Butonmagz.ID, media online paling menguntungkan untuk promosi usaha Anda di kawasan Kepulauan Buton. Hub. 0822-9601-7297

TRADISI-TRADISI TEORI KOMUNIKASI

Belajar Ilmu Komunikasi, tentunya tidak terlepas dari teori komunikasi. Robert T. Craig berpendapat bahwa semakin banyak teori yang diketahui, semakin banyak pula pilihan untuk memecahkan masalah. Kemudian Craig membagi dunia komunikasi kedalam tujuh tradisi pemikiran, yaitu :

Tradisi Semiotik
Tradisi semiotik adalah teori yang berfokus pada penyelidikan simbol-simbol yang terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda menginterpretasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi diluar tanda-tanda itu sendiri.

Gagasan utama dalam tradisi ini adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakan atau menunjukan beberapa kondisi lain, seperti adanya asap menandakan adanya api.Konsep yang kedua adalah simbol dapat menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti, termasuk arti yang sangat khusus.

Kebanyakan pemikiran semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan bahwa arti muncul dari hubungan diantara tiga hal, yaitu benda (yang dituju), manusia (penafsir), dan tanda. Semiotik kemudian dibagi kedalam tiga wilayah kajian, yaitu semantik, sintaktik, dan pragmatik. Semantik berbicara tentang bagaimana tanda-tanda berhubundan dengan yang ditunjukanya atau apa yang ditunjukan oleh tanda-tanda. Sintaktik mengkaji hubungan diantara tanda-tanda, karena tanda tidak bisa berdiri sendiri. Kemudian kajian Pragmatik, yang memperlihatkan bagaimana tnda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda pada kehidupan sosial.

Tradisi FenomenologisIstilah phenomenon mengacu pada kemunculan sebuah benda, kejadian, atau kondisi yang dilihat, sehingga fenomenologi adalah cara untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung, seperti yang diungkapkan oleh Maurice Merlau-Ponty, semua pengetahuan akan dunia, bahkan pengetahuan ilmiah diperoleh dari beberapa pengalaman akan dunia.

Keragaman dalam tradisi fenomenologis

Ada tiga kajian umum dalam tradisi fenomenologis, yaitu :

Fenomenologi klasikFenomenologi klasik yang diperkenalkan oleh Edmund Husserl menekankan bahwa kebenaran dapat diyakinkan melalui pengalaman langsung saat mengalami segala sesuatu. Fenomenologi ini bersifat objektif, karena dunia dapat dialami tanpa membawa kategori pribadi seseorang dalam prosesnya.

Fenomenologi PersepsiFenomenologi Persepsi yang diperkenalkan oleh Maurice Merlau Ponty menerangkan bahwa manusia merupakan sosok gabungan antara fisik dan mental yang menciptakan makna di dunia. Manusia tahu tentang segala sesuatu yang terjadi karena ada hubungan pribadi dengan sebuah benda. Manusia mempunyai pengalaman dan makna yang berbeda-beda terhadap dunia, sehingga pengalaman fenomenologisnya agak subyektif.

Fenomenologi HermeutikHermeutik sering dikaitkan dengan Martin Heidegger yang terkenal dengan filosofi Hermeutic of Dasein atau interpretasi keberadaan. Fenomenologi ini mementingkan pengalaman alami yang tidak terelakan terjadi dengan hanya tinggal di dunia. Baginya, realitas sesuatu tidak diketahui dengan analisis yang cermat atau pengurangan, melainkan oleh pengalaman alami yang diciptakan oleh pengguna bahasa sehari-hari.

Tradisi Sibernetika
Sibernetika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang didalamnya banyak orang saling berinteraksi, mempengaruhi satu sama lainnya. Teori ini menjelaskan bagaimana proses fisik,biologis,sosial, dan perilaku bekerja. Komunikasi dalam hal ini dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, membentuk serta mengontrol karakter keseluruhan sistem, dan layaknya organisme, menerima keseimbangan dan perubahan.

