kop

BUTONMAGZ, media online yang tepat untuk mempromosikan usaha Anda. hubungi 082296017297. Kami menyediakan iklan baris dengan paket murah. Rp. 100 ribu per pekan. Transfer ke Rekening ButonMagz No Rek. (135) 004 02.01.000496-6. Kirim iklan Anda ke Whatshapp 0822-9601-7297. Gunakan kesempatan ini!

Busiana Lipu, Cara Komunitas Kaisabu-Buton Berharmoni dengan Alam


Bangsa Buton, mungkin itu cara yang lebih tepat menggambarkan keragaman etnis ini. Sebab Buton bukanlah satu suku ‘ansich’. Di dalamnya terdapat berbagai etnis yang hidup berharmoni dengan alamnya. Salah satu dari mereka adalah sub etnik Kaisabu di Kecamatan Sorawolio Kota Baubau. Mereka punya cara mengharmonisasi diri dengan alamnya. Mereka menyebutnya, Busiana Lipu – makna sederhananya “menyiram kampung”. Seperti apa?

Zul Ahmad, ButonMagz – Baubau

Berbagai etnik dalam diri masyarakat Buton memiliki medium tersendiri untuk berkumpul, membicarakan sekaligus menggelar  hal-hal yang bernuansa adat budaya. Medium itu ada yang disebut Baruga ada juga yang menamakannya Galampa di beberapa tempat.

Baruga lebih dipersepsi sebagai bangunan besar tak berdinding namun ornamennya menyerupai rumah-rumah khas Buton. Bedanya, Baruga dan Galampa dibangun atas swadaya di etnik masing-masing plus bantuan dari pemerintah. Fungsinya sama, tempat menyelenggarakan aktivitas adat budaya, karenanya bangunan ini umumnya menjadi milik bersama dan digerakkan oleh sejumlah tetua kampung. Mereka menyebutnya Parabela.


Dalam beberapa literatur menyebut Parabela sejatinya adalah perwakilan penguasa di zaman kesultanan dahulu di kadie-kadie. Parabela ini juga dibekali katuko’, sejenis tongkat komando kekuasaan yang harus di jaga keberadaannya. Seperti penggunaan Katuko oleh Sara Agung Masjid Agung Keraton Buton, jika keliru meletakkan katuko’ maka jabatan yang disandang siap-siap dilepas, begitu cara orang Buton menghargai kepercayaan rakyat atas kekuasaan yang diamanahkan.

Kadie sendiri di sebut sebagai wilayah otonom dalam Kesutanan Buton. Data sejarah menunjukkan ada 72 Kadie dalam wikayah Kesultanan Buton yang tersebar di empat Barata; Kaledupa, Wuna, Tiworo dan Kulisusu. Barata sendiri banyak diartikan sebagai empat wilayah pertahanan pelindung Kesultanan Buton yang berpusat di Wolio – Kini Kota Baubau.

Diinformasikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau, H. Idrus Taufiq Saidi, S.Kom. M.Si menyebutkan bahwa dalam tataran kekinian -  4 wilayah Barata ini, meliputi seluruh eks kesultanan Buton dari Kawasan Kepulauan Buton sendiri, Kepukauan Tukang Besi di Wakatobi, Pulau Muna dan daratan Sulawesi Tenggara.

Kendati tak ada lagi peristilahan Kadie dan Barata di era kekinian pasca Kesultanan Buton bergabung dengan NKRI, namun ornamen-ornamen budaya masih begitu kental di masyarkatnya. Adat budaya masih teguh dipelihara oleh warganya. Dan ketika menyaksikan adat budaya itu, seolah masuk di lorong waktu ke masa silam.

                                                                              **

SENIN Siang kemarin, 15 Oktober 2018 tepatnya di Kelurahan Kaisabu Kecamatan Sorawolio Kota Baubau, digelar ritual budaya yang disebut ‘Busiana Lipu’. Acara ini rutin digelar setiap tahun jelang hari jadi Kota Baubau.

Busiana Lipu, adalah ornamen budaya masyarakat Kaisabu yang bermakna ‘menyiram kampung’ atau pemanjatan doa syukur kepada Allah SWT atas segala keberkahan yang diberikan, berupa kesuburan tanam-tanaman, dan kesehatan para warganya. Ritual ini digekar berkelompok dengan busana khas kadie di zaman kesultanan Buton dahulu, dan berpusat di Baruga atau Galampa.

