalami inflasi sebesar 1,20 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 138,20. Inflasi 1,20 persen pada Bulan Juli ini membawa Kota Baubau berada pada posisi inflasi tertinggi kedua secara Nasional setelah Kota Sorong dengan nilai 1,47 Persen.

“Inflasi yang terjadi di Kota Baubau disebabkan karena adanya peningkatan nilai IHK yang signifikan pada hampir semua indeks kelompok pengeluaran, kecuali kelompok pengeluaran kesehatan yang justru mengalami deflasi sebesar 1,52 persen,” kata Sudirman, Kepala Badan Pusat Statistik Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) di awal Agustus 2018 lalu.

Dikatakan, adapun besaran inflasi masing-masing kelompok pengeluaran adalah 1,20 persen untuk kelompok pengeluaran bahan makanan, 0,19 persen untuk kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, 0,66 persen untuk kelompok pengeluaran sandang, 0,14 persen untuk kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga serta 5,96 persen untuk kelompok pengeluaran transport, komunikasi dan jasa keuangan.

“Adapun kelompok pengeluaran perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar tidak mengalami perubahan nilai IHK atau dengan kata lain stagnan dibandingkan bulan Juni,” tambah Sudirman.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Juli 2018 antara lain, Angkutan Udara, Tomat Sayur, kacang panjang, Cabe rawit, terong panjang, Ikan Cakalang, Ikan Layang, Ikan Bolu dan tarif pulsa ponsel.
                                                                            **

Baubau di usianya yang ke 17 Tahun sebagai daerah otonom

WALI KOTA AS. Tamrin dalam beberapa pandangannya, menyebutkan usia Kota Baubau sebagai daerah otonom telah berjalan 17 tahun lamanya. “Ibarat manusia, kota ini telah remaja, memasuki usia yang dewasa. Karena itu penduduknya harus berada di rel-rel budaya, berkarakter, selalu memelihara kedamaian antar sesama, dan menjad kota hunian yang nyaman.
Itu sebab visi ‘Tampil Manis’ memiliki tiga dimensi makna yang luas. Pertama, dalam kamus besar bahasa Indonesia itu berarti melangkah kedepan. Artinya sekali melangkah tak boleh mundur. Yang kedua, akronim tampil bermakna Tentram, Aman, Populer, Indah dan Lancar. Dan makna ketiga ini menggambarkan kemistri yang cocok antara Tamrin dan Monianse makanya Tampil-Manis,” papar wali kota.

 

Dari laporan resmi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau, H. Idrus Taufiq Saidi, S.Kom., M.Si menyebutkan Kota Baubau di usianya yang ke 477 tahun dalam peradaban sejarah dan ulang tahunnya yang ke-17 sebagai daerah otonom berausah menjadi kota yang modern, berbudaya, dan sejajar dengan kota-kota lainnya di Indonesia.

Hal itu ditunjukkan dengan kehadiran segala fasilitas perkotaan yang memadai. Seperti ketersediaan Bandar Udara sebagai yang terbaik se Indonesia di tipe klas III. Pelabuhannya pun adalah pelabuhan nasional yang melayani arus penumpang dan jasa dri Barat ke Timur Indonesia, begitu pula sebaliknya. Lainnya di sektor jasa begitu meningkat pesat dari tahun ke tahun, seperti ketersediaan fasilitas perhotelan, dan akomodasi perkotaan yang lebih dari cukup.

“Sekarang ini sudah terbangun hotel berbintang lagi di Baubau, belum lagi sarana prasarana ekonomi dengan cermin perkotaan modern terus hadir di kota ini,” ujar Idrus yang juga putera dari wali kota admiinistratif kedua Baubau, alamarhum Drs. La Ode Saidi.

Khusus untuk penggunaan teknologi informasi, Kota Baubau telah dipersiapkan sebagai kota berkarakter ‘smart city’ dengan ketersediaan pelayanan publik berbasis internet. Dan beberapa sektor-sektor lainnya yang bergerak ke arah kemajuan.

“Hal penting lainnya yang digenjot kepemimpinan Bapak AS.Tamrin dan Bapak La Ode Ahmad Monianse, adalah ketersedian pelayanan infrastruktur dasar bagi warga; pelayanan air bersih,  ketercukupan fasilitas daya listrik, pembenahan beberap sektor-sekor kesehatan, dan peningkatan daya dukung beberapa kawasan pertanian di Kota Baubau. Sekaligus mempertahankan sejumlah orestasi yang pernah diraih, seperti Kota Baubau sebagai kota peraih Tropy Adipura dan penghargaan lainya,” ujar Idrus.

Ketua DPR Kota Baubau, H. Kamil Adi Karim, SP bersama keluarga
Sementara peryataan penting Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse di ulang tahun kota ini adalah implementasi nilai-nilai budaya khususnya Po-5 yang digungkan wali kota AS. Tamrin, menjadi terapan setidaknya bagi penyelenggara pemerintahan, dan juga segenap masyarakatnya. Bagi Monianse, nilai budaya menjadi roh kuatnya sebuah daerah.”cermin besar itu telah kita bangun bersama-sama, dan insha Allah ke depan kita terus melakukan akselerasi pembangunan,” imbuhnya.

Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Ketua DPRD Kota Baubau, H. Kamil Adi Karim. SP yang menyebutkan tahun momentum ulang tahun Baubau di 2018 ini menjadi momentum untuk mengakselerasi pembangunan di Kota Baubau. Karenanya, harus ditopang oleh sumber daya penyelenggara pemerintahan yang profesional, cerdas, cakap, berbudaya dan memiliki sikap loyal pada kepemimpinan.

“Namun jauh lebih penting dari semua itu, Kota Baubau harus dibangun dalam suasana kekompakan, persatuan dan kesatuan yang kuat, sikap saling menghormati, agar negeri ini selalu mendapat berkah dari Allah, SWT. Amin,” ujarnya.

Selamat Hari Jadi Kota Baubau ke 477 dan HUT Kota Baubau ke-17, semoga Kota Baubau, maju, sejahtera dan berbudaya!.


(advetorial - Diskominfo Baubau)

Posting Komentar

0 Komentar