Gagasan utama dalam terori ini adalah adanya ide sistem atau seperangkat komponen-komponen yang saling berinteraksi,yang bersama-sama membentuk sesuatu yang lebih dari sekedar sejumlah bagian-bagian. Misalnya saja keluarga, anggotanya tidak terpisah satu dengan yang lainnya dan hubungan mereka harus diperhitungkan, supaya keluarga dapat dipahami dengan baik sebagai sebuah sistem. Keluarga mempunyai ciri-ciri yang dapat membentuk suatu hubungan. 

Bagian apapun dari sebuah sistem selalu saling tergantung dengan bagian-bagian lainnya dan bentuk saling ketergantungan inilah yang mengatur sistem itu sendiri. Namun sistem tidak akan bertahan tanpa mendatangkan asupan-asupan baru dalam bentuk input. Karenanya, sebuah sistem mendapatkan input dari lingkungan, memproses dan menciptakan timbal balik berupa hasil kepada lingkungan. Input dan output terkadang berupa materi-materi nyata atau berupa energi dan informasi. Karena sifat ketergatungan inilah yang kemudian sistem memiliki ciri khas berupa regulasi, diri dan kontrol. Dengan lain kata, monitor sistem, mengatur dan mengontrol keluaran mereka agar stabil serta mencapai tujuan.

Tradisi Sosiopsikologis
Tradisi ini merupakan sebuah kajian individu sebagai makhluk sosial yang berfokus ada perilaku sosial individu, variabel psikologis, efek individu, kepribadian dan sifat, persepsi, serta kognisi. Walau banyak perbedaan, teori ini sama-sama memperhatikan perilaku dan sifat-sifat pribadi serta proses kognitif yang menghasilkan perilaku.

Gagasan yang penting dalam pendekatan ini adalah teori mengenai sifat, yang mengidentifikasikan variabel kepribadian serta kecenderungan-kecenderungan pelaku komunikasi yang mempengaruhi bagaimana individu bertindak dan berinteraksi.

Dalam tradisi sosiopsikologis dapat dikelompokkan menjadi 3 cabang besar, yakni: perilaku, kognitif dan biologis.  Dalam level perilaku, teori berkonsentrasi pada bagaimana manusis berperilaku dalam situasi-situasi komunikasi. Teori ini berkisar pada sifat pribadi, perbedaan situasi, dan pembelajaran. Hingga tanhun 1960-an, ada penelitian mengenai stimulus dan respon. Jika dalam  perilaku tertentu mendapat penghargaan, maka perilaku akan diulang, dan sering disebut sebagai pembelajaran (learning), sedangkan jika perilaku tertentu diberikan hukuman, maka perilaku tersebut akan berhenti (unlearn). Pada tataran kognitif, teori berpusat pada bentuk pemikiran, bagiamana individu memperoleh, menyimpan, dan memproses informasi yang menghasilkan output perilaku. Dengan kata lain, apa yang dilakukan pelaku komunikasi tidak hanya pada bentuk stimulus-respon, tapi juga pada operasi mental yang dilakukan untuk mengelola informasi.

Variabel yang ketiga adalah biologis, sebuah kajian genetik mengenai fungsi dan struktur otak, neurochemistry, dan faktor-faktor genetik dalam menjelaskan perilaku manusia. Teori ini mulai dikenal di era 1990 dengan sebutan psikobiologis.

Tradisi Sosiokultural
Pendekatan sosiokultural pada teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara intereaktif dalam komunikasi.

Tradisi ini memfokuskan diri pada bentuk-bentuk interaksi antar manusia daripada karakteristik individu atau model mental. Interaksi disini merupakan proses dan tempat makna,peran,peraturan,serta nilai budaya yang dijalankan. Ada bebrapa sudut padang dalam teori ini, antara lain:

Interaksi Simbolis (symbolic interactionism)Paham interaksi simbolis berasal dari kajian sosiologis Herbert Blumer dan George Herbert Mead yang menekankan pentingnya observasi partisipan dalam kajian komunikasi sebagai cara dalam mengeksplorasi hubungan-hubungan sosial.

