kop

Butonmagz, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

Kasuami, Makanan Khas Pelaut Buton yang Terus Bertahan


HINGGA saat ini makanan tradisional Kasuami asal Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara sangat populer di kalangan masyarakat. Makanan yang terbuat dari ubi kayu ini dapat dibeli bebas di pasar, dan penjaja makanan pada umumnya. Di Kota Baubau, banyak dijumpai di sejumlah tempat, seperti kawasan Jembatan Tengah, Pasar Wameo dan Karya Nugraha. 

Pada cerita bertutur masyarakat (folklore), Kasuami adalah makanan pokok pengganti nasi dan umumnya menjadi makanan khas para pelaut karena daya tahannya, serta tak mudah basi. Banyak yang menyebut asal muasal makanan ini berasal dari kawasan Kepulauan Tukang Besi – kini bernama Wakatobi yang terdiri dari sejumlah pulau-pulau yang berderet memanjang dari utara ke selatan.  Dari Wanci-Kaledupa-Tomia, dan Binongko

Maklum, gugusan pulau Wakatobi berada di Laut Banda. Laut terdalam di Indonesia yang mencapai 7.000 meter. Struktur Pulau Wakatobi terbentuk dari lapisan batu, sehingga sangat sulit tumbuhan hidup subur, kecuali tanaman ubi kayu yang dapat bertahan hidup diantara sela batu-batuan.

Karena hanya ubi yang bisa tumbuh, maka orang Wakatobi mengenal makanan kasuami. Makanan ini dapat bertahan lama antara 14 sampai 20 hari. Bahkan bisa sampai 30 hari, jika ubi kayunya yang sudah diparut belum dikukus. Entah tahun kapan Kasuami ini mulai hadir menjadi makanan pengganti nasi, tetapi popularitasnya merembet dari Wakatobi ke daratan Pulau Buton. Bahkan pelaut-pelaut Buton membawa makanan ini sampai ke Singapura, Pesisir Malaysia dan Filipina. Kasuami ini menjadi bekal makanan selama mengarungi lautan.

Hingga sekarang, para pelaut itu hampir dipastikan membawa bekal kasuami, selain beras dalam pelayarannya, sebab memang paling nikmat disantap bersama dengan ikan laut segar dan colo-colo, pemantik makanan pedas yang menggugah selera.

Cara Membuat Kasuami
Ubi kayu yang ditanam, terlebih dahulu dicabut lalu kemudian dipisahkan antara umbi dengan batang umbi. Setelah itu, ubi kayu dikupas lalu dicuci bersih, hingga kelihatan putih jernih .
Biarkan beberapa menit ubi yang telah dicuci, agar sisa air hilang betul. Setelah kering, barulah kemudian ubi tersebut diparut.

Langkah selanjutnya, ubi yang telah diparut ditiris untuk menghilangkan kandungan air dalam ubi. Cara orang Wakatobi mengilangkan kandungan air, yaitu digepe. Cara tradisionil ini menggunakan kain warna putih yang bahannya cukup tipis. Parutan ubi ditaruh dalam kain tipis itu, lalu dibentuk bundar, menyerupai ban vespa. Orang Wakatobi biasa menyebutnya ka’opi.

Setelah dibentuk, kemudian dijepit sehingga air dalam ubi keluar sampai habis. Setelah proses pemerasan air dalam ubi kayu selesai, maka ka’opi tersebut dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari, hingga betul-betul dianggap kering.
Setelah kering, ka’opi yang belum mau dikonsumi dapat dibungkus dengan daun pisang. Tujuannya agar tidak lembab dan terhindar dari debu atau serangan bakteri perusak. Tujuan lainnya, supaya aroma khas ubi  kayu tidak hilang.

Untuk ka’opi yang mau dikonsumsi langsung, proses selanjutnya adalah dikukus. Sebelum dikukus, biasanya ditumbuk ulang kemudian diayak, agar lebih halus. Tapi yang tidak sempat lagi menumbuk, ka’opi dapat langsung dikukus.

Agar terasa gurih maka biasanya orang mencampur dengan kelapa parut secukupnya, kemudian menambahkan bawang yang telah ditumbuk halus. Maksudnya agar hidangan kasuami mempunyai rasa.

Supaya kasuami ini elok dipandang mata, biasanya dikukus dengan menggunakan cetakan yang terbuat dari daun pandan. Selain berfungsi sebagai bahan cetakan, juga daun pandan dapat memberikan aroma wangi.

Setelah masak dari kukusan, dibaluri minyak goreng sedikit. Lalu kemudian dipukul-pukul dengan botol atau kayu yang bersih. Tujuannya agar kasuami yang telah dikukus dapat lebih padat, sehingga tidak ada rongga udara masuk ke dalam kasuami tadi.** (dari berbagai sumber)

Posting Komentar

0 Komentar