Dijelaskan seorang tetua adat di sana, jika prosesi Busiana Lipu dimulai dengan penyiraman kubur tua yang ada di Kaisabu oleh sejumlah tetua adat dan parabela, namun tidak diikuti oleh masyarakat umum. “Nanti di Baruga baru ada pembacaan doa syukur kepada Allah SWT dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai kalangan. Juga ada pementasan seni tari Linda dan Manca’ – silat khas Buton yang diperagakan oleh tetua dan pemuda di kawasan itu,” ujar Dani Ebas, salah seorang tokoh masyarakat Kaisabu.

Ada indikator alam terjadi jika Busiana Lipu itu usai digelar. “Biasanya malam hari setelah acara adat itu maka turun hujan, biar sedikit atau tidak terlalu lama. Kami di Kaisabu memaknainya sebagai rahmat dari Allah SWT,” ujarnya.

Ketika proses Busiana Lipu berjalan, aroma mistis terasa ke mana-mana, karena tetabuhan gendang yang dimainkan para tetua adat iramanya berbeda dengan tetabuhan gendang pada umumnya yang lebih rancak dan menyentak. Ia lebih pelan, dengan irama tertentu mengiringi penari Linda. Tarian yang tak banyak gerakan, sekedar meliuk-liuk di tempat dengan mengangkat bilah tangan yang berhias selendang, sementara  salah satu kaki menjinjit dan kaki lainnya menopang. Begitu saja. Tetapi gerak penanrinya mengigatkan pada tarian Nyi Roro Kidul di Kesultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Di Jawa sana.

Dalam beberapa literatur menyebutkan, Tarian Linda adalah khas dari etnik Cia-cia (Buton) tetapi ada juga yang menyebutnya berasal dari Muna - berusia ratusan tahun, dan punya aturan main di dalamnya.  menurut etimologi penamaan Linda berasal dari bahasa Daerah Muna dan Buton yang berarti menari berkeliling, laksana burung yang terbang, berkeliling dengan sayap yang terkembang indah.

Sebenarnya ritual Busiana Lipu ini tidak terlalu lama, sebab lebih pada pemanjatan doa khas Islam, dimulai dengan bacaan Ummul Quran dan sejumlah ayat-ayat pada umumnya. Ada doa tentang keselamatan negeri, kesehatan dan kedamaian penduduknya, dan doa untuk para pemimpinnya. Jadi sangat islamis. Jauh dari persepsi klenik.

Usai doa ada sambutan-sambutan dari tetua dan pihak pemerintah setempat. Mewakili Pemerintah daerah adalah Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Kota Baubau, La Ode Aswad, S.Sos., M.Si yang banyak mengapresisasi acara ini.

“Ritual ‘Busiana Lipu’ bagi warga Kaisabu dalam bentuk penghargaam terhadap alam sekitarnya, nikmat atas kedamaian dan kenyamanan di dalam kampung halaman. Oleh karena itu Busiana Lupu merapakan warisan budaya yang turun temurun, sejatinya kita lestarikan tidak hanya bagi pemngembangan pariwisata Kota Baubau, tetapi juga Baruga ini menyatukan kita dari berbagai lapis dan golongan,” ujarnya.

La Od Aswad juga mengajak semua pihak, khususnya warga Kaisabu untuk bersatu kembali pascapilkada beberapa waktu lalu. “Saatnya bersatu kembali, bahu membahu membangun negeri dan bersama-sama memajukan Kota Baubau,” imbuhnya.

Setelah seluruh prosesi budaya digelar, dilanjutkan dengan menikmati panganan bersama sebagaimana halnya budaya pekakande-kandea dalam peradaban masyarakat Buton. Acara ini berlangsung meriah dengan kehadiran segenap anggota masyarakat. Juga tampak anggota DPD-RI, Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc hadir bersama-sama segenap pejabat lingkup Pemkot Baubau dan anggota Forkompimda di daerah ini. Beberap diantaranya juga warga negara asing, seperrt dari Australia dan Inggris hadir di acara ini.**