Konstruksionisme (construktionism)Sudut padang konstruksionisme diperkenalkan oleh Peter Berger dan Thomas Luckmann, yang menyelidiki tentang bagiamana pengetahuan manusia dibentuk melalui interaksi sosial. Identitas benda dihasilkan dari bagaimana kita berbicara tentang objek, bahasa yang digunakan untuk menangkap konsep kita, dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diri pada pengalaman umum mereka.

SosiolinguistikSosiolinguistik merupakan kajian mengenai bahasa dan budaya. Yang penting dalam tradisi ini adalah manusia menggunakan bahasa berbeda dalam kelompok sosial yang berbeda. Dalam kajian ini, bahasa juga masuk kedalam bentuk yang menentukan jati diri kita sebagai makhluk sosial dan berbudaya.

Filosofi bahasaPendekatan ini erat kaitannya dengan sosiolinguistik. Filosofi bahasa diperkenalkan oleh filsuf Ludwig Wittgenstein yang memandang bahwa makna bahasa bergantung pada penggunaan nyatanya.

EtnografiEntografi melihat bentuk-bentuk komunikasi yang digunakan dalam kelompok sosial tertentu, kata-kata yang mereka gunakan, maknanya bagi mereka, dan makna-makna bagi keragaman perilaku,visual, dan respons audio.

EtnometodologiKomponen terakhir yang mempengaruhi tradisi sosiokultural adalah entnometodologi atau observasi cermat akan perilaku-perilaku kecil dalam situasi-situasi nyata. Pendekatan ini diperkenalkan oleh Harold Gardinkel yang bertujuan untuk melihat bagaimana kita mengelola dan mnghubungkan perilaku interaksi sosial pada waktu tertentu.

Tradisi Kritis
Tradisi kritis berangkat dari pertanyaan-pertanyaaan akan keiistimewaan dan ekekuatan dalam komunikasi. Teori ini menyangkut bagaimana kekuatan, tekanan dan keitimewaan sebagai hasil dari bentuk-bentuk komunikasi tertentu masyarakat.

Ada banyak cabang teori kritik, yaitu maxisme, the Frangkut School of critical theory, post-modernisme, kajian budaya, post struktiralisme, post-kolonialisme, dan kajian feminis.Dalam teori kritik, Marx dan Friedrich Engels dalam karyanya maxisme mencadi induk dalam teori ini. Menurut Marx, cara-cara produksi masyarakat menentukan sifat dasar dari masyarakat. Oleh karena itu, ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Teori marxisme dalam praktik-praktik komunikasi dilihat sebagai hasil dari tekanan antara kreatifitas individu atau desakan sosial dengan bebas mengekspresikan diri dengan kejelasan dan alasan, Frangfurt Scholl adalah cabang kedua dari teori kritik yang melihat kapitalisme sebagai tahap evolusi perkembangan sosialisme dan kekuatan komunikasme. Namun dalam perkembangannya, Frangfurt School dikiritk karena menolak budaya pop, dan pembebasan aktivisme dan intelektualisme.

Post modernisme, ditandai oleh perpecahan antara modernitas dan proyek pencerahan. Tahun 70-an, postmodernisme menolak elitisme, puritanisme dan sterilitas rasional karena pluralisme, relativitas, kebaruan (novelty), kompleksitas dan kontradiksi.

Kajian budaya (cultural studies), dihubungkan dengan ragam post modernisme dalam tradisi kritik. Para ahli kajian budaya, sama-sama membahas ideologi yang mendominasi sebuah budaya, tapi memfokuskan pada perubahan sosial dari hal yang menguntungkan dalam budaya itu sendiri, untuk mempermudah pergerakan budaya seperti yang telah diperlihatkan dalam kehidupan sosial, hubungan kelompok dan kelas, institusi dan politik, serta ide dan nilai. Nilai-nilai kajian budaya yang umum dan dipinggirkan menjadi pendorong utama di balik minat ilmiah yang berkelanjutan pada permasalahan tersebut.

Post strukturalisme menurut Jaques Derrida (1966) adalah penolakan akan universalisasi makna yang ditentukan oleh desakan-desakan struktural, kondisi-kondisi dan simbol yang tetap. Malahan para ahli menghubungkan pendekatan historis dan sosial terhadap sifat dunia serta manusia yang masing-masing maknanya ditentukan dalam produksi dinamis dan mencair serta pengaruh spesifik dari simbol-simbol untuk momen sejarah.

Teori post kolonialisme adalah gagasan yang dikemukkan oleh Edward Said, bahwa proses penjajahan menciptakan “kebedaaan” yang bertanggung jawab bagi gambaran yang distereotipkan pada populasi bukan kulit putih. Post kolonial juga merupakan proyek post modern dalam mempertanyakan bahwa hubungan histori, nasional dan geografis serta penghapusan dibuat eksplisit dalam wacana.

Kajian feminis, didefinisikan secara beragam mulai dari pergerakan untuk menyelamatkan hak-hak wanita sampai semua bentuk usaha penekanan. Para ahli feminisme memulainya dengan fokus pada gender dan mencari perbedaan antara seks, sebuah kategori biologis dan gender, sebuah konstruksi sosial. Feminis berusaha menawarkan teori-teori yang memusatkan pada pengalaman wanita dan untuk membicarakan hubungan antara kategori-kategori gender dan sosial lainnya, termasuk ras, etnik, kelas dan seksualitas.

Tradisi Retoris

Dalam perkembanganya, retorika bukan hanya seni berdialaog atau berbicara di depan publik, teori ini mempunyai makna yang berbeda dari masa-ke masa. Pada zaman klasik, abad 5 sampai abad 1 sebelum masehi, teori ini didominasi oleh usaha-usaha untuk mendefinisikan dan menyusun peratuan dari seni retorika. Pada zaman pertengahan (400-1400M) retorika berfokus pada penyusunan dan gaya. Augustine, seorang pakar retorika zaman pertengahan mengungkapkan bahwa pelaku reotrika harus dapat mengajar, menyenangkan, dan bertindak konsepsi.

Renaissance (1300-1600 M), memandang sebuah kelahiran kembali dari retorika sebagai filosofi seni. Para penganut humanisme yang tertarik dan berhubungan dengan semua aspek dari manusia, biasa menemukan kembali teks retorika klasik dalam sebuah usaha untuk mengenal dunia manusia.

Pada Zaman Pencerahan retorika dibatasi karena gayanya, memunculkan pergerakan belles lettres (surat-surat indah atau menarik). Belles lettres mengacu pada karya sastra dan semua karya seni murni: retorika, puisi, drama, musik dan bahkan berkebun, dan semuanya dapat diuji menurut kriteria estetika yang sama. Zaman Pencerahan (1600-1800 M), para pemikir seperti Rene Decartes, mencoba untuk menentukan apa yang dapat diketahui secara absolut dan objektif oleh pikiran manusia

Retorika Kontemporer (Abad XX), menunjukkan sebuah kenaikan pertumbuhan dalam retorika ketika jumlah, jenis dan pengaruh simbol-simbol meningkat. Ketika sebuah abad dimulai dengan sebuah penekanan pada nilai berbicara di muka umum bagi masyarakat yang ideal, penemuan media massa menghadirkan fokus baru dalam visual dan verbal.

Daftar Pustaka :
Stephen W. Littlejohn dan Karen A.Foss, Teori Komunikasi (Edisi 9), Penerbit Salemba Humanika, Jakarta Selatan, 2011, halaman 51-91

Posting Komentar

0 Komentar